Friday, March 30, 2018

PERHATIKAN KODE STIKER DI BUAH YANG ANDA BELI, JANGAN MEMBELI YANG AWALANNYA 8

Pernahkah anda berpikir jika stiker yang ada di buah-buahan yang kita beli di supermarket ini ternyata ada maknanya? Tak hanya menjadi tanda produksi atau label merek produsen buah tersebut, angka-angka pada stiker ini ternyata ada artinya. Seperti apakah arti dari angka-angka tersebut?
Angka pada stiker buah ini disebut sebagai kode PLU. Kode ini bisa menjelaskan dimana buah ini diproduksi, bagaimana proses buah ini tumbuh, jenis buah, dan berbagai keterangan lainnya. Biasanya, angka stiker yang bisa berupa 4 digit dan 5 digit ini juga menandakan bahwa buah-buahan tersebut diimpor dari negara lain.
Dimulai dengan angka 9
Jika kode PLU ini terdiri dari 5 digit angka dan dimulai dengan angka 9, maka buah dengan stiker ini dianggap sebagai yang paling baik untuk kita pilih. Produk buah dengan awalan angka 9 ini ditanam secara organik tanpa menggunakan bahan pestisida lainnya sehingga sangat aman untuk dikonsumsi.
Dimulai dengan angka 8
Jika kode PLU ini terdiri dari 5 digit angka dan dimulai dengan angka 8, ada baiknya kita tidak memilihnya karena buah ini diproduksi dengan genetically modified organism (GMO) yang berarti sudah direkayasa secara genetik. Hal ini berarti, buah ini bukanlah buah alami dan dikhawatirkan memiliki kandungan yang kurang baik bagi tubuh.
Diawali dengan angka 3 atau 4
Jika kode PLU pada buah terdiri dari 4 digit dan dimulai dengan angka 3 atau 4, maka buah ini adalah hasil produk tradisional namun masih menggunakan penyubur tanaman, pestisida, atau bahan kimia lainnya sehingga sebaiknya dibersihkan terlebih dahulu sebelum dikonsumsi.
Melihat adanya fakta ini, sudah tahu kan buah mana yang sebaiknya kita beli?


-doktersehat.com

Renungan Pagi 31 Maret 2018


“POTRET KASIH ALLAH”
31 Maret 2018

Yehu Sang Pemburu

“Nabi muda itu menuang minyak ke atas kepala Yehu serta berkata kepadanya: “Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Telah Kuurapi engkau menjadi raja…Maka engkau akan membunuh keluarga tuanmu Ahab” (2 Raja-raja 9:6,7).

Penyembahan kepada Baal menjadi-jadi di Israel, terutama karena pengaruh Raja Ahab dan istrinya, Izebel. Saatnya telah tiba untuk sebuah perubahan—yang radikal. Elisa mengirim salah seorang anak para nabi kepada Yehu untuk memulai reformasi.

Nabi yang masih magang itu melihat Yehu bergaul akrab dengan para perwira militer, maka ia mengajak Yehu ke dalam kamar dan mengurapinya di sana. Ketika Yehu kembali, ada minyak menetes dari rambutnya. Setelah dibujuk-bujuk oleh para perwira itu, akhirnya Yehu menjelaskan bahwa ia baru saja diurapi menjadi raja Israel. Dengan bersemangat, para perwira itu mengakui kedudukan Yehu dan mengumumkannya, “Yehu raja!” (2 Raj.9:13).

Yehu menjalankan tugasnya dengan serius dan segera mengumumkan perubahan. Pertama, ia membunuh Yoram, raja Israel yang lama, yang baru pulang dari Yizreel untuk mengobati luka-lukanya. Kedua, ia juga menyuruh pembantunya untuk membunuh Ahazia, raja Yehuda, yang kebetulan sedang mengunjungi koleganya, Raja Yoram. Berikutnya, Yehu menyuruh orang untuk membunuh Izebel dan memberikan jasadnya kepada anjing-anjing kelaparan. Kemudian para pengikutnya membantai 70 orang anak Ahab di Samaria. Kelima, Yehu membunuh seluruh bertugas yang ada sangkut pautnya dengan pemerintahan Ahab. Keenam, ia memerintahkan pembunuhan atas 42 orang kerabat Raja Ahazia. Ketujuh, Yehu membunuh sisa kerabat Ahab yang tinggal di Samaria. Dan terakhir, Yehu berpura-pura menjadi penyembah Baal di kuil Baal, lalu mengeksekusi mereka semua.

Orang berpikir bahwa pembunuhan sekian banyak orang yang dilakukan oleh Yehu adalah sesuatu yang berlebihan. Namun dengan cara itu, “Yehu memunahkan Baal dari Israel” (2 Raj.10:28). Tapi di balik kegigihannya dalam menyapu bersih keluarga Ahab, kerabat Ahazia, dan penyembah-penyembah Baal, “Yehu tidak menjauh dari dosa-dosa Yerobeam bin Nebat, yang mengakibatkan orang Israel berdosa pula, yakni dosa penyembahan anak-anak lembu emas yang di Betel dan yang di Dan” (ay.29). Apakah kegigihannya memerangi satu hal membuatnya lengah dalam hal lainnya?

