Friday, May 25, 2018

Renungan Pagi 26 Mei 2018



“POTRET KASIH ALLAH”
26 Mei 2018

Adakah Harapan bagi Mereka yang Bertindak Bodoh?
Lembu mengenal pemiliknya, tetapi Israel tidak; keledai mengenal palungan yang disediakan tuannya, tetapi umat-Ku tidak memahaminya” (Yesaya 1:3).
Sangat sulit dipercaya, tetapi TUHAN yang telah lama menderita menyatakannya! Anak-anak-Nya telah menolak-Nya. Mengapa, bahkan seekor hewan dungu seperti keledai dan lembu saja menghargai perhatian yang dicurahkan pemilik mereka. Tetapi Israel tidak! Mereka bersikap lebih buruk daripada keledai jantan! Mereka menyembah berhala. Mereka mendambakan kejahatan dan mengabaikan keadilan, menambah duka kaum tertindas. Mereka menyiksa anak-anak yatim, menipu janda-janda. Namun mereka dengan lancang masih mempersembahkan hewan korban di bait suci, dan menyangka dapat menyenangkan hati Allah. Tapi Allah menghardik: “Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak?... ‘Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran’” (Yes.1:11).
Di masyarakat Timur Dekat kuno, para ayah tidak tahu cara memanjakan anak-anak mereka. Joseph Blenkinsopp dalam tafsiran Yesaya 1-39 Anchor bible-nya berbicara tentang kerasnya hajaran yang harus diberikan TUHAN kepada anak-anak-Nya yang memberontak, yang demikian “keras hingga membahayakan, bahkan dalam ukuran kekerasan… di Timur Dekat kuno” (hlm.183). Allah menggambarkan kondisi mereka setelah dihajar oleh-Nya. “Seluruh kepala sakit… Dari telapak kami sampai kepala tidak ada yang sehat: bengkak dan bilur dan luka baru, tidak dipijit dan tidak dibalut dan tidak ditaruh minyak” (Yes.1:5,6). Allah menaruh kata-kata di mulut anak-anak-Nya yang durhaka, dalam erang kesakitan, “Seandainya TUHAN semesta alam tidak meninggalkan pada kita sedikit orang yang terlepas, kita sudah menjadi seperti Sodom, dan sama seperti Gomora” (ay.9).
Allah bahkan berkata bahwa telinga-Nya telah tuli terhadap mereka. “Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan muka-Ku, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya” (ay.15). Sungguh tanpa harapan.
Tetapi lengking suara Allah melunak sedikit. “Marilah, baiklah kita berperkara!” (ay.18). Blenkinsopp mengartikan bahwa Allah menginginkan mereka duduk di pengadilan untuk menghindari penderitaan lebih lanjut (hlm.185). “Sekalipun dosamu merah seperti kermizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba” (ay.18). Allah menawarkan harapan bagi kita yang bertingkah seperti keledai jantan! Ketika kita meninggalkan cara hidup yang jahat (ay.16) dan berbuat baik kepada mereka yang terpinggirkan. Allah—jika kita membiarkan-Nya menolong kita (ay.19)—anugerah-Nya yang ajaib akan bekerja, menghapuskan noda kirmizi yang ditinggalkan dosa kita dan membuat kita seputih salju atau bulu domba.


Thursday, May 24, 2018

Renungan Pagi 25 Mei 2018


“POTRET KASIH ALLAH”
25 Mei 2018

Merayakan Percintaan
Tangan kirinya ada di bawah kepalaku, tangan kanannya memeluk aku” (Kidung Agung 2:6).
Beberapa penulis Kristen injili berpendapat bahwa Kidung Agung adalah buku petunjuk bercinta. Oleh sebab itu, setiap praktik erotis yang tertuang di dalam buku Alkitabiah ini, boleh digunakan oleh pasangan suami istri Kristen yang konservatif. Apakah Kidung Agung merupakan buku petunjuk erotis bisa diperdebatkan. Namun demikian, mereka yang memiliki cara pandang ini tidak terlalu jauh dari kebenaran, karena mereka dengan jujur mengakui kandungan erotis di dalam kitab ini. Pada kenyataannya, terdapat tiga tingkat gambaran erotis di dalam kitab kanonik ini: (1) beberapa gambaran yang nyata-nyata erotis, (2) beberapa gambaran yang agak kabur namun dapat dimengerti setelah sedikit direnungkan, dan akhirnya (3) beberapa gambaran yang berisi kiasan yang tidak jelas bagi pembaca modern namun cukup blak-blakan untuk pembaca di zamannya.
Gambaran yang nyata-nyata erotis—Pembaca tidak perlu benar-benar fokus untuk menangkap beberapa bahasa gambar yang terdapat di dalam Kidung ini. Ayat kita hari ini menyajikan contoh yang baik: “Tangan kirinya ada di bawah kepalaku, tangan kanannya memeluk aku.” Jelas sekali kata-kata ini dimaksudkan lebih dari sekedar pelukan hangat. “Seperti dua anak rusa buah dadamu, seperti anak kembar kijang yang tengah makan rumput di tengah-tengah bunga bakung” (Kid.4:5). Gambaran “dewasa” ini tidak membutuhkan penjelasan lagi.
Gambaran yang agak kabur—Perhatikan ayat ini: “sosok tubuhmu seumpama pohon korma dan buah dadamu gugusannya. Kataku: ‘Aku ingin memanjat pohon korma itu dan memegang gugusan-gugusannya”’ (Kid.7:7,8). Dibutuhkan sedikit imajinasi untuk dapat mengerti implikasi dari gambaran itu.
Gambaran yang berisi kiasan yang tidak jelas—“Kekasihku memasukkan tangannya melalui lobang pintu, berdebar-debarlah hatiku. Aku bangun untuk membuka pintu bagi kekasihku, tanganku bertetesan mur; bertetesan cairan mur jari-jariku pada pegangan kancing pintu” (Kid.5:4,5). Pada pembacaan pertama, bahasanya kelihatan seperti merujuk pada lubang kunci sebuah daun pintu kuno, yang lubangnya cukup besar untuk tangan seorang pria karena seringkali anak kuncinya pun sangat besar. Tetapi ketika seseorang belajar bahwa dalam Bahasa Ibrani kata “tangan” dapat diartikan sebagai organ seks pria, maka Bahasa di dalam konteks ini nampaknya merujuk pada kondisi sebelum dilakukannya percintaan.
Mungkin keterusterangan yang blak-blakan di dalam Firman Allah ini semestinya mendorong kita yang terkurung budaya Vicotria untuk menyingkirkan kemunafikan dan mensyukuri seksualitas yang dianugerahkan Allah bagi kita.

