Saturday, April 14, 2018

Renungan Pagi 15 April 2018

“POTRET KASIH ALLAH”
15 April 2018

Keagungan Allah

“Tetapi benarkah Allah hendak diam bersama dengan manusia di atas bumi? Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langitpun tidaklah dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini” (2 Tawarikh 6:18).

Persemian bait suci Salomo merupakan peristiwa yang luar biasa. Alkitab bercerita bahwa ia menyembelih persembahan korban dalam jumlah besar—22.000 ekor lembu dan 120.000 ekor domba (2 Taw.7:5). Darah pastilah telah menganak sungai, dan pekerjaan yang memakan waktu tujuh hari itu membuat para petugas kelelahan. Hal ini dilanjutkan dengan tujuh hari pesta, di mana sesudahnya Salomo menyuruh “bangsa itu pulang ke kemah-kemah mereka sambil bersukacita dan bergembira” (ay.10). Tentulah perayaan yang luar biasa ini akan dikenang terus seumur hidup mereka.

Selain itu yang akan dikenang juga, menurut saya, adalah suatu hal lain yang terjadi selama perayaan persembahan tersebut. Ketika music memenuhi udara, sebentuk awan menandakan kehadiran Allah muncul dan memenuhi bait suci. Kemudian raja melupakan segala tata krama kerajaan menjatuhkan diri berlutut dan memanjatkan sebuah doa yang panjang, yang diikuti dengan datangnya api dari langit yang memakan habis korban persembahan di mezbah korban bakaran.

Doa sang raja berisikan hal yang besar—gagasan yang dapat dikupas hingga berhalaman-halaman. Salah satu buah pikiran Salomo dapat dilihat dalam ayat kita hari ini. Salomo dan rombongannya telah menyaksikan awan kemuliaan Allah memenuhi bait suci sehingga para imam harus keluar dan menghentikan tugas mereka. Namun, di balik pertunjukan akbar kehadiran Allah itu, Salomo berkata bahwa Allah tidak dapat sungguh-sungguh “diam bersama dengan manusia di atas bumi”. Bagaimana mungkin sebuah gedung semegah bait suci Salomo dapat “memuat” Allah, sedangkan “langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit pun tidak dapat memuat”-Nya?

Pengakuan iman Salomo telah melampaui zamannya! Pengakuan tersebut merupakan lompatan besar teologis yang jauh melampaui zaman di mana masyarakat saat itu dipenuhi takhyul. ((Ingat, Timur Dekat kuno bukanlah Amerika atau peradaban Barat lainnya).

Para ahli teologi menemukan sebuah paradox (kadang-kadang disebut sebuah “antinomy”) tentang hal ini. Dalam keberadaan-Nya, Allah ada di sini beserta kita—di sisi kita sebagian kawan seperjuangan. Tetapi hal itu bukanlah pandangan yang utuh tentang Allah. Ia juga transenden—“di atas,” “di luar”, dan “melampaui” ciptaan-Nya dan melampaui pengetahuan kita. Terlalu menekankan salah satu aspek akan membawa pada kesesatan.

Friday, April 13, 2018

Renungan Pagi 14 April 2018


“POTRET KASIH ALLAH”
14 April 2018

Bait Allah Versus Sinagoge

“Pada ketika itu rumah itu, yakni rumah TUHAN, dipenuhi awan, sehingga imam-imam itu tidak tahan berdiri untuk menyelenggarakan kebaktian oleh karena awan itu, sebab kemuliaan TUHAN memenuhi rumah Allah” (2 Tawarikh 5:13,14).

Pada hari peresmian bait suci Salomo, dua kali kemuliaan Allah hadir memberkati bangunan baru itu, menjadikannya sebuah tempat suci. Salah satu perabotan penting di dalam bait suci tersebut adalah mezbah korban bakaran. Pada tempat itulah orang Israel membawa persembahan penghapus dosa mereka dan disanalah para imam menjalankan tugas suci mereka yang mengatur persembahan korban tersebut, dan mewakili mereka untuk menghadap kepada Allah. (Akses kepada Allah sangatlah terbatas: orang hanya diperkenankan masuk ke dalam halaman, sambil membawa hewan korban; para imam lalu menyembelih hewan-hewan itu dan memercikkan darahnya di dalam bilik kudus; dan imam besar hanya sekali dalam setahun—pada hari Yom Kippur—diperkenankan memasuki Bilik Mahakudus, di hadapan hadirat Shekinah.)

Setelah Nebukadnezar menghancurkan bait yang megah itu, orang-orang Israel dalam pelarian mereka menemukan penggantinya—dalam bentuk sinagoge. Tidak ada persembahan korban, sehingga tidak dibutuhkan imam. “Dikelola” oleh umat awam, gulungan Taurat menggantikan altar perunggu sebagai pusat ibadah. Di sinagoge itu pula, kehadiran Allah digantikan dengan Firman-Nya. Pada masa Yesus (dan sesudahnya), sinagoge ada (terkadang di rumah-rumah) di kota-kota di mana masyarakat Yahudi berdiam.

Meskipun orang Kristen mula-mula rajin berkunjung ke bait Allah di Yerusalem, ibadah mingguan mereka secara garis besar mirip dengan ibadah di sinagoge. Firman Allah, bukan persembahan korban, yang menjadi pusat perhatian, dan orang awam, bukan imam, yang bertugas. Gereja Kristen dan aturan ibadahnya memiliki banyak kemiripan dengan ibadah di sinagoge, dan hanya sedikit kesamaan dengan ibadah di Bait Allah, tanpa mezbah dan tanpa imam. (Kekristenan yang dijalankan oleh Katolik Roma lebih mirip dengan ritual bait Allah, dan setiap minggu imam-imam mereka mempersembahkan—dan masih melakukan—korban Misa.)