Umumnya kita sangat mudah terjebak ke dalam ekstremitas. Kita pasti mengenal ada orang yang sangat bersemangat menjadi penggiat kesehatan—bahkan hingga ke tingkat ekstrem—tetapi kurang terhormat dalam, katakanlah bidang etika dan moral. Akan sangat terpuji kiranya bila kita dapat konsisten dalam seluruh aspek kehidupan.

Thursday, March 29, 2018

Dosaku Memisahkanku Dari Allah

Dosa telah merusak hubungan kita dengan Tuhan. “Tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.” (Yesaya 59:2).
Semua orang telah melanggar hukum Allah yang sempurna dari cinta. “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.(Roma 3:23). Kecuali terjadi sesuatu, kita semua ditakdirkan untuk mati. “Karena upah dosa adalah maut …” (Roma 6:23).
Seorang musuh bernama Iblis datang ke dunia kita dan menggoda pasangan pertama, Adam dan Hawa, mempercayai kebohongan. Musuh meyakinkan mereka untuk berpikir bahwa Tuhan tidak baik. Mereka memilih untuk berpaling dari Tuhan dan percaya Setan. Itu adalah kesalahan serius karena mereka memisahkan diri dari sumber semua cahaya dan kehidupan. Pilihan mereka menakdirkan planet kita dan semua orang untuk berada di bawah penguasa baru, Setan, yang akhirnya akan menghancurkan semua orang. Kecuali seseorang menengahi.
Sumber : http://amazingfacts.id

Tuhan Mengasihiku

Alkitab memberitahu kita, “Allah adalah kasih!” (1 Yohanes 4:8). Tuhan adalah Pencipta kita dan peduli banyak tentang kita. “Lihat berapa banyak Bapa telah mengasihi kita? Kasih-Nya begitu besar bahwa kita disebut anak-anak Allah “(1 Yohanes 3:01).
Tuhan ingin Anda untuk memiliki kehidupan yang bahagia. “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11)
Mungkin Anda pernah mengalami saat-saat dalam hidup Anda ketika Anda bertanya-tanya, “Apakah semua ini nyata?” Mungkin Anda pernah merasa ada sesuatu yang hilang dan merasa kerinduan untuk memahami tujuan kehidupan hidup Anda! Beberapa orang merasa kekosongan dalam hati mereka dan tampak tidak ada yang dapat mengisinya. Lainnya bertanya-tanya, “Dari mana aku berasal?” Atau “Mengapa ada begitu banyak kebencian dan kejahatan di dunia ini?”
Alkitab mengatakan kepada kita ada Allah yang penuh kasih dan penyayang yang menciptakan dunia kita untuk memiliki hubungan yang bermakna dan menyenangkan dengan kita. Planet kita pada awalnya diciptakan dengan sempurna. Tidak ada kematian atau sakit, tidak ada air mata tercurah atas hubungan yang rusak. Semuanya berfungsi secara harmonis.
Sumber : http://amazingfacts.id

Yesus Menghubungkan Saya Kembali Kepada Allah

Karena kasih Allah yang besar bagi Anda, Yesus rela mengambil upah dosa atas diriNya. Kristus mati sehingga manusia bisa hidup kekal dan tidak binasa. Kehidupan Yesus tanpa dosa meliputi kehidupanku yang berdosa sehingga aku dapat memiliki hidup kekal – keselamatan.
Kematian Kristus diterima oleh Allah sebagai pembayaran penuh untuk semua dosa masa lalu saya. “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.”(2 Korintus 5:21).
Seseorang menjadi pengantara bagi kita. Meskipun orang tua pertama kita berpaling dari Tuhan dan percaya kebohongan, Tuhan menyediakan jalan keluar, sebuah rencana untuk menyelamatkan manusia dari kehancuran dan kematian kekal. Yesus Kristus, Anak Allah, memilih untuk mengambil hukuman melepaskan diri dari Allah. Dosa adalah berbalik dari hukum cinta dan kehidupan Allah dan hasil dari dosa adalah maut. Yesus, yang setara dengan Allah, rela menyerahkan nyawa-Nya, mati untuk dosa seluruh dunia. Dia memberikan hidup-Nya yang sempurna dan pengorbanan untuk kehidupan kita yang penuh dosa dan telah rusak.
Yesus menawarkan karunia keselamatan bebas. Ini bukan sesuatu yang bisa kita beli tetapi hanya dengan menerimanya. Kita pantas mati karena kita semua telah berdosa dan berbalik dari Tuhan. Yesus membentangkan kehidupan kekal bagi kita. Manusia tidak harus menjalani hidup berarti yang berakhir dengan keputusasaan dan kematian. Tuhan ingin untuk mengembalikan manusia ke dalam suatu hubungan yang memberi hidup dan member imanusia hati baru yang menginginkan Tuhan dan berbalik ke arah kehidupan.
Hadiah keselamatan gratis ini bisa menjadi milik kita jika saja kita mau menerimanya.
Sumber : http://amazingfacts.id

Bagaimana Saya Menerima Yesus Ke Dalam Kehidupan Saya?

