Saturday, May 5, 2018

Renungan Pagi 6 Mei 2018



“POTRET KASIH ALLAH”
06 Mei 2018

Mazmur Gembala

TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku” (Mazmur 23:1).

Tidak ada ayat yang lebih populer ketimbang Mazmur pasal 23, kecuali barangkali Yohanes 3:16. Namun tidak diragukan lagi, mazmur gembala memang lebih menonjol dalam hal memberikan penghiburan. Sebagai pengembangan dari sebuah perumpamaan, bahasanya yang hidup bahkan memikat imajinasi pembaca masa kini—meskipun pada umumnya orang Barat tidak tahu apa-apa soal domba dan menggembalakan domba. Selain itu, memang sulit membayangkan ada mazmur lain yang lebih memancarkan perasaan yakin dan percaya dibandingkan yang satu ini. Itulah mengapa kita membacakan ayat-ayat ini saat seseorang menjelang ajal dan pada pemakamannya. Kata-kata “mazmur gembala” yang telah akrab di telinga kita sungguh membuat nyaman syaraf yang kusut dan perasaan yang remuk-redam. Mazmur 23 adalah contoh terbaik dari Bahasa afektif!

Gambaran Allah sebagai seorang gembala bukanlah konsep tentang makhluk asing seperti di masyarakat Timur Dekat kuno. Istilah gembala digunakan di beberapa orang raja di Timur Dekat kuno. Para firaun bangsa Hyksos di Mesir dikenal sebagai “raja-raja penggembala.” Mereka terkenal sebagai pemrakarsa kereta yang ditarik kuda dan busur panah tradisional di tanah Mesir. Di Mesopotamia para raja biasanya menyebut diri mereka “gembala”. Gilgamesh dikenal sebagai gembala dari Uruk. Juga di Sumeria, dewa Tammuz dan dewi Dumuzi juga masing-masing dikenal dengan nama gembala dari Uruk. Orang Yunani di kemudian hari melihat fungsi kepemimpinan yang baik dalam sosok seorang gembala. Namun selama masa para nabi, sosok gembala secara umum tidak lagi dihormati. Bahkan para rabi memandang mereka dengan curiga karena dianggap jorok dan susah diatur.

Tetapi tidak mengherankan bagi orang Yahudi kuno untuk memandang TUHAN dengan sebutan gembala, istilah yang ditujukan pada sosok yang lemah lembut dan sabar dalam menghadapi kesalahan orang. Allah menyediakan istirahat bagi kawanan domba-Nya. Ia memberikan mereka air dan makanan. Penulis syair ini merasa tidak kekurangan suatu apapun karena pemeliharaan yang sungguh dari TUHAN Gembala.

Kita berasumsi bahwa pemazmur menulis tentang hidup saat ini dan di sini, artinya syair tersebut bercerita tentang pemeliharaan Allah bagi umat-Nya saat ini. Tetapi almarhum Mitchell Dahood yang menulis komentar Anchor Bible tentang kitab Mazmur sebanyak tiga jilid, mengusulkan untuk menerjemahkan kata kerja dalam mazmur gembala dengan future tense. Ia berpendapat bahwa terminology di dalam Mazmur 23 berbicara tentang sukacita dunia yang akan datang dan syairnya menggambarkan bagaimana “TUHAN…akan membimbing kita melalui kejamnya dunia ini menuju sukacita abadi di Firdaus” (Psalms 1, hlm.145).


Friday, May 4, 2018

Renungan Pagi 05 Mei 2018


“POTRET KASIH ALLAH”
05 Mei 2018

Kebungkaman Allah

Mengapa Engkau berdiri jauh-jauh, ya TUHAN, dan menyembunyikan diri-Mu dalam waktu-waktu kesesakan?” (Mazmur 10:1).

Salah satu tantangan iman yang paling serius adalah ketika Allah membisu di saat kemalangan merundung mereka yang percaya kepada-Nya. Kita mengetahui beberapa dari janji-janji Alkitab yang menunjukkan bahwa Allah menjawab doa-doa—terutama mereka yang sedang jatuh dan terpuruk. Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru menekankan keberpihakan Allah kepada mereka yang tertindas. Kita dibimbing untuk percaya bahwa Allah telah menjawab doa kita bahkan sebelum kita mengucapkannya.