Yang masih sedikit membingungkan, adalah ketika mendengar orang berbicara mengenai “panggilan mezbah” (altar calls), karena tidak ada mezbah di gereja-gereja kita. Bagian penting dalam ibadah kita adalah penjabaran Alkitab bukannya persembahan korban. Selain itu, penekanan untuk menjaga keheningan di hadirat Allah juga agak kurang tepat sasaran karena gereja bukanlah bait suci yang menyimpan wujud kehadiran Allah. Karenanya suara-suara yang nyaring diangkat memuji Allah dan bahkan saling menyapa antar peserta ibadah boleh saja dilakukan.

Thursday, April 12, 2018

Renungan Pagi 13 April 2018

“POTRET KASIH ALLAH”
13 April 2018

Para Pekerja yang Tidak Kudus?

“Dan Huram membuat juga kuali-kuali, penyodok-penyodok dan bokor-bokor penyiraman. Demikianlah Huram menyelesaikan pekerjaan yang harus dilakukannya bagi raja Salomo di rumah Allah” (2 Tawarikh 4:11).

Dari waktu ke waktu pertanyaan ini muncul di lingkungan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh tentang pantas tidaknya mempekerjakan orang-orang non-Advent dalam pekerjaan gereja—misalnya untuk mencetak literature kita yang berisi kebenaran (“Apakah kita mencetak Adventist Review di percetakan yang juga mencetak majalah Playboy?”); untuk membiayai pekerjaan gereja (dengan uang “kotor”); atau untuk bekerja secara fisik di pembangunan gereja, sekolah, rumah sakit, dan lembaga lainnya (“tangan-tangan kotor” menyentuh material untuk bangunan suci?). Banyak orang Advent mula-mula yang bahkan menolak menyebutkan nama-nama hari dan menggantinya dengan hari kesatu, hari kedua, hari keenam, dst. Mengapa? Karena hari-hari dalam seminggu itu kita tahu berkaitan dengan nama-nama dewa kaum penyembah berhala—hari matahari, hari bulan, hari Thor, dst.

Mari pertama-tama kita perhatikan apa yang dilakukan oleh orang Advent masa kini. Apakah kita harus menghilangkan istilah-istilah yang memiliki akar penyembahan berhala? Haruskah kita menyebut “hari keempat” dan bukannya hari Rabu (Wednesday) yang mengandung nama Odin, dewa tertinggi suku Skandinavia di Jerman? Apakah ada contoh di dalam Alkitab yang dapat menolong kita dalam hal ini? Ternyata ada, di dalam 1 Raja-raja 8:2 dikatakan bahwa bait Allah buatan Salomo diresmikan pada bulan Etanim, dari bahasa Kanaan, dan bukannya Tishri, Bahasa Ibrani yang sama-sama memiliki arti bulan ketujuh. Orang Israel juga menyebut bulan kesepuluh dalam tahun upacara (bulan keempat penanggalan umum) dengan Tammuz, nama dewa yang sekaligus juga nama bulan—sebuah istilah Mesopotamia yang mereka pelajari selama pembuangan di Babel.

Sekarang kita dapat kembali ke topik semula. Mungkin akan mengejutkan sebagian orang jika melihat bahwa bukan hanya orang Israel yang bekerja dalam pembangunan bait suci Salomo. Seperti yang ditunjukkan oleh ayat Alkitab hari ini, Huram, yang memiliki ibu dari suku Dan dan ayah orang Tirus, membuat beberapa benda yang akan digunakan sebagai persembahan kudus bagi TUHAN. Huram, raja Tirus, mengirimkan orang ini dan ahli-ahli lainnya untuk membantu proyek tersebut. Selain itu, Salomo juga mempekerjakan (katanya yang diperhalus untuk “memperbudak”) lebih dari 100.000 orang asing yang tinggal di wilayahnya dalam pelbagai pekerjaan di proyeknya (2 Taw.2:2, 17,18).

Jadi mungkin mulai saat ini, kita tidak boleh membiarkan hati nurani kita menjadi terlalu peka. Atau barangkali saraf spiritual kita akan selalu gelisah bila berkenaan dengan standar dan cita rasa kita.

Wednesday, April 11, 2018

Renungan Pagi 12 April 2018


“POTRET KASIH ALLAH”
12 April 2018

Allah Pantas Mendapatkan yang Terbaik dari Kita

“Dan rumah yang hendak kudirikan itu harus besar, sebab Allah kami lebih besar dari segala allah” (2 Tawarikh 2:5).

Baik Daud maupun Salomo ingin membangun Bait bagi Allah sebagai monumen yang kemegahannya tiada banding. Saat itu, kemah pertemuan Musa telah menjadi semacam benda keramat saja. Kemah tersebut telah menjalankan fungsinya dengan baik sebagai kemah suci yang dapat berpindah-pindah, tetapi sekarang dengan berdirinya sebuah kerajaan dengan ibukota yang tetap di Yerusalem, sudah waktunya untuk mendirikan sebuah bangunan yang lebih megah—sesuatu yang sesuai dengan kemuliaan Allah.

Daud, setelah dilarang oleh TUHAN untuk membangun Bait Allah selama masa pemerintahannya, mulai mengumpulkan bahan-bahan berharga untuk bangunan besar yang akan didirikan oleh anaknya. Menurut 1 Tawarikh 22:14 dan 29:1-6, untuk keperluan itu Daud telah mengumpulkan 3.883 ton emas dan 37.964 ton perak. Sebagai tambahan, para pejabat di pemerintahannya turut menyumbang 188,5 ton emas, 377 ton perak, 678,6 ton perunggu, dan 3.770 ton besi, belum termasuk permata berharga dan 10.000 uang emas ( 1 Taw.29:7,8, satu talenta sama dengan 75,4 pon, sedangkan 1 pon = 0,454 kg).