Wednesday, May 23, 2018

Renungan Pagi 24 Mei 2018



“POTRET KASIH ALLAH”
24 Mei 2018

Untuk Kekasih…
Kiranya ia mencium aku dengan kecupan! Karena cintamu lebih nikmat dari pada anggur” (Kidung Agung 1:2).
Bacaan renungan macam apa yang ditulis di dalam kitab Kidung Agung ini? Jika Anda seperti saya, Anda tidak dapat mengingat kapan terakhir kalinya Anda mendengar khotbah yang berdasarkan bagian Alkitab yang membingungkan ini. Kitab ini mungkin harus di beri label “D” (dewasa), kalau bukan “X”! Marilah kita akui, membaca buku ini bahkan untuk diri sendiripun agak membuat jengah, apalagi membacanya dengan suara keras… baik di rumah atau di gereja.
Mengapa syair erotis semacam itu menjadi bagian kanon suci telah menjadi teka-teki bagi para pelajar Kitab Suci di sepanjang sejarah. Meskipun sebagian kitab Perjanjian Lama dikutip oleh penulis kitab Perjanjian Baru, kita tidak menemukan kutipan dari kitab ini di dalam Kitab Suci Kristiani, bahkan disinggung pun tidak. Bahkan para rabi di Jamnia berdebat tentang pantas atau tidaknya kitab ini menjadi bagian dari Tulisan Suci. Untuk mendukung dimasukkannya kitab ini ke dalam Alkitab, beberapa penerjemah—baik orang Yahudi maupun Kristiani—mencari jalan dengan menyebutkan sebagai sebuah alegori (memiliki makna kiasan). Para ahli alegori Yahudi mengartikan isi kitab itu sebagai gambaran hubungan Yahwe dengan Israel, bangsa pilihan-Nya, mempelai-Nya. Beberapa penafsir Kristiani (yang pertama adalah Hippolytus [sekitar tahun 2000]) telah menganggapnya sebagai lukisan hubungan Yesus Kristus dengan jemaat, mempelai-Nya. Meskipun benar bahwa penggambaran pernikahan Allah dengan umat-Nya dapat ditemukan di Kitab Suci Yahudi maupun Kristiani, namun apa yang digambarkan oleh Kidung Agung tetap tidak masuk akal.
Salah satu masalah yang muncul dalam pendekatan alegoris adalah bahwa ada ketidaksesuaian di dalam detil-detilnya. Sebagai contoh, anggaplah Yesus sebagai mempelai pria dan gereja sebagai wanita kekasih-Nya. Buah dada sang wanita (“bagiku kekasihku bagaikan sebungkus mur, tersisip di antara buah dadaku” [Kid.1:13] ditafsirkan sebagai Perjanjian Lama dan Baru, tetapi jika itu masalahnya, bukankah lebih tepat menafsirkan itu sebagai organ Kristus, satu-satunya yang mengilhamkan Alkitab? Hal ini membuat orang yang mudah percaya berpikir bahwa gereja memiliki Perjanjian Lama dan baru dan Kristus berada di haribaan keduanya, mengambil sari makanan dari padanya, seperti yang dipaksakan oleh para ahli alegori.
Pendekatan terbaik kepada kitab yang aneh ini adalah bahwa ia berisikan contoh lagu asmara Timur Dekat kuno, seperti yang lazim ditemui di Mesir. Syair ini, dengan gambaran yang membumi, mungkin akan disingkirkan oleh pembacaan di Barat, merupakan perayaan sukacita memadu kasih dan dapat diterima luas di kalangan pelajar Alkitab.