Namun mereka yang melayani Allah dengan setia seringkali menemukan diri mereka dalam kondisi tersebut di atas. Mereka pontang-panting di tepi jurang kebangkrutan. Lemari mereka seperti milik Mother Hubbard—kosong melompong. Anak-anak menangis kelaparan. Sebuah rumah terbakar menjadi abu, tak ada waktu untuk menyelamatkan apa pun. Angin topan menerbangkan sebuah mobil dan menghempaskannya ke tanah sejauh 1 mil. Pencuri membongkar sebuah rumah dan mengambil harta benda milik keluarga. Seorang ibu menderita kanker kulit dan meninggal, menjadikan seorang bayi, seorang balita, dan seorang remaja anak-anak piatu. Bisnis terjerembab ke dalam masa sulit dan selusin orang harus dirumahkan, termasuk seorang ayah, satu-satunya pencari nafkah keluarga. Para penggosip di gereja menyebarkan kabar burung tentang seorang penatua. Dan ini barulah daftar yang singkat!

Pemazmur mendapati dirinya dalam situasi yang sama dan meratapi kekejaman orang fasik. “Karena congkak orang fasik…dan orang yang loba mengutuki dan menista TUHAN” (Mzm. 10:2,3). Orang-orang fasik “duduk menghadang di gubuk-gubuk, di tempat yang tersembunyi…” (ay.8).

Tidak terlalu mengherankan ketika ia mengeluh kepada TUHAN. “Mengapa Engkau berdiri jauh-jauh, ya TUHAN, dan menyembunyikan diri-Mu dalam waktu-waktu kesesakan?” (ay.1). “Bangkitkah, TUHAN! Ya Allah, ulurkanlah tangan-Mu” (ay.12). Umumnya kita juga telah mengucapkan jeritan yang sama di saat-saat tertentu. Dimanakah Allah sebenarnya di saat kita membutuhkan-Nya? Kebungkaman Allah mulai menggerogoti gairah iman kita.

Di samping rasa frustasinya, pada akhirnya pemazmur merasa yakin bahwa suatu hari, entah bagaimana Allah akan menanggapi dengan positif. “Engkaulah yang melihat kesusahan dan sakit hati, supaya Engkau mengambilnya ke dalam tangan-Mu sendiri. Kepada-Mulah orang lemah menyerahkan diri: untuk anak yatim Engkau menjadi penolong” (ay.14). “TUHAN adalah Raja untuk seterusnya dan selama-lamanya. Bangsa-bangsa lenyap dari tanah-Nya” (ay.16). Tapi kapankah itu?

Dibutuhkan iman yang bulat untuk meyakini bahwa segala sesuatunya akan menjadi lebih baik karena Allah peduli. Teodisi, meskipun mungkin masuk akal, dapat terdengar kosong melompong, dan tidak mampu menjawab jeritan hati nan parau. Namun demikian, Allah melihat…dan peduli, bahkan di saat kita tidak merasakan kehadiran-Nya di sisi kita!

Thursday, May 3, 2018

Renungan Pagi 04 Mei 2018


“POTRET KASIH ALLAH”
04 Mei 2018

Gambar Allah

Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah” (Mazmur 8:6).

Mazmur 8 memuji Allah untuk kreativitas-Nya yang ajaib. Mengapa, bahkan “anak-anak yang menyusu” bernyanyi memuji-Nya (Mzm. 8:3). Sang penyair melanjutkan: “jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kau tempatkan (ay.4). Kemegahannya, terlebih di bawah terang pengetahuan astronomi masa kini, sungguh mempesona.

Lalu pemazmur melihat ke dalam dirinya: “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” (ay.5). pertanyaan yang wajar, bukan? Apakah nilai kita dibandingkan dengan alam semesta yang sangat luas ini? Dan jawabannya adalah… “Engkau telah membuat hampir sama seperti Allah” (ay.6).