Raja Salomo membayar kepada Huram, raja Tirus, untuk mengirimkan sejumlah besar ahli kerajinan beserta kayu aras, sanobar dan cendana dari gunung Libanon yang dibutuhkan untuk pembangunan itu: 2.540 ton gandum, 2.540 ton jelai, 416.395 liter anggur, dan 416.395 liter minyak zaitun ( 2 Taw.2:10). Sebagai tambahan, Salomo juga mempekerjakan orang asing di daerah kekuasaannya sebagai budak—70.000 sebagai tukang angkut, 80.000 sebagai pemecah batu, dan 3.600 orang sebagai mandor (ay.17,18). Setelah jadi, bangunan tersebut akan berukuran kira-kira 30.5 meter panjangnya, 9,14 meter lebarnya, dan 15,24 meter tingginya.
Padahal kita mengira bahwa proyek pembangunan gereja kita memakan biaya terlalu banyak!

Ada kalangan Advent yang berpendapat bahwa kita tidak perlu berlebihan dalam mengeluarkan biaya pembangunan sebuah gereja baru, dan dari penampilan banyak gereja rupanya pendapat kalangan inilah yang dipakai! Lagipula, menurut kalangan ini, Tuhan segera datang, dan kita seharusnya menyumbang untuk bidang yang lain, misalnya bidang misi. Proyek-proyek misi tentu pantas mendapatkan dukungan kita, tapi benarkah ke sana kita sumbangkan uang kita? Sedihnya, fakta menunjukkan bahwa orang-orang yang berpendapat demikian seringkali menempati rumah-rumah yang lebih megah ketimbang gereja mereka—situsi yang tidak dapat diterima oleh Daud. Sudah seharusnyalah, tempat ibadah kita mencerminkan rasa cinta kita kepada Allah. Ups! Barangkali mereka pun (merasa) demikian…dan itulah masalahnya.

Tuesday, April 10, 2018

Renungan Pagi 11 April 2018


“POTRET KASIH ALLAH”
11 April 2018

Kekuatan Musik

“Mereka bernubuat dengan diiringi kecapi, gambus dan ceracap” (1 Tawarikh 25;1).

Musik memiliki efek yang kuat bagi jiwa, sesuatu yang sudah diketahui sejak zaman dahulu. Ia dapat menenangkan, seperti pada lagu pengantar tidur dan lagu-lagu cinta. Ia dapat menggugah, seperti dalam musik perang atau musik yang menyeramkan. (Pernahkah Anda mematikan suara musik dari suatu film? Niscaya efek keseluruhan film itu akan berkurang secara drastis.) Musik telah lama digunakan untuk mengurangi stres, rasa sakit, gangguan emosi dan kekacauan mental.

Singkatnya, musik mempengaruhi dan mengungkapkan emosi, dan dapat terjadi sebaliknya seperti sebuah efek melingkar. Menyanyikan rasa cinta kita—kepada manusia atau kepada Allah—dapat juga meningkatkan emosi. Dan ketika tempo musik dimainkan, katakanlah, lewat dari 100 ketukan per menit, dan ketika iramanya meninggi, kita dapat mengalami suatu kondisi transenden dalam mana pikiran dan perasaan kita akan terangkat. (Terkadang kita menyebut keadaan ini”kegembiraan yang luar biasa.”)

Pengalaman semacam itulah yang kadang-kadang di dalam Perjanjian Lama dikaitkan dengan musik, dan menyebutnya dengan menggunakan kata benda “nubuat” atau kata kerja “bernubuat”. Ketika Saul pergi ke Gibea, ia bertemu dengan sekelompok nabi dengan “gambus, rebana, suling dan kecapi” yang “bernubuat,” dan ia sendiri pun mengalami kepenuhan itu (1 Sam.10:5),6,10,11). (Lihat juga 1 Sam. 19:20-24, di mana ia mengalami kepenuhan sambil telanjang semalaman.) Dan begitu pula ketika di kemudian hari Daud, ketia ia menjadi raja, menunjuk sekelompok musisi bait Allah untuk “bernubuat dengan diiringi kecapi, gambus dan ceracap” (1 Taw.25:1), untuk meningkatkan suasana penyembahan. Ketika Elisa ingin memunculkan karunia nubuatannya, ia pun memanggil pemain musik (2 Raj.3:15).

Kaum Pentakosta tidak berkeberatan dengan gagasan bahwasanya karunia rohani untuk bernubuat dapat (dan telah) terwujud di dalam gereja, termasuk di dalam gereja Advent. Namun mereka merasa sangat kebingungan menyaksikan ibadah gereja kita yang begitu hambar. Mengapa pula mereka membandingkan ibadah kelompok mereka yang penuh esktase emosional dengan ibadah kita yang tidak menampakkan emosi? Ibadah kelompok Advent mula-mula ditandai dengan antusiasme spiritual di mana orang-orang berteriak, menangis, dan pingsan dan kaum wanita memukuli kepala mereka begitu keras sehingga ikat rambut mereka terlepas. Saya belum siap dengan pertunjukan emosi semacam itu di gereja (bukan tipe saya, seperti kata mereka), tetapi mungkin kita juga tidak perlu takut menggunakan musik untuk menaikkan puji-pujian kita kepada Allah.

Ada yang memprotes beberapa jenis musik tertentu tidak tepat untuk digunakan dalam ibadah, tetapi mungkin kita harus mengurangi kritikan semacam itu karena tidak adanya jaminan Alkitabiah mengenai hal itu.

Monday, April 9, 2018

Renungan Pagi 10 April 2018

“POTRET KASIH ALLAH”
10 April 2018

Allah Mengubah Pikiran-Nya… Lagi

“Lalu menyesallah Ia karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya itu” (1 Tawarikh 21:15).

Allah sangat murka atas sensus yang dilakukan oleh Daud, dan Daud segera mengakui kesalahannya. Melihat penyesalan Daud, Allah mengirimkan pesan kepada sang raja melalui Gad, nabi di kerajaan Daud. Allah memberikan tiga pilihan kepada Raja Daud sebagai hukumannya: (1) tiga tahun kelaparan di negerinya, (2) tiga bulan lari dikejar-kejar lawannya, atau (3) tiga hari penyakit sampar yang mematikan. Daud memilih apa yang dikiranya paling ringan—tiga hari penyakit sampar yang disebarkan oleh malaikat maut Allah.