Ketika saya menerima kematian Kristus, sebagai hadiah, saya menjadi anak Allah. “Karena upah dosa adalah maut, tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Roma 6:23).
Apakah arti kematian Yesus di kayu salib berarti dalam hidup saya? “Untuk semua orang yang menerima dia, yang percaya dalam nama-Nya, ia memberi kuasa untuk menjadi anak-anak Allah” (Yohanes 1: 12 RSV). Jika Anda ingin menerima Kristus ke dalam hidup Anda sekarang, ikuti langkah-langkah sederhana: 
  1. Sadari Anda harus mati. “Upah dosa adalah maut …” (Roma 6:23).
  2. Sadarilah Anda tidak dapat menyelamatkan diri sendiri. “Tanpa Aku (Tuhan), kamu tidak dapat melakukan apa-apa” (Yohanes 15:5).
  3. Bertobat dan mengaku kepada Allah bahwa Anda adalah orang berdosa. “Semua orang telah berbuat dosa …” (Roma 3:23).
  4. Percaya Yesus mati untuk dosa-dosa Anda. “Karena Allah begitu mengasihi dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan …” (Yohanes 3:16).
  5. Percayalah bahwa Yesus mengampuni dosa Anda. “Jika kita mengaku dosa kita maka Ia adalah setia dan adil untuk mengampuni dosa-dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (1 Yohanes 1:9)
  6. Percayalah bahwa Anda memiliki hidup yang kekal. “Siapa yang percaya kepada-Ku memiliki hidup yang kekal” (Yohanes 6:47).
Sekarang hidup dalam iman setiap hari dalam cara hidup Anda yang baru. ” Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia.”
(Kolose 2:6).


Jika seseorang memberi Anda hadiah, itu bukan milikmu sampai Anda menerimanya. Yesus mengulurkan kepada Anda karunia keselamatan, tetapi bagaimana Anda menerimanya? Alkitab mengatakan kepada kita bahwa kita harus terlebih dahulu merasakan kebutuhan kita akan Kristus. Ini datang sebagai Roh Kudus yang berbicara kepada hati nurani kita dan kita menyadari dosa-dosa kita yang telah memisahkan kita dari Allah. Kemudian kita dituntun untuk bertobat dari dosa-dosa kita, yang berarti kita mengakui dalam hati kita bahwa pilihan kita yang salah telah melukai Kristus dan menghancurkan hidup-Nya di kayu salib.


Bertobat artinya menjadi begitu muak dengan cara hidup kita yang lama, kita berpaling darinya dan mencari cara baru dalam Yesus. Kita mengakui dosa kita kepada Allah dalam doa dan mengatakan kepada Tuhan bahwa kita sangat menyesal. Ketika kita datang di hadapan Allah, dengan hati hancur karena pilihan kita yang penuh dosa, dan mengakui keberdosaan kita, kita dapat mengklaim janji Tuhan untuk mengampuni kita dan membuat hati kita bersih. Kita dapat dipulihkan kembali ke dalam hubungan yang benar dengan Allah, persahabatan yang membawa kita pada kehidupan, cinta dan sukacita.
Anda dapat mengetahui Anda telah menerima karunia keselamatan ketika Anda menerimanya dengan iman.
Sumber : http://amazingfacts.id