Renungan Pagi 23 Mei 2018



“POTRET KASIH ALLAH”
23 Mei 2018

Kesimpulan Semuanya
                               
Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang. Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat” (Pengkhotbah 12:13,14).
Seperti telah dicatat sebelumnya, banyak penekanan di dalam kitab Pengkhotbah yang nampaknya bertentangan dengan tradisi kebijaksanaan yang lebih konservatif di dalam kitab Amsal. Namun demikian perintah akhir di akhir kitab ini pastilah disetujui oleh para orang bijaksana tradisional.
Pernyataan penutup “akhir dari segala yang didengar” adalah istilah yang lazim untuk mengakhiri sebuah tulisan di ranah kesusasteraan Timur Dekat kuno. Ia adalah batu penjuru yang tepat, dan karena sifat konservatif dari nasihat yang mengikutinya, beberapa pelajar Alkitab berasumsi bahwa kata-kata penutup inilah yang menjadi tolak ukur dimasukkannya kitab Pengkhotbah di dalam kanon Alkitab.
Ringkasan tulisan dari segala yang telah didengar ini disebut mencakup “kewajiban setiap orang” (Pkh.12:13). Kata-kata Ibrani yang digunakan di sini agak panjang lebar sehingga dapat diterjemahkan dalam beberapa cara, meskipun hanya merupakan variasi dari sebuah tema tunggal. “karena ini adalah kewajiban setiap manusia” (KJV, NIV, RSV), “ini adalah kewajiban setiap orang” (NLT), “ini berlaku untuk setiap orang” (NASB), “itu adalah kewajiban setiap orang” (NRSV), “tak ada lagi bagi manusia selain ini” (NEB), dan “ini adalah hal terpenting yang dapat dilakukan orang” (ICB).
Ada dua unsur yang membentuk kesimpulan itu. Keduanya pantas untuk mendapat penekanan, dan keduanya merupakan bahsa performatif, yaitu berupa perintah yang diharapkan bisa membuahkan hasil.
Pertama, “takutlah akan Allah.” Orang Ibrani memiliki alasan untuk memandang Allah dengan takjub karena ketegasan-Nya, tetapi gagasan takut di sini mencakup lebih dari sekedar kengerian belaka. Terbungkus di dalam perintah itu adalah rasa hormat kepada Allah. Kata “takut” dapat juga diterjemahkan dengan kata kerja “hormat” atau “takzim.”
Kedua, “berpeganglah pada perintah-perintah-Nya” (ay.13). Jika frasa pertama menasihatkan sebuah sikap, maka yang kedua mendorong suatu tindakan. Menghormati TUHAN mensyaratkan kepatuhan kepada-Nya. Memang di alam pikiran orang Ibrani, pikiran dan perbuatan berjalan seiring. Yang satu menuntun yang lain.
Penulis kitab Pengkhotbah juga memberikan motivasi untuk sikap takut akan Allah dan perilaku yang mematuhi kehendak-Nya itu. TUHAN melihat semua dan memperhatikan tindakan kita, meminta pertanggungjawaban atas apa yang kita lakukan, baik yang terlihat atau tersembunyi, baik atau buruk.

Monday, May 21, 2018

Renungan Pagi 22 Mei 2018



“POTRET KASIH ALLAH”
22 Mei 2018

Memandang Usia Tua
                               
Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum tiba hari-hari yang malang dan mendekat tahun-tahun yang kaukatakan: “Tak ada kesenangan bagiku di dalamnya!” (Pengkhotbah 12:1).

Sang Pengkhotbah menggunakan beberapa kiasan tentang usia tua, yang masing-masing menggambarkan kemunduran fisik yang menyertai apa yang kita sebut secara halus “tahun-tahun keemasan.”

Salomo berbicara tentang waktu yang menghampiri dalam kata-kata “Sebelum matahari dan terang, bulan dan bintang-bintang menjadi gelap” (Pkh.12:2). Jelas bahwa cahaya mentari dan rembulan tidak menjadi suram saat kita tua, tetapi orang yang memiliki katarak di matanya mengetahui betapa kabur sudah pandangan mereka. Ia lebih jauh menulis tentang waktu ketika “Penjaga-penjaga rumah gemetar, dan orang-orang kuat membungkuk” (ay.3)—sebuah gambaran tentang tungkai yang gemetaran seiring usia tua atau kekhawatiran yang biasa menghinggapi orang-orang tua. Selanjutnya, waktunya akan ketika “perempuan-perempuan penggiling berhenti karena berkurang jumlahnya” (ay.3). secara literal, kata-kata tersebut merujuk kepada para wanita yang sehari-hari bekerja menggiling gandum, yang karena fisiknya melemah tidak dapat lagi menjalankan tugasnya. Dalam arti kiasan, kata-kata tersebut kelihatannya menunjuk pada gigi-gigi yang ompong dan berkurang jumlahnya. (Pada zaman Timur Dekat kuno, gigi orang-orang secara bertahap patah atau tanggal karena kerikil yang terdapat pada makanan mereka.)
“Suara menjadi seperti kicauan burung” (ay.4). Betapa seringnya orang-orang tua menderita kekurangan tidur! Suara yang kecil sekalipun dapat menembus pendengaran mereka yang redup dan membangunkan mereka. Selain itu, “juga orang menjadi takut tinggi, dan ketakutan ada di jalan” (ay.5). Hal yang tak pernah mengganggu bagi orang muda, menjadi beban pikiran di usia tua. Sekarang “pohon badam berbunga” (ay.5), kuntum-kuntum bunga putih yang melambangkan rambut yang memutih. “Belalang menyeret dirinya dengan susah payah” (ay.5). Orang-orang Timur Dekat kuno memandang buah capparis Spinosa (buah capers) sebagai obat perangsang seksual, tetapi saat usia tua menghampiri bahkan buah mujarab itu pun tak mempan.
Adanya gejala-gejala penuaan yang jelas seperti itu seyogianya membuat orang muda merenung. Objek perenungannya dapat memiliki dua atau tiga makna sekaligus.  Tergantung dari penempatan huruf hidup di antara konsonan (Bahasa Ibrani Alkitab tidak memiliki huruf hidup), orang muda harus mencamkan di dalam pikirannya tentang (a) Pencipta (boreeka) mereka, menghormati-Nya di dalam dengan kemudaan mereka; (b) sumur (beereka) mereka, analogi untuk istri mereka sebagai obyek seksual yang sensualitasnya akan pudar; (c) lubang (bor’ka), istilah lain untuk kuburan, “rumah kekal” (ay.5) mereka. Nasihat yang berat namun praktis.

Sunday, May 20, 2018

Renungan Pagi 21 Mei 2018



“POTRET KASIH ALLAH”
21 Mei 2018

Bagaimana Dengan Masa Depan?
                               
…Waktu dan nasib dialami mereka semua” (Pengkhotbah 9:11).