Maka dalam hitungan jam, 70.000 rakyat Daud mati, dan malaikat kematian berkeliling Yerusalem, menuangkan botol berisi wabah penyakit. Kota itu tidak lama lagi akan musnah, tetapi Allah “melihatnya, lalu menyesallah Ia karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya itu, lalu berfirmanlah Ia kepada malaikat pemusnah itu: “Cukup! Turunkanlah sekarang tanganmu itu!”” (1 Taw.21:15).

Kata kerja Ibrani yang menjelaskan perasaan Allah itu nacham. Artinya menyesali sesuatu dengan rasa sakit di dada. Tiga puluh tujuh kali dalam Perjanjian Lama kata ini digunakan untuk menunjukkan perubahan pikiran, dan dari 37 kali itu hanya 7 kali menunjukkan penyesalan manusia. Tiga puluh kali merujuk kepada Allah sebagai subjek—pihak yang menyesal.

Ketetapan Allah (istilah yang gemar digunakan kaum Calvinis) tidak seperti “undang-undang Media dan Persia,” yang tidak bisa berubah. Allah sedang berhubungan dengan umat-Nya. Sikap mereka dapat mengubahkan sikap Allah terhadap mereka. Sebagai contoh, penyesalan Daud yang mula-mula tidak cukup untuk menimbulkan perubahan dari Allah. Tetapi rasa sesalnya yang berlanjut akhirnya menggerakkan hati Allah bahwa Ia harus mengubah perintah yang diberikan-Nya kepada malaikat maut.

Ini hanyalah salah satu contoh dalam Alkitab mengenai dinamika yang terjadi antara manusia dan Allah dan sebaliknya yang menyebabkan berubahnya rencana Allah. Sama seperti kita manusia yang meiliki kebebasan untuk mengubah arah dan rencana dalam hidup, Allah juga memiliki kebebasan untuk bertindak—bahkan untuk mengubah rencana dan tindakan-Nya. Karena penyesalan Daud yang terus berlanjut, sebauh situasi yang baru pun muncul, dan Allah dalam kemurahan hati-Nya yang penuh kasih menyesuaikan tindakan-Nya, yang menurut kita digambarkan sebagai perubahan pikiran. Itulah pula mengapa Allah dapat berfirman tentang masa depan dengan istilah yang tidak pasti, seperti “mungkin” atau “jika”. Dalam kemurahan hati-Nya inilah, Allah disebut “mahacerdas” oleh Gregory Boyd. Kesediaan Allah untuk beradaptasi bukanlah sebuah cela, melainkan sebuah kebaikan hati.

Sunday, April 8, 2018

Renungan Pagi 9 April 2018


“POTRET KASIH ALLAH”
9 April 2018

Kesalahan Siapa?

“Iblis…membujuk Daud untuk menghitung orang Israel” (1 Tawarkih 21:1).

Setiap membaca kisah ini, pertanyaan membanjiri benak kita. Tentu saja kita tidak dapat membahas semuanya di sini. Namun ada satu aspek yang dapat kita sentuh: siapakah yang bertanggung jawab atas keputusan Daud untuk mengadakan sensus di Israel?

Menariknya, Alkitab memberikan berbagai sinyal petunjuk tentang siapa yang bertanggung jawab atas sensus yang menimbulkan kesedihan di hati Raja Daud dan rakyatnya itu. Saya mengajak kita untuk sejenak merenungkan hal ini.

Kitab Tawarikh di dalam ayat hari ini memberitahu kita bahwa Iblislah yang telah membujuk Daud untuk mengadakan sensus. Ini adalah satu-satunya ayat dalam Alkitab di mana kata Ibrani untuk Iblis tidak memakai kata sandang (dalam Bahasa Inggris, kata “Satan” di sini tidak memakai kata sandang “the”.) dengan kata lain, “Iblis” dalam ayat ini bukan merupakan kata ganti nama, sebutan, ataupun julukan. Di sini, meskipun tidak dipakai kata sandang, nampaknya pada saat kitab Tawarikh ini ditulis kata tersebut hendak merujuk pada seseorang. (Bandingkan dengan penggunaan kata “the pastor” dibandingkan “pastor”.) Jadi menurut kitab ini, Iblislah yang telah membujuk Daud untuk melakukan sensus.

Dalam 2 Samuel 24:1, yang mencatat juga kisah yang sama, kita diberitahu bahwa TUHAN murka kepada Daud dan “menghasut Daud…, firman-Nya: “Pergilah, hitunglah orang Israel dan orang Yehuda. “Jadi, menurut ayat ini, Allah yang membuat Daud melakukannya…dan kemudian menghukumnya karena telah menaati dorongan Ilahi!

Tapi kita belum sampai di akhir cerita. Catatan di dalam 2 Samuel dan 1 Tawarikh ternyata berisi sinyal yang salah, karena dalam ayat-ayat selanjutnya Daud mengakui bahwa dialah yang memutuskan dilakukannya sensus: “Bukankah aku ini yang menyuruh menghitung rakyat dan aku sendirilah yang telah berdosa dan yang melakukan kejahatan” (1 Taw. 21:17) dan “Sesungguhnya, aku telah berdosa, dan aku telah membuat kesalahan” (2 Sam.24:17). Daudlah yang bertanggung jawab untuk tindakan yang diambilnya (bahkan Yoab, tangan kanannya, sudah mencegahnya melakukan sensus itu), bukan Iblis dan bukan Allah.

Allah telah memberikan kita kehendak bebas dan memberikan kita ganjaran berat dengan memanggil kita untuk mempertanggungjawabkannya. Itulah yang disebut keadilan. Seperti Daud, kita juga perlu mengakui kesalahan kita. Alasan-alasan “Setan membuatku melakukan ini” atau “Tuhan yang menyuruhku melakukannya” tidak sah. Karena kita telah diberkati dengan kehendak bebas, jawaban kita satu-satunya adalah “Ya, saya bersalah.” Dan ketika kita mau bertanggung jawab atas tindakan kita, maka Allah, hakim kita yang pemurah, dapat memberikan ampunan yang kita butuhkan.