Hidup Baru Di Dalam Kristus

Ketika saya bergabung dengan keluarga Allah, bagaimana kasih Tuhan mengubahkan hidup saya? “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (2 Korintus 5:17). Ketika seseorang menerima Kristus, sifat dosa lama akan hancur.
Yesus memberi orang Kristen baru kehidupan rohani yang baru. Kemudian orang Kristen membenci kehidupan lama yang berdosa. Orang Kristen baru mulai mengalami kebebasan dari rasa bersalah dan menyadari betapa kosong hidupnya tanpa Kristus. Dalam satu menit Allah membuktikan kebahagiaan lebih dari seumur hidup melayani Iblis. Mengapa aku menunggu begitu lama untuk menerima kasih Allah?
Setelah kita benar-benar mengaku dosa kita kepada Tuhan dan meminta Tuhan untuk mencuci hati kita hingga bersih, kita harus memilih untuk percaya ini benar-benar telah terjadi. Kita harus memiliki iman dan berkata, “Tuhan berjanji untuk menghapus dosa saya. Saya percaya bahwa telah terjadi dan sekarang saya berterima kasih kepada Yesus untuk pekerjaan yang Dia lakukan di hati saya. “Bahkan jika iman kita kepada Allah adalah lemah atau kecil, Tuhan ingin kita untuk melaksanakan keyakinan kita dalam karunia keselamatan. Saat kita berjalan dalam keyakinan baru, ia akan tumbuh lebih kuat setiap hari.
Seperti hubungan duniawi yang tetap kuat, kita harus menjaga hubungan kita dengan Tuhan. Hal ini terjadi dengan mempelajari Alkitab, cara utama Tuhan telah diwahyukan kepada kita. Kita juga dapat berbicara dengan Allah dalam doa dan merenungkan cara Yesus menuntun hidup kita. Pertemuan dengan orang Kristen lainnya dan berbagi bagaimana Tuhan bekerja dalam hidup kita dengan orang lain juga akan menjaga keyakinan kita dalam Tuhan yang kuat.
Jadi, jika Anda belum memberikan hati Anda kepada Tuhan dan merasa siap untuk mengambil langkah itu, Anda dapat berlutut di depan komputer Anda dan berdoa doa ini dari hati Anda:
“Ya Tuhan, aku menyadari bahwa Engkau mencintaiku dan ingin memiliki hubungan dengan aku. Tapi aku telah belajar bahwa aku orang berdosa dan jahat, pilihan dan tindakanku menyebabkan kematian. Aku mengaku dosaku kepadaMu. Datanglah ke dalam hatiku dan menghapus semua dosa dan mengisiku dengan kasih-Mu. Karena Yesus Kristus menanggung dosa-dosaku atas diriNya dan menderita bagiku, maka aku bebas menerima tawaran-Nya untuk hidup yang kekal. Terima kasih atas apa yang telah Kau lakukan dan apa yang Engkau lakukan dalam hidupku sekarang! Aku menerima karunia keselamatan-Mu! Aku berdoa dalam nama Yesus Kristus, Amin!”
Sekarang, pergi dan beritahukan kepada seseorang apa yang telah Anda alami!
Sumber : http://amazingfacts.id

Renungan Pagi 30 Maret 2018

“POTRET KASIH ALLAH”
30 Maret 2018

Orang Kecil

“Maka turunlah ia membenamkan dirinya tujuh kali dalam sungai Yordan, sesuai dengan perkataan abdi Allah itu. Lalu pulihlah tubuhnya kembali seperti tubuh seorang anak dan ia menjadi tahir” (2 Raja-raja 5:14).

Naaman memimpin tentara Aram menyerang Israel, melawan umat Allah. Ia seorang yang “terpandang… dan sangat disayangi” oleh raja Aram, “seorang pahlawan.” (2 Raj.5:1). Tetapi di balik kehebatannya, ia menderita “sakit kusta” (ay.1)

Naaman membawa banyak orang Israel sebagai tawanan perang, dan di antaranya terdapat seorang gadis tak bernama, yang kemudian menjadi budak yang melayani istri Naaman. Mengetahui penderitaan tuannya, gadis ini berkata, “Sekiranya tuanku menghadap nabi yang di Samaria itu, maka tentulah nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya” (ay.3).

Naaman membahas hal ini dengan raja Aram, yang tanpa membuang-buang waktu langsung memerintahkan Naaman kembali ke Israel, kali ini dengan misi khusus. Tapi untuk alasan yang tidak diketahui, Elisa menolak bertemu Naaman dan menyuruh Gehazi, hambanya untuk menemui Naaman.

Jenderal yang perkasa itu tidak terkesan sama sekali dengan cara pengobatan yang disarankan oleh Elisa—berendam tujuh kali di Sungai Yordan. Dengan gusar ia hendak kembali ke rumahnya, tapi budak-budak yang mengiringinya menyarankan agar Naaman mencoba melakukan apa yang disarankan sang nabi. Prasangka baik mereka pun berbuah, Naaman melakukan pengobatan yang melecehkan harga dirinya itu… dan sembuh.

Dengan penuh rasa terima kasih, Jendral Naaman menawarkan hadiah-hadiah mahal kepada Elisa, yang ditolaknya. Namun Gehazi, budak Elisa, mengejar Naaman dan berbohong tentang adanya kebutuhan mendesak atas nama Elisa. Ketika Elisa menemukan bahwa budaknya itu telah berlaku curang, ia mengutuk Gehazi, yang langsung terjangkit kusta dan harus meninggalkan sang nabi (ay.27).

Dalam kisah yang mendebarkan ini, terdapat peran dari “orang-orang kecil” di dalamnya—yang baik dan yang buruk. Budak perempuan yang melayani istri Naaman dan budak-budak yang mengiringi Naaman ke Israel sebenarnya tidak memiliki hak suara di hadapan pembesar-pembesar yang mereka layani. Tetapi dalam kisah ini mereka berbicara dengan berani dengan nasihat-nasihat emas yang membawa kebaikan. Gehazi, budak yang lain, menjadi pembawa pesan dari Elisa yang membawa kesembuhan bagi Naaman. Tetapi belakangan, “orang kecil” ini melakukan hal berbahaya dengan berbohong dan mengambil barang-barang mewah yang bukan miliknya.

Karena kebanyakan dari kita adalah “orang kecil,” acapkali kita memandang remeh diri sendiri. Hal ini tentu saja, jauh dari kebenaran.