Apakah peranan kita dalam turun naiknya—kehidupan ini? Kita tidak dapat mengubah masa lalu, karena apa yang sudah terjadi berada di luar kendali kita. Tetapi bagaimana dengan masa depan? Apakah sudah ditentukan? Adakah itu berada di luar kendali kita juga? Lalu ada masa kini, yang berlaku hanya sementera. Apakah segala yang berlangsung saat ini kering dan layu begitu saja? Dapatkah kita memengaruhi masa kini seperti juga masa lalu atau kejadian-kejadian medatang?

Ayat pertama di dalam Pengkhotbah 3 tak asing lagi bagi kita semua: “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya.” Ayat-ayat berikutnya bahkan telah menjadi syair nyanyian: “Ada waktu untuk mencabut yang ditanam; ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun; ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari; ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk; ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang; ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara; ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai” (ay.2-8).

Bahasa dan konteks ayat-ayat ini nampak seperti mendukung predestiani—segala sesuatu yang terjadi telah ditentukan sejak semula. John Calvin mengajarkan bahwa sejak kekekalan Allah dengan ajaib telah menentukan setiap kejadian.  Tugas kita adalah untuk memahami kejadian-kejadian itu dan menyesuaikan sikap kita. Tapi apakah sesungguhnya hanya itu? Nampaknya masih ada lagi. Bahkan Qoheleth, yang dikenal di kalangan pelajar Alkitab sebagai penulis kitab Pengkhotbah, mengakuinya.  Ayat Alkitab hari ini menunjukkan bahwa betapa hal terjadi karena kebetulan, dan kejadian-kejadian acak ini dialami oleh kita semua.

Lama sebelum kitab Pengkhotbah ditulis, Yosua menantang; “Pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah” (Yos.24:15). Sebagian besar perilaku kita mungkin ditentukan oleh pembawaan genetis, naluri, dan pendidikan yang kita terima. Tetapi kita tidak sepenuhnya berada di bawah belas kasihan DNA atau takdir. Kuasa kita untuk memilih dapat menyeimbangkan ketidakmampuan kita mengendalikan, dan karenanya kita dapat memengaruhi masa depan. Sebagai umat manusia yang menyandang gambar Allah, kita memiliki “kuasa untuk berpikir dan bertindak” (Education, hlm.17). Tugas kita untuk melakukannya…hari ini.

Renungan Pagi 20 Mei 2018



“POTRET KASIH ALLAH”
20 Mei 2018

Semuanya Sia-sia
                               
Kesia-siaan belaka…kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia” (Pengkhotbah 1:2).

Kitab Pengkhotbah pada awalnya tidak termasuk kanon Alkitab. Di akhir tahun 90, para rabi terus berdebat apakah kitab ini “tercemar” atau tidak, dalam arti apakah ia terinspirasi Roh atau tidak. Kelompok Shammai berpendapat bahwa ia tidak terinspirasi Roh, sementara kelompok Hillel berpendapat bahwa ia terinspirasi Roh. Dan kesepakatan para rabi dalam pertemuan di Jamnia menyatakan bahwa kitab tersebut dianggap kanonik.

Menyandingkan Pengkhotbah dengan Amsal tidak membantu statusnya dalam hal inspirasi. Di satu sisi, kumpulan Amsal yang menyokong ajaran kebijaksanaan kuno bahwa takut akan Allah merupakan dasar dari kebijaksanaan sejati dan bahwa di dalam kejahatan tertanam ben“POTRET KASIH ALLAH”

20 Mei 2018

Semuanya Sia-sia
                               
Kesia-siaan belaka…kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia” (Pengkhotbah 1:2).

Kitab Pengkhotbah pada awalnya tidak termasuk kanon Alkitab. Di akhir tahun 90, para rabi terus berdebat apakah kitab ini “tercemar” atau tidak, dalam arti apakah ia terinspirasi Roh atau tidak. Kelompok Shammai berpendapat bahwa ia tidak terinspirasi Roh, sementara kelompok Hillel berpendapat bahwa ia terinspirasi Roh. Dan kesepakatan para rabi dalam pertemuan di Jamnia menyatakan bahwa kitab tersebut dianggap kanonik.

Menyandingkan Pengkhotbah dengan Amsal tidak membantu statusnya dalam hal inspirasi. Di satu sisi, kumpulan Amsal yang menyokong ajaran kebijaksanaan kuno bahwa takut akan Allah merupakan dasar dari kebijaksanaan sejati dan bahwa di dalam kejahatan tertanam benih kehancuran diri sendiri. Di lain pihak, kitab Pengkhotbah mengajarkan posisi yang lebih liberal bahwa nasib yang sama menanti orang baik dan orang fasik, sehingga “segala sesuatu adalah sia-sia” (Pkh. 1:2).

Gagasan bahwa ajaran dua kitab ini bertentangan terus berlanjut di kalangan pelajar Alkitab.  Berberapa malah membesar-besarkan ketidaksesuaian tersebut, namun hal itu tidak merusak kesatuan pandangan mereka bahwa kedua penulis kitab tersebut tidak memiliki sudut pandang yang sama. Beberapa pelajar Alkitab mencoba berpendapat bahwa penulis kitab Pengkhotbah menulis secara main-main, tapi tampaknya pendapat itu hanya mencerminkan keputusasaan mereka. Di samping itu hampir tidak mungkin untuk mengetahui maksud tersembunyi dalam suatu tulisan kecuali diterangkan oleh penulisnya. Tetapi kita tidak menemukan satu pun isyarat untuk itu di dalam kitab Pengkhotbah! Barangkali si penulis sedang tertekan jiwanya, dan kita tidak perlu berasumsi bahwa karunia inspirasi Ilahi dapat menghilangkan kepribadian atau watak penulis. Konsep inspirasi merujuk pada mukjizat kuasa Ilahi, bukan mukjizat perubahan kepribadian genetic atau neurokimia seseorang.