Saturday, April 7, 2018

Renungan Pagi 8 April 2018

“POTRET KASIH ALLAH”
8 April 2018

Kepemimpinan yang Baik

“Demikianlah Daud telah memerintah atas seluruh Israel, dan menegakkan keadilan dan kebenaran bagi seluruh bangsanya” (1 Tawarikh 18:14).

Kita sering menjumpai betapa pemerintahan raja-raja Israel diringkas dengan kata-kata negatif. Raja Nadab “melakukan apa yang jahat di mata TUHAN” (1 Raj.15:26); Baesa juga “melakukan apa yang jahat di mata TUHAN” (ay.34). Raja Omri “melakukan apa yang jahat di mata TUHAN dan ia melakukan kejahatan lebih dari pada segala orang yang mendahuluinya” (1 Raj. 16:25); Yoram “melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, tetapi bukan seperti ayahnya dan seperti ibunya” (1 Raj. 3:2). Dan bahkan Raja Salomo dicatat “melakukan apa yang jahat di mata TUHAN” (1 Raj.11:6).

Namun ayat Alkitab hari ini mengatakan bahwa Raja Daud ( di samping beberapa catat celanya) “menegakkan keadilan dan kebenaran bagi seluruh bangsanya.” Sebenarnya apakah yang membuat pemerintahannya mendapat predikat yang gemilang seperti itu? Ayat ini ternyata menggunakan kata Ibrani “asah”. Kata ini menempati urutan ketiga sebagai kata yang paling banyak digunakan di dalam Perjanjian Lama, dan dapat berarti “membuat,” “menciptakan”, “melakukan.” Dengan kata lain, Daud telah menciptakan sesuatu, membuat sesuatu menjadi ada.

Dan apakah yang telah dijadikan oleh Daud? Ayat hari ini menjelaskan dengan menggunakan kata benda mishpat (keadilan) dan tsedaqah (kebenaran). Daud menciptakan dua kondisi ini—keadilan dan kebenaran. Dua kata yang nampak sama bagi kita, tapi memiliki nuansa yang berbeda.

Kata pertama, misphat, kadang-kadang merujuk pada tindakan memberi keputusan dalam suatu peradilan, tetapi sebenarnya memiliki arti lebih dari itu. Semua raja—baik atau buruk—membuat banyak keputusan hukum. Lalu mengapa Daud yang dipuji-puji karena melakukan hal itu? Karena kata tersebut mengandung arti adanya tatanan sosial yang dilanggar—dua pihak yang saling berselisih. Kemudian datanglah pihak ketiga—dalam hal ini Daud—untuk mengembalikan keselarasan dengan menegakkan misphat.

Kata kedua, tsedaqah, memiliki makna yang luas kesetiaan dan kemurahan hati. Hal ini menunjukkan bahwa keputusan-keputusan yang dibuat oleh Raja Daud adalah adil dan tak berpihak. Yang bersalah dihukum secara adil, yang tak bersalah dibebaskan. Singkatnya, Daud memulihkan keadilan.

Sekarang, itulah yang disebut kepemimpinan yang baik—hanya pilih kasih terhadap mereka yang tak bersalah! Ketika yang bersalah dihukum keadilan pun ditegakkan—bagi seluruh masyarakat. Sikap- pilih kasih merusak hubungan, tetapi ketidakberpihakan memelihara hubungan. Para pemimpin kelas satu, termasuk orang tua, ciptakanlah atmosfer di dalam mana kesejahteraan selaras bisa bertumbuh.

Friday, April 6, 2018

Renungan Pagi 7 April 2018


“POTRET KASIH ALLAH”
7 April 2018

Kerajaan Siapakah Ini?

“Dan Aku menegakkan dia dalam rumah-Ku dan dalam kerajaan-Ku untuk selama-lamanya dan takhtanya akan kokoh untuk selama-lamanya” (1 Tawarikh 17:14).

Kita sering berbicara tentang kerajaan Saul atau pemerintahan Daud atas bangsanya. Dan berbicara seperti itu tidak terlalu salah. Tapi ada sesuatu yang lain dalam potret ini ketimbang hanya Saul, Daud, salomo, Yoas, atau para penguasa lain yang duduk di singgasana, yang sedang memimpin kerajaan mereka.

Samuel tidak senang ketika mendengar tuntutan orang Israel yang menghendaki seorang raja (1 Sam.8:5). Tetapi Allah menjelaskan kepadanya bahwa “bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka” (ay.7). namun Allah tidak menyerah begitu saja. Boleh jadi mereka menolak-Nya sebagai raja mereka, tapi Ia tak pernah menolak mereka sebagai umat-Nya.

Kesetiaan mereka dalam perjanjian yang dibuat Allah dengan Abraham tergantung pada ketaatan mereka terhadap kehendak Allah, tapi kesetiaan Allah muncul dari sifat belas kasihan-Nya yang tidak berubah.

Karenanya bukanlah sesuatu yang aneh bagi kita bila Allah masih menganggap diri-Nya sebagai raja. Ia tak pernah melupakan janji-Nya: “Aku akan mengangkat kamu menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu” (Kel.6:6). Allah juga berkata bahwa mereka akan menjadi “harta kesayangan”—Nya (Kej.19:5), dan di tempat lain Musa menunjukkan bahwa Allah telah memilih Israel sebagai “umat kesayangan-Nya” (Ul.14:2). Di dalam terjemahan bahsa Inggris, digunakan istilah “Peculiar” (peculiar treasure dan peculiar people) yang berarti “aneh” atau “ganjil”. Sedangkan bahasa aslinya, Ibrani, menggunakan kata yang berarti “milik pribadi” atau “milik yang berharga”. (Ternyata kata peculiar” berasal dari kata dalam Bahasa Latin yang berarti “milik pribadi”.) Dan juga disepanjang Alkitab, orang Israel sering disebut sebagai “umat-Nya,” dan Allah sendiri memangil mereka “umat-Ku.”