Wednesday, March 28, 2018

HASIL PENATALAYANAN

Triwulan 1 2018
Sekolah Sabat Dewasa Pelajaran 13
HASIL PENATALAYANAN

PELAJARAN 13, *24 - 30 Mar
Sebagai seorang penatalayanan kita harus memiliki pengaruh yang baik dimanapun kita berada. Kita harus memiliki pengaruh yang kuat, dan kuasa mempengerahui yang berasal dari Tuhan. itulah sebabnya kita perlu untuk hidup didalam Tuhan. Sehingga kehidupan kita menjadi terang bahkan bagi orang disekitar kita. Mereka akan bertanya kepada kita tentang bagaimana kita bisa menghidupi kehidupan yang sejati yang kita hidupkan didalam Tuhan. Seperti yang ayat berikut ini katakan:

1 Petrus 3:15-16 Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.
Hidup kudus ataupun menjadi saleh bukan berarti kita sempurna, hanya bahwa kita mencerminkan kesempurnaan dalam lingkup kita sendiri. [1] Penatalayan adalah tentang pengelolaan barang-barang milik Allah, tetapi itu melampaui tanggung jawab ini. Penatalayan kita ditunjukkan kepada keluarga, masyarakat, dunia dan alam semesta. [2] — agar dapat mempengaruhi setiap orang yang ada disekitar kita untuk mengenal Tuhan yang kita sembah, kita menjadi terang dimanapun kita berada. Sebagaimana kehidupan Ayub bahkan yang dituliskan dalam ayat berikut ini:

Ayub 2:3 Firman TUHAN kepada Iblis: "Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ia tetap tekun dalam kesalehannya, meskipun engkau telah membujuk Aku melawan dia untuk mencelakakannya tanpa alasan."
Penatalayanan adalah ekspresi dari kehidupan iman kita kepada Tuhan; dengan kita menghidupkan kehidupan yang berpengaruh bagi orang-orang disekitar kita untuk mengarah kepada kesucian dan kehidupan didalam Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita. Disinilah kita belajar untuk dapat mencukupkan dalam segala hal. Penatalayanan ataupun hidup beribadah bukanlah untuk mendapatkan atau memberikan keuntungan finansial tetapi mengajarkan kepada kita untuk dapat bersyukur dan mencukupkan diri dalam segala sesuatu. Perhatikan perkataan Paulus kepada Timotius:

1 Timotius 6:5-7 percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran, yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan. Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar.
Ibadah itu mengajarkan kita untuk berserah kepada Tuhan. Berserah dalam setiap keputusan terbaik yang Tuhan dapat buat kepada kita semua. Sepeti yang dikatakan ayat berikut ini:

Roma 8:28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
Itulah sebabnya kita harus belajar percaya kepada Allah. Percaya untuk segala sesuatu yang dapat kita kontrol dan yang tidak dapat kita kontrol. Kita sering kali berdoa—meminta petunjuk untuk hal-hal yang tidak dapat kita jangkau. Tetapi bagaimana dengan hal-hal yang bisa kita jangkau? Waktu, keluarga, kebiasaan—pernahkah kita berdoa untuk hal-hal yang bisa kita kontrol, untuk hal-hal yang ada dalam genggaman tangan kita, agar kita bisa menggunakan dengan sebaik mungkin? Seorang penatalayan sejati akan memiliki sebuah moto dalam hidupnya...

Amsal 3:5 Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.
Ellen G. White juga mengatakan:
Para rasul mengambarkan kepada kita sebuah kepercayaan kepada Allah dengan segenap hati mereka: “Secara alamiah mereka lemah dan tak berpengharapan seperti setiap orang yang tergabung dalam pekerjaan Tuhan, tetapi mereka menyerahkan keseluruhan hati mereka didalam Tuhan. Kekayaan yang mereka miliki, terdiri atas kekayaan pikiran dan jiwa yang berserah; Setiap orang dapat memilikinya, itu adalah bagi mereka yang mau menjadikan Allah sebagai yang pertama, yang terakhir dan yang terbaik dalam segala hal."— Ellen G. White, Gospel Workers, p. 25

Inilah kehidupan yang diinginkan oleh Khalik pencipta kita. Allah ingin kita menghidupkan kehidupan didalam Tuhan agar kita menjadi terang dimanapun kita berada. Seperti yang dikatakan oleh ayat berikut ini:

Efesus 5:8 Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, Matius 5:16 Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."
Kita harus menjadi pengaruh yang baik, pengaruh yang menuntun kepada Tuhan—, disekolah, dirumah tangga, dimasyarakat bahkan dimanapun kita berada.. karena tujuan kita bukan sampai didunia ini saja, tetapi sampai pada kerajaan Surga. Kita harus menentukannya sekarang. Sekolah Sabat kita mengatakan demikian: “Entah kita hidup untuk Allah atau untuk musuh. “Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia menceraiberaikan"(Mat. 12:30). Di pihak mana kita berada akan diungkapkan, dengan jelas dan tegas, ketika Dia datang kembali."[3] Ini semua kita lakukan bukan berdasarkan atas apa yang dapat kita lakukan bagi Tuhan. tetapi karena apa yang Tuhan telah kerjakan didalam kita. Seperti yang Ellen G. White katakan berikut ini:

“Bila para pengikut Kristus mengembalikan milik-Nya kepada Tuhan, mereka mengumpulkan harta yang akan diberikan kepada mereka ketika mereka mendengar perkataan, ‘baik sekali perbuatanmu itu hai hambaku yang baik dan setia! Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.’"—Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 6, hlm. 140. [4]
Motif dan cara pandang kita menentukan siapa dan ada dipihak mana kita. Iman dan perbuatan kita adalah refleksi bagaimana ungkapan syukur kita atas kasih yang kita rasakan, kasih yang berasal dari milik Tuhan. Kita adalah milik Yesus bahkan semua yang ada pada kita saat ini adalah milik Dia—terpujilah Yesus Kristus yang adalah Tuhan dan juru selamatku. Saya ingin menutup dengan Tulisan RN berikut ini:

“Orang yang menerima tetapi tidak pernah memberi tidak lama akan berhenti menerima. Kita harus membagikan berkat sorga jika kita mau menerima berkat yang segar."—Ellen G. White, Nasihat Penatalayanan, hlm. 28. [5]
Tuhan memberkati

Sumber : https://www.gerejaadventdhi.org

Renungan Pagi 29 Maret 2018

“POTRET KASIH ALLAH”
29 Maret 2018

Bagaimana Menolong Mereka yang Tertindas

“Pergilah, juallah minyak itu, bayarlah hutangmu, dan hiduplah dari lebihnya, engkau serta anak-anakmu” (2 Raja-raja 4:7).

Pria tanpa nama dalam kisah kita ini adalah seorang suami, ayah, dan salah seorang anak nabi. Karena beberapa alasan yang tidak diketahui, pria ini mati, meninggalkan keluarganya dalam kondisi mengenaskan karena utang. Para penagih utang hendak menjadikan dua anaknya sebagai budak untuk melunasi utangnya, seperti yang diatur oleh Hukum Musa.

Ketika jandanya melaporkan persoalannya kepada Elisa, nabi ini menjawab, “Beritahukanlah kepadaku apa-apa yang kaupunya di rumah.” (2 Raj.4:2). Dalam kemiskinannya janda itu tidak memiliki apa-apa—hanya sebuah buli-buli berisi minyak zaitun; yang tentu saja tidak cukup berharga. Maka kata Elisa, “Pergilah, mintalah bejana-bejana dari luar, dari pada segala tetanggamu, bejana-bejana kosong, tetapi jangan terlalu sedikit. Kemudian masuklah, tutuplah pintu sesudah engkau dan anak-anakmu masuk, lalu tuanglah minyak itu ke dalam segala bejana. Mana yang penuh, angkatlah!” (ay.3:4).

Ketika melakukan perintah itu, secara ajaib minyak di dalam buli-buli tidak habis-habisnya mengisi bejana yang terus didatangkan anak-anaknya dari tetangga mereka. Ketika tida ada lagi bejana tersisa, janda itu pun bertanya kepada Elisa apa yang harus mereka lakukan. Ia menjawab, “Pergilah, juallah minyak itu, bayarlah hutangmu, dan hiduplah dari lebihnya, engkau serta anak-anakmu” (ay.7).

Dalam menolong mereka yang tertindas, kita dapat melakukan tiga hal berikut. Ketiganya tidak saling bertentangan satu sama lain.

Kita dapat melakukan perbuatan baik dengan memberikan sumbangan uang untuk mengatasi kebutuhan mereka selama beberapa waktu. Tapi banyak orang yang menganggap bantuan uang merendahkan martabat, dan betapa pun miskinnya, mereka akan menolak. Meskipun demikian, terkadang bantuan semacam itulah yang dapat kita lakukan untuk mengatasi sebuah situasi dengan segera.

Di saat lain kita dapat melakukan hal yang lebih baik dengan menyediakan cara agar mereka dapat menolong diri sendiri, seperti yang dilakukan oleh elisa pada kisah hari ini. Anda sering mendengar ungkapan: “Berikan ikan pada orang lapar, maka kau hanya memberinya makan untuk hari ini. Tapi ajarkan orang itu memancing, maka kau memberinya makan seumur hidupnya.”

Yang terbaik dapat kita lakukan adalah menghapus penyebab ketertindasan itu, karena penderitannya biasa hasi ldari kesalahan manusia. Kita dapat secara proaktif berjuang demi keadilan bagi semua orang. “Jika melihat kebaikan manusia, maka kita bisa berharap adanya kesadaran dari setiap orang, tapi melihat keberdosaan manusia, aturan hukum sangatlah dibutuhkan. Perbuatan amal, selalu dibutuhkan; tapi itu tidak pernah bisa menggantikan keadilan” (William Sloane Coffin).