Perbedaan antara kitab Amsal dan Pengkhotbah bukan belum pernah ada di tempat lain di dalam Alkitab. Kita menjumpai pernyataan di dalam kitab Ulangan bahwa Allah menghukum keturunan dari seorang pendosa yang bertentangan dengan Yehezkiel yang menyatakan bahwa hanya orang berdosalah, bukan keturunannya, yang akan mati karena kejahatannya.


Bacaan kita hari ini mengetengahkan dasar pemikiran utama kitab Pengkhotbah: “Kesia-siaan belaka…kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia! (ay.2). Kitab ini bukan hanya dibuka dengan kata-kata itu, tapi juga diakhiri dengan cara yang sama: “Kesia-siaan atas kesia-siaan…segala sesuatu adalah sia-sia” (Pkh.12:8). Terkadang kita memerlukan pesimisme canggih dalam dosis yang besar sebagai penawar bagi optimisme naif—bahkan dalam teologi.ih kehancuran diri sendiri. Di lain pihak, kitab Pengkhotbah mengajarkan posisi yang lebih liberal bahwa nasib yang sama menanti orang baik dan orang fasik, sehingga “segala sesuatu adalah sia-sia” (Pkh. 1:2).

Gagasan bahwa ajaran dua kitab ini bertentangan terus berlanjut di kalangan pelajar Alkitab.  Berberapa malah membesar-besarkan ketidaksesuaian tersebut, namun hal itu tidak merusak kesatuan pandangan mereka bahwa kedua penulis kitab tersebut tidak memiliki sudut pandang yang sama. Beberapa pelajar Alkitab mencoba berpendapat bahwa penulis kitab Pengkhotbah menulis secara main-main, tapi tampaknya pendapat itu hanya mencerminkan keputusasaan mereka. Di samping itu hampir tidak mungkin untuk mengetahui maksud tersembunyi dalam suatu tulisan kecuali diterangkan oleh penulisnya. Tetapi kita tidak menemukan satu pun isyarat untuk itu di dalam kitab Pengkhotbah! Barangkali si penulis sedang tertekan jiwanya, dan kita tidak perlu berasumsi bahwa karunia inspirasi Ilahi dapat menghilangkan kepribadian atau watak penulis. Konsep inspirasi merujuk pada mukjizat kuasa Ilahi, bukan mukjizat perubahan kepribadian genetic atau neurokimia seseorang.

Perbedaan antara kitab Amsal dan Pengkhotbah bukan belum pernah ada di tempat lain di dalam Alkitab. Kita menjumpai pernyataan di dalam kitab Ulangan bahwa Allah menghukum keturunan dari seorang pendosa yang bertentangan dengan Yehezkiel yang menyatakan bahwa hanya orang berdosalah, bukan keturunannya, yang akan mati karena kejahatannya.

Bacaan kita hari ini mengetengahkan dasar pemikiran utama kitab Pengkhotbah: “Kesia-siaan belaka…kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia! (ay.2). Kitab ini bukan hanya dibuka dengan kata-kata itu, tapi juga diakhiri dengan cara yang sama: “Kesia-siaan atas kesia-siaan…segala sesuatu adalah sia-sia” (Pkh.12:8). Terkadang kita memerlukan pesimisme canggih dalam dosis yang besar sebagai penawar bagi optimisme naif—bahkan dalam teologi.

Friday, May 18, 2018

Renungan Pagi 19 Mei 2018


“POTRET KASIH ALLAH”
19 Mei 2018

Penyombong
                               
Karena tiga hal bumi gemetar, bahkan, karena empat hal ia tidak dapat tahan” (Amsal 30:21).

Selama abad ke-13 Horatio Alger telah menulis 135 novel. Satu alur cerita yang menjadi hampir identic dengan namanya adalah ketika seorang bocah miskin, karena kejujuran dan etos kerjanya, “berhasil.” Kisah semacam itu membuat pembaca puas dengan keyakinan bahwa seorang “pecundang” yang jujur dapat bangkit dari keterpurukannya.

Jila hal seperti itu terjadi—dan kadang-kadang memang terjadi—ada sebuah sisi lain dari peristiwa “dari gelandang jadi orang kaya” tersebut. Tidak setiap orang bisa membawa diri dalam keberhasilannya, dan kepada merekalah Amsal 30:21-23 ditujukan dalam kata-kata: “Karena tiga hal bum gemetar, bahkan, karena empat hal ia tidak dapat tahan.” Penulis Alkitab mungkin bersalah karena telah menyama-ratakan, atau mungkin ia berbicara sesuatu secara sambil lalu. Namun demikian, kita umumnya barangkali telah menjumpai setidaknya satu dari tiga—bukan empat—contoh di bawah ini.

Contoh pertama adalah “seorang hamba, kalau ia menjadi raja” (ay.22). Seseorang yang terbiasa menyembah-nyembah karena posisinya yang rendah namun tiba-tiba, karena putaran nasib yang ironis, menempati posisi penuh kuasa, nampaknya akan mengalami perubahan kepribadian.

Kasus kedua yang serupa adalah “seorang bebal, kalau ia kekenyangan makan” (ay.22). Ungkapan ini menggambarkan seseorang yang biasanya kekurangan lalu secara tiba-tiba berkecukupan. Salah satu pernyataan untuk menggambarkan orang seperti ini adalah “orang kaya baru.”

Ilustrasi yang ketiga adalah ketika “seorang wanita yang tidak disukai orang, kalau ia mendapat suami” (ay.23). Perawan tua yang terkenal itu akhirnya menikah! Kita tak tahu mengapa ia melajang begitu lama, tetapi wanita yang sebelumnya tidak laku-laku itu akhirnya ada yang menyukai.