Sehingga bukan tanpa makna bila Allah mengatakan kepada Daud bahwa Ia akan “menegakkan dia (Salomo) dalam rumah-Ku dan dalam kerajaan-Ku” (1 Taw.17:14). Orang Israel masih menjadi umat Allah. TUHAN masih memerintah mereka karena yang mereka dirikan adalah kerajaan-Nya. Salomo, dengan kata lain, adalah raja bawahan dari TUHAN. Allah masih memerintah; Salomo adalah penguasa kedua. Dan karena itulah dikatakan bahwa Salomo duduk di “atas takhta pemerintahan TUHAN atas Israel”                      (1 Taw.28:5).

Kita adalah makhluk terbatas, manusia lemah yang tidak berdaya mengusir Allah yang tak terbatas dan maha kuasa dari atas takhta-Nya. Kita bisa saja mengusir-Nya dari hati kita, tetapi itu tidak dapat membuat-Nya menyingkir dari kita.

Thursday, April 5, 2018

PERTENTANGAN KOSMIS

Triwulan II 2018
Sekolah Sabat Dewasa Pelajaran 1
PERTENTANGAN KOSMIS


PELAJARAN 1, *31 Mar - 6 Apr
Saya ingin kita memulai dengan melihat ayat hafalan untuk Sabat ini: Wahyu 12:17 Maka marahlah naga itu kepada perempuan itu, lalu pergi memerangi keturunannya yang lain, yang menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus. Inilah yang akan kita pelajari sepanjang sabat ini “peperangan"ataupun yang kita sering dengan “pertentangan besar."Dalam pelajaran kita kali ini, kita akan melihat bagaimana akar dosa itu terjadi dalam diri Lucifer yang kemudian membawa pemberontakannya kedunia ini dengan mengikuti sertakan Adam dan Hawa. Mari kita memulaikannya dengan pertanyaan “bagaimana hal ini (dosa ataupun kejahatan) dapat dimulaikan?" mengingat bahwa Tuhan menciptakan segala sesuatunya adalah sempurna. Sebelum kita menjawab pertanyaan diatas, saya ingin menyelipkan satu pengertian yang kita terima, bahwa tentu dosa itu berasal atau bermula dari Lucifer, kita bisa lihat ayatnya dalam Yehezkiel 28:1, 2, 11-17 dan Yesaya 14:12-14. [1] Serta tulisan Roh Nubuat berikut ini:
“Telah begitu lama seluruh makhluk ciptaan menyatakan kesetiaan kasih, yang adalah telah menjadi kesempurnaan yang selaras bagi seluruh alam semesta milik Tuhan. Itu adalah kebahagiaan dari seluruh penduduk surgawi untuk memenuhi tujuan dari pencipta mereka. Mereka telah berbahagia didalam merefleksikan kemuliaan-Nya dan menunjukkan pujian dihadapan-Nya. Dan ketika kasih kepada Allah telah menjadi hal yang terpenting, kasih kepada satu dengan yang lain bersifat tulus dan tidak mementingkan diri sendiri. Tidak ada satu nada sumbang yang menganggu keselarasan alam semesta. Tetapi perubahan telah terjadi atas kebahagiaan yang ada saat ini. Ada satu pribadi yang telah menyalahgunakan kebebasan yang telah diberikan Tuhan kepada semua ciptaan-Nya. Dosa berasal dari dia, yang setingkat lebih rendah dari Kristus, dan yang paling dihormati oleh Tuhan. Patriarchs and Prophets, p. 35. [2]
—tetapi pertanyaan yang lebih dalam adalah darimana dan bagaimana bisa ada timbul embrio dosa dalam diri atau hati Lucifer yang adalah ciptaan yang sempurna ini? Mari kita lihat langsung jawabannya dalam Alkitab dan tulisan E. G. White
2 Tesalonika 2:7-8 Karena secara rahasia kedurhakaan telah mulai bekerja, tetapi sekarang masih ada yang menahan. Kalau yang menahannya itu telah disingkirkan, pada waktu itulah si pendurhaka baru akan menyatakan dirinya, tetapi Tuhan Yesus akan membunuhnya dengan nafas mulut-Nya dan akan memusnahkannya, kalau Ia datang kembali.
Saya tidak akan membahas perkataan setelah yang saya garis bawahi, tetapi agar tidak kehilangan konteks ayatnya maka saya ikut sertakan sampai ayat 8. Perhatikan bahwa kedurhakaan, kejahatan, dosa itu telah mulai bekerja secara rahasia—alias susah untuk dapat diterangkan “misterius"—bagaimana mungkin dalam dunia tanpa dosa, tidak mengenal dosa, sempurna—bisa terjadi dosa? How come? Ingat tidak semua pertanyaan kita manusia yang terbatas ini dapat terjawab! Kemudian Ellen White mengatakan demikian: “Adalah tidak mungkin untuk menjelaskan asal mula dosa juga sebagaimana dalam memberikan sebuah alasan untuk keberadaan dosa itu sendiri... dosa adalah penyusupan, sehingga tidak ada alasan yang dapat diberikan untuk keberadaan dosa itu sendiri. Dosa adalah sesuatu yang misterius, dan tidak dapat diketahui; mengijinkan keberadaan dosa adalah sama dengan mempertahankannya, kemudian itu akan menjadi dosa."—Alfa dan Omega, jld. 8, hlm. 516. [3]