Versi King James mengatakan bahwa kita manusia telah dibuat sedikit lebih rendah daripada malaikat-malaikat. Dengan pernyataan itu kita telah dibuat menjadi sangat berharga, bukan? Namun Bahasa Ibrani dalam ayat ini tidak menggunakan kata “malaikat.” Pemazmur justru menyatakan bahwa kita manusia telah dibuat sedikit lebih rendah daripada Allah. (Kata Ibrani yang dipakai adalah elohim, yang bersifat jamak; sedangkan versi The Message menggunakan kata “allah-allah”—tanpa huruf besar. Namun di seluruh Perjanjian Lama, bentuk jamak elohim secara tetap digunakan untuk Allah—satu-satunya makhluk Ilahi dan ditulis dengan huruf besar. Akhirnya, terjemahan New Revised Standard Version mengikuti Bahasa Ibrani: “You have made them a little lower than God.”) Hal tersebut menonjolkan pentingnya umat manusia sesuai dengan penegasan yang mengejutkan di dalam Perjanjian lama bahwa sang Pencipta membuat manusia menurut gambar-Nya.

Gambar Allah dalam kita menginvestasikan nilai bagi kita. Anda dan saya menyandang gambar-Nya memiliki makna etika perilaku. Itulah sebabnya Allah melarang pembunuhan—karena kita diciptakan sesuai dengan gambar-Nya (Kej.9:6).

Landasan perilaku moral ini jauh melampaui larangan membunuh. Ketika saya melihat Anda, saya melihat gambar Allah. Tentunya kemudian, saya mesti memperlakukan Anda secara hormat seperti saya bersikap kepada Allah. Tidak, tentu saja Anda bukan Allah, tapi Anda mengemban gambar-Nya. Jadi sudah semestinya saya memperlakukan Anda dengan rasa hormat dan kasih. Dan karena saya mengemban gambar Allah, tindakan terhadap Anda harus mencerminkan cara Allah yang penuh kasih kepada Anda. Jika gambar Allah yang tak kelihatan di dalam diri manusia dapat menuntun perilaku satu terhadap yang lain, seperti saya gambarkan di atas, bukankah dunia akan menjadi seperti surga di atas bumi?

Renungan Pagi 03 Mei 2018



“POTRET KASIH ALLAH”
03 Mei 2018

Sesuatu yang Disukai Allah

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik…yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh” (Mazmur 1:1).

Sebelum kita membahas ayat Mazmur ini, kita perlu mengingat bahwa kitab yang panjang ini seluruhnya terdiri atas syair. Selain itu, kita perlu mengingat sesuatu yang kita bahas saat membaca renungan tangal 24 April, saat kita berdiskusi tentang doa pembalasan yang ganjil dari Nehemia. Dalam renungan hari itu kita mengenal apa yang disebut “Bahasa afektif.” Barangkali Anda sudah lupa, ucapan afektif bermaksud untuk (1) membangkitkan emosi atau (2) mengungkapkan emosi. Jadi tujuan komunikasi afektif adalah bukannya masalah (pilihan) ini atau itu tapi mungkin masalah ini dan itu (kedua-duanya). Ucapan afektif bukan hanya menyalurkan perasaan tetapi juga menimbulkan perasaan.

Dan jika Anda ingat, syair termasuk contoh terbaik sebuah bahasa afektif. Penyair bukan hanya hendak menyuarakan perasaan mereka namun juga berharap menularkan rasa itu kepada para pembaca syair mereka. Dan karena ini adalah syair, tidak semestinyalah kita terlalu memeras sari teologis darinya. Kita perlu mencamkan hal ini di dalam pikiran ketika membaca kitab Mazmur.

Mazmur yang pertama, dengan bahasa yang hidup, membandingkan orang benar dengan orang fasik. Dalam terjemahan The Message—meskipun terjemahannya bebas, Eugene Peterson menangkap Bahasa grafis dari para pemazmur. (Ya, ada beberapa orang—bukan hanya Daud—yang menggubah syair di kitab Mazmur.)

Orang benar “kesukaannya ialah Taurat TUHAN” dan “merenungkan Taurat itu siang dan malam” (Mzm.1:2). Sebagai manfaat dari perenungan Firman Allah itu, mereka menjadi seperti pohon yang tumbuh subur “yang menghasilkan buah pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya” (ay.3). jaminan yang dinikmati oleh orang benar itu bertolak-belakang dengan nasib orang fasik. Mereka “seperti sekam yang ditiupkan angin” dan mereka “tidak akan tahan dalam penghakiman” (ay.4,5). Adapun tentang mereka yang mencintai Allah dan Firman-Nya, pemazmur menyimpulkan: “TUHAN mengenal jalan orang benar,” sedangkan, “Jalan orang fasik menuju kebinasaan” (ay.6).