Contoh yang keempat berbicara tentang “seorang hamba perempuan, kalau ia mendesak kedudukan nyonyanya” (ay.23). Kisah Alkitab tentang Hagar benar, budak perempuan Sarai, tiba-tiba muncul dalam ingatan kita.

Malangnya, perubahan keadaan yang mendadak tidak selalu berakhir bahagia—paling tidak bagi mereka yang tetap di posisi rendah. Terlalu bayak orang kaya baru yang menjadi sombong. Kadang-kadang kita berasumsi bahwa mereka telah menjadi terlalu tinggi dan hebat di mata mereka sendiri. Namun yang benar adalah bahwa kesombongan mereka yang tak tertahankan itu muncul dari kurangnya rasa percaya diri, yang menjadikan mereka sasaran simpati bukan antipati kita.

Renungan Pagi 18 Mei 2018



“POTRET KASIH ALLAH”
18 Mei 2018

Ucapan yang Menyakitkan
                               
Orang yang menyanyikan nyanyian untuk hati yang sedih adalah seperti orang yang menanggalkan baju di musim dingin, dan seperti cuka pada luka” (Amsal 25:20).

Kebanyakan kita akan bersikap hati-hati bila berbicara dengan orang yang sedang sakit hati—mereka yang sedang bingung atau sedih. Namun terkadang, terlepas dari niat baik kita, komentar yang kita lontarkan sering menyakitkan ketimbang menghibur. Mungkin masalah adalah bahwa kita lupa untuk berpikir masak-masak sebelum membuka mulut dan bicara. Terlepas dari makna yang terkandung di balik kata-kata kita yang salah tempat itu dan dari niat baik kita, apa yang kita katakan dapat lebih banyak kesalahan ketimbang kebaikannya.

Dalam suatu kesempatan saya mengalami kesulitan di tempat kerja, dan mengadu kepada ayah saya. Setelah saya mengakhiri keluh-kesah saya, ayah, yang biasanya peka, memberikan nasihat. Sebenarnya, saya tidak meminta dinasehati; saya hanya hendak mencurahkan isi hati. Tetapi kata-kata ayah membuat saya merasa seperti “orang yang menanggalkan baju di musim dingin” dan terasa “seperti cuka pada luka”—membuat hati saya seolah menggigil kesakitan.

Seorang gembala pada pemakaman bocah berusia 4 tahun menenangkan orang tua almarhum, dan berkata, “Ini adalah kehendak Allah”. Di perjalanan pulang kata-kata itu berpilin di benak saya—“Ini adalah kehendak Allah” bahwa anak tak bersalah itu tenggelam? Sekali lagi, kata-kata yang ditujukan pada hati yang sakit dan jiwa yang resah itu membuat orang yang bersedih menjadi beku, karena gembala itu “seperti orang yang menanggalkan baju di musim dingin, dan seperti cuka pada luka”.

Orang bisa saja membela kata-kata semacam itu dengan menafsirkannya sebagai ucapan afektif (pengungkap emosi) dan bukannya ucapan kognitif (pernyataan teologis). Pengertian semacam itu dapat membantu. Namun demikian, komunikasi afektif semacam itu tidak bermanfaat dan dapat digolongkan sebagai “omong kosong,” yang ditentang oleh Yesus. Teologi yang tepat (ucapan kognitif yang benar) seyogianya menghasilkan ucaan belasungkawa yang baik (ucapan afektif yang efektif). Amsal 16:24 tepat pada sasarannya dengan mengatakan bahwa kata-kata yang pada tempatnya (kata Ibrani ini sering diterjemahkan “menyenangkan”) adalah seperti sarang madu.

Ketika kita melihat orang lain terluka emosi dan mentalnya, secara alami kita ingin mengatakan sesuatu untuk menolongnya. Tetapi terlalu sering kita menyemburkan kata-kata dari mulut kita, yang membuat kita seperti “orang yang menanggalkan baju di musim dingin, dan seperti cuka pada luka.” Demikian pula “orang yang berpengetahuan menahan perkataannya” (Ams.17:27).

Wednesday, May 16, 2018

Renungan Pagi 17 Mei 2018



“POTRET KASIH ALLAH”
17 Mei 2018

Hukum Fisik
                               
“Anakmu…tidak akan mati kalau engkau memukulnya dengan rotan. Engkau memukulnya dengan rotan, tetapi engkau menyelamatkan nyawanya dari dunia orang mati” (Amsal 23:13,14).

Singkirkan rotan dan rusaklah anak. Lebih sering ketimbang yang saya sadari, saya telah mencari di konkordansi dan di internet untuk mencocokkan pepatah itu dengan ayat-ayat Alkitab. Dan setiap kali saya gagal menemukannya. Tetapi pencarian di internet tidak gagal total. Pepatah itu ada di sana, tetapi tautannya ke Alkitab masih meragukan. Amsal 13:24 mengatakan: “Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya.” Cukup dekat, saya kira.

Sebagai seorang anak saya mendengar cerita-cerita dari orang dewasa tentang hukuman yang mereka terima dari orang tua. Seorang gembala bercerita tentang ayahnya yang menderanya untuk pelanggarannya di masa kecil. Ada gosip pula tentang seorang inspektur pendidikan konferens yang, ketika mengunjungi sekolah-sekolah gereja, menarik seorang anak nakal ke lorong sekolah dan memberikan pukulan di pantatnya. Hari ini, tentu saja, tindakan-tindakan semacam itu akan mengundang tuntutan hukum seperti cahaya pelita di malam hari mengundang ngegat.