Kemudian mari kita melihat catatan Alkitab untuk kejatuhan manusia. Kita bisa melihat dalam Kejadian 3:1-7—ada beberapa hal yang menarik yang dapat kita tarik dari pelajaran, yang mungkin sudah sering kita dengar ini. Perhatikan kata-kata Hawa kepada ular yang mengatakan bahwa "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?" ... jawaban Hawa: "Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati. —Hawa dan Adam bukan tidak mengerti tentang firman Tuhan, bukan tidak meresapi arti dari setiap firman itu—tetapi ada satu hal penting yang tidak ada dalam pikiran Adam dan Hawa yaitu gantinya berserah dan percaya pada firman Tuhan, mereka menaruh kepercayaan mereka kepada iblis. Mari kita belajar untuk berserah dan percaya kepada firman Tuhan, bukan hanya sekedar mengetahui atau bahkan ahli dalam menjelaskan firman Tuhan—tetapi kita harus berserah, percaya dan melakukan firman Tuhan itu. Peperangan itu telah terjadi dan kita bisa melihatnya dengan lebih jelas melalui Alkitab dalam Wahyu 12:1-17—yang akan saya coba bagi sebagai berikut:

Wahyu 12:1-17 = peperangan sepanjang zaman sejak surga sampai saat ini
Wahyu 12:7-9 = ini adalah pertempuran pertama yaitu antara setan dan Mikhael (Who is like God?)—Yesus. Setan kalah disurga
Wahyu 12:4 = setan berusahan menyerang-Nya di dunia setelah kelahiran manusia-Nya. Gagal melawan Kristus, dan kemudian gagal melawan Dia di padang gurun dan kemudian di Salib, Setan—setelah kekalahan yang tidak dapa diubah di Golgota—pergi berperang melawan umat Allah.
Wahyu 12:6, 14-17 = Peperangan disepanjang sejarah pengikut Kristus (Kristena) dan dilanjutkan sampai akhir zaman.

Artinya jika kita membaca baik-baik kitab Wahyu 12 kita melihat peperangan ini adalah antara ciptaan (setan) dengan pencipta (Tuhan). Lalu dilanjutkan serangan kepada Yesus sebagai manusia, anak perempuan itu, kemudian kepada perempuan itu sendiri, lalu kepada keturunan perempuan yang lain—yang menuruti hukum Allah dan kesaksian Yesus. Satu pertanyaan yang sangat penting adalah bagaimana kita dapat bertahan? Umat-umat Tuhan dapat bertahan menang menghadapi serangan-serangan setan? Karena jika Tuhan menang, tentu itu wajar. Tapi bagaimana dengan kita? Bagaimana suapaya menang? Sama halnya dengan Adam dan Hawa, mereka tidak akan kalah bila tetap percaya dan berserah pada firman-Nya—karena Allah mengasihi mereka dan kita juga wajib merespons kasih-Nya dengan percaya dan melakukan firman-Nya, meskipun mungkin kematian menjadi resiko kita mengikuti Yesus. Seperti yang dikatakan oleh Paulus:
2 Timotius 4:8 Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.
Inilah yang telah memberikan kekuatan disepanjang jaman, keriduan akan kedatagan Yesus Kristus yang kedua kali—menjadi pengharapan bagi semua orang, termasuk mereka yang telah dianiyaya—yang disebutkan dalam Wahyu 12:6, 14—(satu masa, dua masa dan setengah masa; 1260 hari = tahun 538-1798) . Disebutkan oleh Ellen G. White sebagai berikut:
“Penganiayaan ini bermula pada zaman Kaisar Nero, pada waktu Rasul Paulus mati syahid, berlangsung terus dengan semakin kejam atau tidak kurang kejam selama berabad-abad. Orang-orang Kristen dituduh dengan tuduhan palsu melakukan kejahatan yang paling mengerikan, dan dinyatakan sebagai penyebab bencana-bencana besar seperti bahaya kelaparan, wabah dan gempa bumi. Sementara mereka menjadi sasaran kebencian dan kecurigaan, para penuduh, demi keuntungannya menkhianati orang yang tidak bersalah itu. Mereka dituduh sebagai pemberontak yang melawan kerajaan, sebagai musuh agama, dan sebagai wabah bagi masyarakat. Banyak yang dilemparkan kepada binatang buas dan dibakar hidup-hidup di amfiteater."—Alfa dan Omega, jld. 8, hlm. 41. [4]
Dan ini semua tergambar dengan jelas dalam nama kita. Pengharapan kita dan yang kita ingin lakukan diatas dunia ini dalam menantikan pengharapan itu. Gereja Masehi Advent hari Ketujuh. Bagian hari ketujuh menunjukkan Sabat hari ketujuh, yang menunjuk kepada keyakinan kita, bukan hanya dalam satu hukum itu sendiri tetapi, melalui maksud, keyakinan kita dan sepuluh hukum. Advent menunjuk kepada keyakinan pada kedatangan Yesus yang kedua kali. Oleh karena itu, nama Masehi Advent Hari Ketujuh menunjuk kepada dua komponen kebenaran masa kini yang krusian yang tidak dapat dipisahkan: hukum dan Injil. [5] Yang tentunya sesuai dengan firman Tuhan yang mengatakan:
Wahyu 14:12 Yang penting di sini ialah ketekunan orang-orang kudus, yang menuruti perintah Allah dan iman kepada Yesus.
Marilah kita menjadi para pengikut Kristus yang menuruti firman ataupun perintah Allah dan yang percaya (iman) kepada Yesus serta melakukannya.
Tuhan memberkati 

Sumber : https://www.gerejaadventdhi.org

Renungan Pagi 6 April 2018

“POTRET KASIH ALLAH”
6 April 2018

Musik di Bait Allah

“Juga diangkatnya dari orang Lewi itu beberapa orang sebagai pelayan…TUHAN, Allah Israel dan menyanyikan syukur dan puji-pujian bagi-Nya…Yeiel yang harus memainkan gambus dan kecapi, sedang Asaf harus memainkan ceracap” (1 Tawarikh 16:4,5).