Tuesday, March 27, 2018

Renungan Pagi 28 Maret 2018


“POTRET KASIH ALLAH”
28 Maret 2018

Pertempuran Melawan Moab

“Lalu berkatalah raja Israel: “Wahai, TUHAN telah memanggil ketiga raja ini untuk menyerahkan mereka ke dalam tangan Moab!’ Tetapi bertanyalah Yosafat: ‘Tidak adakah di sini seorang nabi TUHAN, supaya dengan perantaraannya kita meminta petunjuk TUHAN?” (2 Raja-raja 3:10:11).

Mesa, raja Moab, telah menjadi sekutu raja Israel, Ahab. Setiap tahun ia harus membayar upeti kepada Israel berupa 100.000 anak domba dan bulu dari 100.000 domba jantan (2 Raj. 3:4). Jumlah sebanyak itu tentunya sangat membebani kondisi keuangan negaranya.

Begitu Ahab mati dan digantikan oleh Yoram anaknya, Mesa pun melancarkan pemberontakan dan membatalkan perjanjian yang memberatkannya itu. Maka Yoram pun meminta bantuan militer kepada Yosafat, raja Yehuda, dan juga kepada raja Edom. Tentu saja persekutuan tiga negara ini sangat rapuh mengingat hubungan mereka yang kurang harmonis.

Selama tujuh hari tentang gabungan menyerang Moab, tapi mereka kehabisan “air untuk tentara dan untuk hewan yang mengikuti mereka” (ay.9). Situasi ini berubah menjadi bencana dan seluruh bala tentara itu segera menjadi seperti barisan mayat hidup yang berjalan di terik matahari Timur Tengah.

Menghadapi situasi mengerikan ini, Raja Yoram berkata, “Wahai, TUHAN telah memanggil ketiga raja ini untuk menyerahkan mereka ke dalam tangan Moab!” (ay.10). Kata-katanya terdengar saleh, seolah-olah dia berkata, “Ini adalah kehendak Allah.” Tetapi teologi seperti itu di satu pihak terdengar Calvinistis, tapi di lain pihak fatalistis. Ia menganggap bahwa apapun yang terjadi—baik, buruk, netral—adalah apa yang telah diatur oleh Allah sejak kekekalan. Tapi apakah semuanya melulu kehendak Allah? Apakah Ia menghendaki hilangnya 10 hingga 20 hektar hutan tropis setiap menitnya? Pelecehan yang dialami dua puluh lima persen anak perempuan? Angin topan, tornado, dan tsunami yang meluluhlantakkan? Dua puluh ribu hingga 40.000 orang yang mati kelaparan setiap harinya? Sembilan puluh delapan ribu pasien yang mati setiap tahun karena malpraktik?

Dari menganggap semua kejadian sebagai kehendak Allah, lebih baik kiranya bersikap seperti Yosafat yang memiliki cara pandang positif. Ia merasa sudah waktunya berpaling kepada Allah, ‘Tidak adakah di sini seorang nabi TUHAN, supaya dengan perantaraannya kita meminta petunjuk TUHAN?” (ay.11).

Tentu saja saat ini tidak ada nabi yang tinggal di sekitar kita, tapi kita dapat menyelidiki nasihat tertulis dari Allah. Dan pasti banyak cara untuk melangkah sesuai dengan kehendak-Nya, meski hal itu tidak selalu dapat kita mengerti dengan gamblang.

Monday, March 26, 2018

Renungan Pagi 27 Maret 2018

“POTRET KASIH ALLAH”
27 Maret 2018

Api dari Langit

“Tetapi Elia menjawab, katanya kepada perwira itu: “Kalau benar aku abdi Allah, biarlah turun api dari langit memakan engkau habis dengan kelima puluh anak buahmu.’Maka turunlah api dari langit memakan dia habis dengan kelima puluh anak buahnya’” (2 Raja-raja 1:10).

Ahazia, raja Israel mengalami kecelakaan di istananya sendiri, ia jatuh “dari kisi-kisi kamar atasnya” (2 Raj.1:2). Kemungkinan ia terjatuh dari atap rumahnya. Karena tidak yakin apakah bisa sembuh dari sakitnya, ia mengirimkan utusannya untuk bertanya kepada Baal-Zebub (“allah serangga”), di Ekron, perihal kesembuhannya.

Malaikat TUHAN mengunjungi Elia dan memerintahkannya untuk mencegat utusan-utusan Ahazia. Nabi pun menanyakan kepada mereka, apa maksud kedatangan mereka ke allah di Ekron. Tidak adakah Allah di Israel untuk dimintai nasihat? Lalu disampaikan pula oleh Elia firman TUHAN tentang Ahazia: “Engkau pasti akan mati” (ay.4). (Terdengar seperti kata-kata di Kejadian 2:17, bukan? Di saat engkau memakannya, “pastilah engkau mati.” Kata-kata Ibrani yang digunakan sama persis!)