Sebuah mufakat yang berkembang menolak pentingnya hukuman fisik, dan mencapnya sebagai bentuk kekerasan terhadap anak. Ketika orang dewasa memukul anak-anak, tindakan mereka mengajarkan bahwa “kekuatan selalu benar” dan kekerasan menjadi tindakan yang diperbolehkan. Beberapa studi telah menemukan bahwa hukuman fisik pada kenyataannya dapat memunculkan efek yang berlawanan—setidaknya akan menghasilkan sikap agresif (anti-sosial) pada anak-anak.

Di masyarakat Timur Dekat kuno, hukuman fisik dinilai bermanfaat. Banyak anak-anak (terutama anak lelaki) yang dipukulan dengan hebat sehingga meninggalkan bekas luka di tubuh mereka. “Memukul anak lelaki adalah seperti memberi pupuk di taman,” demikian bunyi sebuah amsal Mesir (Aramaic Proverbs of ahiqar [Versi Siria]). “Anda pukul bokongku, ajaranmu masuk ke telingaku” (Papyrus Lansing).

Barangkali akan membantu jika kita membedakan antara (1) konsekuensi, yaitu hasil alami berdasarkan sebab dan akibat (kanker paru akibat merokok); (2) disiplin, yaitu penanaman nilai-nilai dengan cara positif dan kadang negative (pembatasan waktu penggunaan kamar mandi); dan (3) hukuman, yaitu denda untuk kelakuan buruk (dan kurungan untuk pelanggaran hukum).

Guru bijaksana berkata, “Anakmu…tidak akan mati kalau engkau memukulnya dengan rotan” (Ams.23:13). Anak-anak telah mati karena terguncang atau akibat lainnya dari hukuman fisik yang dilakukan oleh orang-orang yang berniat baik. Kekerasan terhadap anak jangan pernah dikemas cantik sebagai disiplin.

Renungan Pagi 16 Mei 2018


“POTRET KASIH ALLAH”
16 Mei 2018

Hal-hal yang Dibenci Allah

Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya” (Amsal 6:16).

Umumnya orang memiliki hal-hal yang dibenci. Terkadang perilaku yang dibenci itu bukan suatu dosa dan bukan pula sesuatu yang mengganggu. Tapi adakalanya, perilaku yang dibenci itu dapat merupakan suatu gangguan yang serius. Namun demikian karena perilaku tersebut umumnya sepele, dalam renungan ini baiklah kita berbicara mengenai perilaku yang melanggar moral dalam pandangan Allah.

Berikut adalah tujuh perilaku yang dipandang melanggar dalam pandangan Allah. Lima yang pertama melibatkan anggota tubuh (dimulai dari kepala lalu ke bawah) yang dipakai untuk bertindak.
1.  “Mata sombong” (Ams.6:17). Secara harfiah, ayat ini berbicara tentang mata yang tinggi (angkuh). Dalam Yesaya 10:12 Allah menggunakan istilah yang sama untuk Sargon II, raja Asyur, yang telah menginvasi tanah Sion.
2.  “Lidah dusta” (ay.17). Di bagian lain Alkitab, ungkapan ini ditujukan untuk menyebut ajaran para nabi palsu (Yer.14:14) dan perilaku orang yang berkhianat (Mzm.109:2). Perilaku mereka berbicara lebih nyata ketimbang kata-kata.
3. “Tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah” (Ams.6:17). Seringkali pembunuhan dilakukan dengan tangan. Mengambil nyawa manusia adalah urusan serius karena masing-masing kita menyandang gambar Allah.
4. “Hati yang membuat rencana-rencana yang jahat” (ay.18). Penulis merujuk pada hati yang merancang kejahatan. Orang Ibrani memandang hati sebagai sumber dari kehendak (karsa), bukan emosi (rasa).
5.  “Kaki yang segera lari menuju kejahatan” (ay.18). Ada orang-orang yang bergegas dalam bertindak untuk mencelakakan orang. Ini bukan tentang kecelakaan yang tak disengaja, karena bagian sebelumnya dari ayat ini berbicara tentang niat untuk melakukan perbuatan yang mencelakakan itu—sebuah kejahatan yang direncanakan.
6.   “Seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan” (ay.19). Sumpah palsu secara khusus dianggap melanggar, dan dilarang dalam Sepuluh Perintah Allah (Kel.20:16).
7.  Seseorang yang “menimbulkan pertengkaran saudara” (Ams.6:19). Orang-orang teretentu memiliki gelar “pembuat masalah” karena selalu memicu perselisihan—bahkan di dalam keluarga sendiri ataupun dalam kelompok social. Tatkala mereka hadir nampaknya ketidakberesan—atau bahkan hal-hal yang lebih buruk—niscaya tak terelakkan.

Benang merah dalam rangkaian tujuh perilaku ini yang dipandang menjijikkan bagi Allah ialah bahwa mereka semua merusak hubungan sosial, dan mengoyakkan tatanan masyarakat.

Monday, May 14, 2018

Renungan Pagi 15 Mei 2018



“POTRET KASIH ALLAH”
15 Mei 2018

Kehancuran Karena Dosa

Padahal mereka menghadang darahnya sendiri dan mengintai nyawanya sendiri” (Amsal 1:18).

Salah satu tema besar di dalam kitab Amsal adalah bahwa orang bijak memilih hidup benar, sedangkan orang bodoh memilih kejahatan. Menurut kebijaksanaan yang telah diterima umum, hidup yang benar memiliki manfaatnya, sedangkan perbuatan jahat akan menghancurkan diri sendiri. Tema ini muncul di dalam pasal pertama Amsal.

Sang “anak” diperingatkan agar tidak bergabung dengan kelompok orang bejat. “Hai anakku, jikalau orang berdosa hendak membujuk engkau, janganlah engkau menurut” (Ams.1:10). Kata benda Ibrani yang diterjemahkan sebagai “orang berdosa” di sini adalah hatta’im, yang diterapkan kepada mereka yang memiliki kebiasaan untuk berbuat jahat. Isitilah tersebut dapat juga diterjemahkan menjadi “penjahat.” Mereka adalah orang-orang bejat yang kegemarannya adalah berbuat jahat.