Bukan hal yang mengejutkan apabila Daud, “pemazmur yang disenangi di Israel” (2 Sam.23:1), sangat memperhatikan musik yang digunakan dalam menyembah Allah. Ia bukan hanya pemain musik istana yang berpengalaman (di istana Raja Saul, Anda ingat?) tapi juga seorang penulis lagu yang berbakat. Para ahli Perjanjian Lama mengaitkannya dengan terbentuknya kelompok musik Bait Allah.

Sejak zaman Perjanjian Lama, musik telah menjadi bagian dari ibadah penyembahan. Sejak saat itu menyanyikan lagu-lagu pujian atau memainkannya dengan alat musik telah menjadi bagian tak terpisahkan untuk menyembah dan memuji Allah, serta menambah kekhidmatan ibadah umat-Nya.

Musik yang dimainkan di Timur Dekat kuno mungkin terdengar aneh dan kurang harmonis bagi telinga kita. Tetapi penelitian baru-baru ini menemukan bahwa musik Timur Dekat kuno tidak sepenuhnya buruk bagi citarasa orang Barat (sebagai contoh, Anda dapat membuka situs: www.oeaw.ac.at/kal/mane/ [khususnya dengarkan RS h.6] atau www.mythinglinks.org/neareast.html [perhatikan Hurrian Hymn di bagian bawah situs ini].) Orang Yahudi bukan satu-satunya bangsa Timur Dekat yang menggunakan musik untuk mendukung ritual penyembahan mereka. Orang Mesir, Mesopotamia, dan Kanaan juga melakukannya. Apakah Anda tahu bahwa petikan musik paling awal yang diketemukan memiliki usia yang sama dengan abjad dalam bentuknya yang paling awal juga—sebuah lagu pujian kepada Nikkal, seorang dewi bulan?

Saat ini hampir tidak mungkin bagi seorang ahli arkeologi musik untuk mengetahui dengan tepat bagaimana bunyi musik timur Dekat kuno sebenarnya, tapi mereka mengetahui bahwa alat musik yang digunakan mencakup senar, tiupan, dan alat-alat perkusi. Diduga setidaknya beberapa musik religious ini memiliki irama ketukan yang kuat, yang membantu para penyembah untuk mencapai kondisi gembira yang luar biasa, seperti yang dialami Daud ketika ia menari di depan tabut sampai membuat malu Mikhal, anak perempuan Saul (2 Sam. 6:16), atau ketika Elisa meminta seorang pemain harpa untuk membantunya mendapatkan inspirasi (2 Raj.3:15).

Seperti dicatat sebelumnya, nampaknya Allah dapat menerima perbedaan budaya kita masing-masing, seperti juga ekspresi musikal kita dalam penyembahan. Jadi marilah kita bersikap lebih toleran terhadap mereka yang memiliki selera musik rohani yang berbeda dengan kita.

Wednesday, April 4, 2018

Renungan Pagi 5 April 2018


“POTRET KASIH ALLAH”
5 April 2018

Oh, Menjadi Seorang Suku Isakhar!

“Dari bani Isakhar orang-orang yang mempunyai pengertian tentang saat-saat yang baik, sehingga mereka mengetahui apa yang harus diperbuat orang Israel: dua ratus orang kepala dengan segala saudara sesukunya yang di bawah perintah mereka” (1 Tawarikh 12:32).

Tiba-tiba kita menemukan daftar nama-nama…lagi. Hanya saja, kali ini daftar nama tersebut tidak berupa daftar keturunan seperti sebelumnya, tapi berkenaan dengan orang-orang yang ditunjuk oleh Raja Daud untuk melayani bait suci—tenda yang dibangunnya sebagai rumah tabut perjanjian (dan kemudian menjadi pelayan Bait Allah yang dibangun oleh Salomo) dan untuk mengawasi administrasi pemerintahan.

Di pasal 12 kita menjumpai daftar nama prajuirt yang bergabung di sekeliling Daud sebelum dan sesudah ia menjadi raja. Konteks ayat hari ini terdapat dalam 1 Taw. 12:23: “Inilah jumlah pasukan bersenjata untuk berperang yang datang kepada Daud di Hebron untuk menyerahkan jabatan raja dari pada Saul kepada Daud.” Menurut perhitungan ini, suku Zebulon menyertakan prajurit paling banyak—50.000 orang (ay.33) dan suku Isakhar mengirimkan jumlah paling sedikit—200 orang.

Meskipun suku Isakhar paling sedikit secara kuantitas, kitab Tawarikh memuji-muji mereka sebagai: “orang-orang yang mempunyai pengertian tentang saat-saat yang baik, sehingga mereka mengetahui apa yang harus diperbuat orang Israel,” Sebuah rangkaian empat pembeda kata Ibrani yang menggambarkan dua karakteristik suku Isakhar seperti yang ditonjolkan oleh kitab ini.

Pertama, para pria suku Isakhar bisa membedakan waktu yang istimewa dalam hidup mereka. Mereka mengetahui bahwa ada waktu-waktu yang tidak berbeda dengan saat lainnya, yaitu saat-saat rutin—menjemukan. Tetapi ada saat-saat tertentu di mana situasinya berbeda dengan yang lain—sebuah kesempatan yang langka. Kemampuan untuk membedakan mana yang biasa dan mana yang luar biasa sangatlah penting. Tidak setiap orang mempunyai ketajaman untuk membedakan kedua saat tersebut.

Kedua, para pria suku Isakhar memiliki kearifan untuk mengetahui tindakan tepat yang harus dilakukkan pada saat-saat istimewa tersebut. Mereka tahu bagaimana harus mengambil tindakan. Tindakan istimewa untuk saat istimewa. Tidak cukup hanya mengenali keunikan sebuah situasi. Seorang bijaksana juga mengetahui bagaimana mengambil manfaat dari saat yang istimewa tersebut.

Betapa sering kita merasa gagal ketika harus memutuskan langkah terbaik apa yang harus diambil. Oh, menjadi seorang suku Isakhar—mengetahui apa yang harus dilakukan dan kapan harus melakukannya! Sungguh merupakan anugerah dari Allah sendiri, yang maha mengetahui.