Raja merasa tidak puas dengan campur tangan Elia, maka ia mengirim “seorang perwira dengan kelima puluh anak buahnya” (2 Raj.1:9) untuk menangkap Elia. Namun Elia tidak gentar melihat unjuk kekuatan tersebut dan menjawab dengan, “biarlah turun api dari langit memakan engkau habis dengan kelima puluh anak buahmu” (ay.10). Dan terjadilah seperti itu. Ahazia mengirim pasukan kedua berjumlah 50 orang, dan menemui hasil yang sama. Kemudian pasukan ketiga berjumlah 50 orang. Tapi kepala pasukan ketiga ini tidak bodoh, dan memohon pengampunan kepada Elia. Lalu Allah menyuruh Elia untuk pergi bersama-sama pasukan itu ke Samaria.

Elia terkenal sangat meledak-ledak. Nabi inilah yang mengatur pertempuran antara Baal dan TUHAN di Gunung Karmel. Dia pula yang membunuh para nabi Baal (1 Raj.18:40). Kali ini ia mendatangkan api dari langit untuk membinasakan 100 tentara dan pemimpin mereka (berbeda dengan Yesus yang menolak mendatangkan api dari langit untuk membinasakan orang-orang). Nabi-nabi lainnya tidak begitu menyolok. Musa sangat lembut hatinya. Yunus kabur dari tugasnya. Yeremia gampang menangis. Hosea lebih mirip seorang yang romantic. Yehezkiel nampak seperti orang yang tidak waras. Dan Allah menghargai kepribadian yang berbeda-beda itu. Sepertinya Ia tidak menghendaki penyampaian pesan yang seragam pribadinya. Pria dan wanita dengan karakter beraneka ragam dapat melayani-Nya…dengan baik.

Sunday, March 25, 2018

Renungan Pagi 26 Maret 2018


Renungan Pagi “POTRET KASIH ALLAH”
26 Maret 2018

Nubuatan yang Tergenapi Sebagian

“Lalu mereka menguburkan raja di Samaria… Ketika kereta itu dicuci di tepi telaga Samaria, maka darah raja dijilat anjing” (1 Raja-raja 22:37, 38).

Ahab, raja Israel, bersekutu dengan Yosafat, raja Yehuda untuk berseteru dengan suku Ramot-Gilead. Namun serangan tidak dilakukan begitu saja. Ahab berkonsultasi terlebih dulu dengan 400 nabinya, yang segera meyakinkannya—meskipun dalam kalimat yang mendua arti—bahwa mereka akan memenangkan pertempuran. Yosafat menginginkan pendapat keduanya, maka Nabi Mikha pun dimintai pendapat. Meskipun awalnya Mikha membeo apa yang dikatakan 400 orang nabi itu, akhirnya ia mengemukakan bahwa ia melihat “seluruh Israel bercerai-berai di gunung-gunung seperti domba-domba yang tidak mempunyai gembala, sebab itu TUHAN berfirman: Mereka ini tidak punya tuan” (1 Raj.22:17).

Ahab dan Yosafat tetap maju ke medan perang. Ahab berperang dengan menyamar, sementara ia menyuruh Yosafat memakai pakaian kebesarannya ke medan perang. (Para ahli berbeda pendapat apakah Ahab dengan tindakannya itu melindungi Yosafat atau dirinya sendiri.)

Akhirnya muslihat Ahab itu malah menyelamatkan hidup Yosafat. Sebaliknya, seorang pemanah berhasil menyarangkan anak panahnya di titik lemah baju zirah Ahab. Raja Israel itu pun mati karena kehabisan darah di kereta perangnya. Jasadnya lalu dibawa ke Samaria, dan darahnya, setelah dicuci dari kereta, dijilati oleh anjing-anjing. Dan “perempuan-perempuan sundal mandi” (ay.38) di dalam air yang bercampur darahnya.

Kita raja-raja bercerita betapa Ahab menemui nasib yang telah dinubuatkan. Satu nubuatan tercatat (anjing menjilati darahnya), sedangkan nubuat lainnya tidak tercatat (para pelacur mandi, entah untuk apa, di kubangan darahnya).

Elia telah menubuatkan, “Di tempat anjing telah menjilat darah Nabot, di situ jugalah anjing akan menjilat darahmu” (1 Raj.21:19). Elia benar…sebagian. Darah Ahab memang dijilati anjing seperti darah Nabot, tetapi peristiwa ini tidak terjadi di tempat yang sama seperti disebut dalam perkataan Elia. Jasad Nabot di Yizreel, sedangkan jasad Ahab di Samaria.

Baik Elia maupun Mikha tidak berbicara sepatah pun tentang perempuan sundal yang “mandi darah” Ahab, sehingga barangkali kejadian aneh ini merupakan penggenapan sebuah nubuatan yang tidak diketahui.

Kejadian-kejadian aneh menyisakan misteri bagi kita. Bagaimanakah mungkin Elia, Mikha, dan seorang nabi tak dikenal lainnya bisa bernubuat dengan tepat tentang suatu kejadian, tetapi Elia bisa salah tentang tempat jadian itu? Nubuatan dapat salah (Paulus di kemudian hari menyatakan hal yang serupa dalam 1 Kor.13:8), terutama karena para nabi pun memiliki kehendak bebas. Di sinilah nampak betapa Allah menghargai kebebasan kita.