Memang benar bahwa pemazmur di sini melebih-lebihkan perbandingan tersebut. Hal yang buruk pun, benar-benar, terjadi pada orang benar, dan banyak orang fasik yang tumbuh subur. Namun demikian, tujuan dari syair suci ini adalah untuk menyemangati orang benar agar tetap berpegang pada Alkitab dan menjauhkan orang fasik dari kefasikan mereka. Semuanya diingatkan bahwa Allah mengamati…dan menghakimi.

Renungan Pagi 02 Mei 2018



“POTRET KASIH ALLAH”
02 Mei 2018

Giliran Allah Bicara

Bersiaplah engkau sebagai laki-laki! Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku” (Ayub 38:3).

Setelah empat sahabat Ayub cukup banyak bercakap dan Ayub telah menanggapi segala pidato mereka dengan sanggahan yang panjang, Allah memutuskan bahwa sudah saatnya Ia bicara. Masalahnya, paparan dari Allah bukanlah sebuah penjelasan karena tidak Nampak ditujukan kepada masalah yang ada. Ayub menuduh Allah telah memperlakukannya, seorang yang tak berdosa, secara tidak adil. Sahabat-sahabat Ayub berpendapat (1) bahwa Ayub hanya benar dalam pandangannya sendiri; (2) bahwa ia sedang menikmati ganjaran yang sepantasnya; dan (3) bahwa Allah itu baik terlepas dari kesialan yang dialami Ayub. Karena itu, ia harus pasarah pada ajaran Allah yang hendak memperbaiki karakternya.

Terlepas apakah kita setuju atau tidak dengan pendapat mereka, nampaknya cara berpikir mereka sudah benar. Tetapi tanggapan Allah kepada Ayub tampaknya sama sekali tidak relevan. Apakah Allah “menangkap” maksud mereka?

Bukannya memberikan penjelasan terhadap bencana, penyakit, dan kematian yang sedang menderu Ayub, Allah hanya menyatakan betapa alam semesta adalah ciptaan-Nya. Selain itu, Allah dengan sarkastisnya berkata, “Di manakah engkau, ketika Aku meletakkan dasar bumi? Ceritakanlah, kalau engkau mempunyai pengertian!...tentu engkau mengenalnya, karena ketika itu engkau telah lahir, dan jumlah hari-harimu telah banyak!” (Ayub 38:4-21).

Pertama-tama Allah menantang tentang menutup gerbang lautan, membuat petir, dan membentuk bumi. Selanjutnya ceramah berganti tentang bintang-bintang. Ia berbicara tentang memberi makan singa, menyaksikan kambing gunung beranak, membebaskan keledai liar, menundukkan lembu hutan, dan memberikan tenaga kepada kuda. Ayub mengakui kekurangannya dan Allah terus menuturkan kuasa penciptaan-Nya. Ia bersabda tentang kuda nil ciptaan-Nya, yang belulangnya terbuat dari tembaga, dan buaya, yang menghembuskan uap dari hidungnya.

Dengan rasa malu, Ayub mengakui bahwa ia telah bercakap “tanpa pengertian” (Ayub 42:3). Lalu diakuinya, “dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu” (ay.6).

Para pelajar Alkitab telah mencoba untuk menjelaskan jawaban Allah yang tidak relevan itu, namun sulit menemukan pemecahannya. Barangkali, implikasinya menjadi seperti ini: Jika Allah secara pribadi terlibat dalam penciptaan alam semesta ini dan komit sepenuhnya pada makhluk-makhluk memesona di dalamnya, pastilah Ia akan lebih memperhatikan mereka yang diciptakan sesuai gambar-Nya. Yaitu Ayub…dan Anda… dan saya.

Renungan Pagi 01 Mei 2018


“POTRET KASIH ALLAH”
01 Mei 2018

Ada Suatu Alasan

Camkanlah ini: siapa binasa dengan tidak bersalah dan di manakah orang yang jujur dipunahkan?” (Ayub 4:7).