Bisik-bisik yang disampaikan dan penuh bumbu mengasyikkan dari orang-orang ini bisa jadi akan sangat menarik hati bagi orang muda. Itu dapat menjadi umpatan bagi ego seseorang untuk bergabung dengan kelompok jiwa-jiwa liar tersebut. Dalam contoh Alkitabiah ini mereka berusaha menipu orang muda tersebut untuk masuk ke dalam persekutuan jahat mereka. “Marilah ikut kami…menghadang…orang yang tidak bersalah” (ay.11), bujuk mereka. Bahkan mereka berniat untuk membunuh korban (ay.12). Setelah menyerang orang yang lengah itu, mereka akan mebagi-bagi harta rampasannya. Ajak mereka, “kita akan memenuhi rumah kita dengan barang rampasan” (ay.13). Menjadi cepat kaya, intinya—tapi dicapai dengan cara melanggar hukum dan dengan kekerasan.

Anak-anak muda telah diperingatkan. “Hai anakku, janganlah engkau hidup menurut tingkah laku mereka, tahanlah kakimu dari pada jalan mereka, karena kaki mereka lari menuju kejahatan dan bergegas-gegas untuk menumpahkan darah” (ay.15,16). Ini bukanlah jalan yang seharusnya ditempuh orang muda. Meskipun tidak melibatkan pembunuhan, ajakan mereka akan mengakibatkan pelanggaran hak pribadi korban. Jika Anda pernah mengalami kecurian, maka Anda akan mengetahui bagaimana rasanya hak Anda dilanggar—meskipun secara fisik tidak. Setiap kejahatan pasti melanggar pribadi korban.

Lebih jauh lagi, perangkap yang dirancang oleh para penjahat itu—bahkan jika mereka berhasil menjalankan rencana jahat itu—akan menghancurkan diri sendiri. “Mereka menghadang darahnya sendiri dan mengintai nyawanya sendiri. Demikianlah pengalaman setiap orang yang loba akan keuntungan gelap, yang mengambil nyawa orang yang mempunyainya” (ay.18,19). Efek bumerang dari kejahatan ini mungkin tidak muncul scara langsung seperti dinyatakan oleh ayat ini. Namun demikian “pembuat kejahatan akan hancur sendiri oleh kejahatan yang diciptakannya” (Michael V. Fox, Proverbs 109, Anchor Bible, hlm.89,90).

Sunday, May 13, 2018

Renungan Pagi 14 Mei 2018


“POTRET KASIH ALLAH”
14 Mei 2018

Bimbingan Orang Tua

Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu, sebab karangan bunga yang indah itu bagi kepalamu, dan suatu kalung bagi lehermu” (Amsal 1:8,9).

Barangkali setiap budaya memiliki koleksi ungkapan petuahnya sendiri. Acapkali kita menyebutnya “amsal”—ungkapan singkat yang mudah diingat dan mengandung suatu kebenaran. Di Afganistan mereka berujar: “Jangan tunjukkan padaku pohon palma, tunjukkan kurma.” Di Tiongkok ada ujaran bahwa “seorang yang pintar mengubah masalah besar menjadi masalah kecil, dan masalah kecil menjadi tidak ada masalah.” Orang Mesir berujar: “Belajarlah sopan-santun dari orang yang tidak sopan.” Di Vietnam diujarkan bahwa “Makin tinggi engkau mendaki, semakin parah jatuhmu.” Dan di Zimbabwe orang suka berujar: “Seorang pengecut tak berparut.”

Masalahnya dengan pepatah-pepatah itu adalah meskipun mereka meringkaskan suatu kebenaran, namun hanya satu sisi dari kebenaran. Dan memang, amsal, meskipun benar adanya, dapat bertentangan satu sama lain.  Mungkin Anda pernah mendengar ibunda menasihati bahwa “Banyak tangan akan meringankan pekerjaan.” Dan apakah ayahanda berpetuah, “Terlalu banyak juru masak membikin kaldu rusak.”? Kedua ujar-ujar (yang bertentangan) itu benar, dan…kita menjumpai hal yang sama di dalam kumpulan amsal Alkitab. Amsal 26:4 memerintahkan: “Jangan menjawab orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan engkau sendiri menjadi sama dengan dia.” Nasihat bijak, bukan? Tetapi petuah berikutnya tepat kebalikannya: “Jawablah orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan ia menganggap dirinya bijak” (ay.5).

Di sepanjang kitab Amsal kita membaca nasihat yang baik mengenai bimbingan orang tua: “Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu” (Ams. 1:8), bandingkan Amsal 2:1; 3:1; 4;10; 5:1; 6:1,2; 7:1; dst). Sosok pemberi nasihat ini—seorang tua atau sosok yang berkuasa—tidaklah penting. Di sini kita menemukan kebijaksanaan yang disaring dan diwariskan dari generasi ke generasi. Orang bodoh akan menganggapnya hal sepele, tapi orang bijak—berapa pun usianya—akan menghargainya.

Kata Ibrani yang diterjemahkan sebagai “amsal” berasal dari kata benda mashal, yang merujuk pada perbandingan atau persamaan. Kita mungkin dapat menyebutnya tamsil atau kiasan. Sebagai contoh: “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang” (Ams.17:22).

Berhadapan dengan kebijaksanaan tradisionil, kitab Amsal menyodorkan sebuah tema besar: “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan (Ams.1:7); bdk. Ams.9:10). Takut akan Allah itulah yang dilakukan oleh orang bijak dan dihindari orang bodoh. Itulah sikap yang sebenarnya, membuat seseorang menjadi bijak.