Di akhir minggu itu Ayub memecahkan kesunyian dengan sebuah gerutuan, “Biarlah hilang lenyap hari kelahiranku dan malam yang mengatakan: Seorang anak laki-laki telah ada dalam kandungan.” (3:3).

Dibuat kaget oleh celetukan Ayub, sahabat-sahabatnya mulai berceloteh, dan dimulailah sebuah percakapan panjang yang hampir mirip saling menuding antara Ayub dan sahabat-sahabatnya. Berapa lama percakapan itu berlanjut, kita tidak tahu. Tetapi yang jelas tidak seorang pun diam membisu lagi seperti sebelumnya. Pendapat dan sanggahannya saling dilemparkan, dan masing-masing melontarkan buah pikirannya.

Elifas melayangkan tegurannya, “Camkanlah ini: siapa binasa dengan tidak bersalah dan di manakah orang yang jujur dipunahkan?” (Ayub 4:7). Dalam pidato panjangnya Elifas bersikeras bahwa ada suatu alasan di balik penderitaan Ayub. Bencana, penyakit, dan kematian tidak datang dengan semena-mena. “Mungkinkah seorang manusia benar di hadapan Allah, mungkinkah seseorang tahir di hadapan Penciptanya?” (ay.17). Implikasinya tentu saja bahwa Ayub menderita karena ia bukanlah orang benar seperti yang dikira oleh semua orang. Dan ia memberikan sebuah nasihat selayaknya seorang kakak kepada Ayub: “Tetapi aku,  tentu aku akan mencari Allah, dan kepada Allah aku akan mengadukan perkaraku” (Ayub 5:8).

Berikutnya Bildad yang merasa terpaksa untuk berbicara, menunjuk apa yang diajarkan oleh sejarah. “Masakan Allah membengkokkan keadilan?... Jikalau anak-anakmu telah berbuat dosa terhadap Dia, maka Ia telah membiarkan mereka dikuasai oleh pelanggaran mereka” (Ayub 8:3,4). Katanya kepada Ayub, “Kalau engkau mencari Allah, dan memohon belas kasihan dari Yang Mahakuasa, kalau engkau bersih dan jujur, maka tentu Ia akan bangkit demi engkau dan Ia akan memulihkan rumah yang adalah hakmu” (ay.5,6).

Zofar menimpali dengan gagasan yang sama namun disampaikan secara berbeda. “Katamu:…aku bersih di mata-Mu. Tetapi, mudah-mudahan Allah sendiri berfirman, dan membuka mulut-Nya terhadap engkau” (Ayub 11:4,5).

Akhirnya Elihu—yang paling muda di antara empat sekawan itu yang muncul begitu saja secara tiba-tiba mengimbuhkan komentarnya, bahwa Allah telah mengirimkan penderitaan itu untuk memurnikan Ayub. “Dengan penderitaan ia ditegur di tempat tidurnya, dan berkobar terus menerus bentrokan dalam tulang-tulangnya” (Ayub 33:19). Dan Allah akan mendera hingga tiga kali untuk menyelamatkan manusia yang hendak dimurnikan-Nya (Ayub 33:29,30).

Kita semua telah mendengar penjelasan serupa tentang bencana, penyakit, dan kematian: “Ada suatu alasan.” Tetapi Allah berkata kepada sahabat-sahabat Ayub: “Kamu tidak berkata benar tentang Aku” (Ayub 42:8).

Sunday, April 29, 2018

Renungan Pagi 30 April 2018



“POTRET KASIH ALLAH”
30 April 2018

Sahabat-sahabat Ayub

“Lalu mereka duduk bersama-sama dia di tanah selama tujuh hari tujuh malam. Seorangpun tidak mengucapkan sepatah kata kepadanya, karena mereka melihat, bahwa sangat berat penderitaannya” (Ayub 2:13).

Dalam kesedihannya yang mendalam Ayub duduk di dalam debu, mungkin sebenarnya di tempat pembuangan sampah. Ayub secara harfiah memang telah menjadi sampah. Ia tidak hanya telah mengalami penderitaan emosional dan mental, tetapi juga menderita sakit secara fisik. Tidak seorang pun yang mengetahui penyakit apa yang dideritanya, meskipun beberapa orang menduganya sebagai luka melepuh atau luka bakar yang hebat. Lelehan yang keluar dari kulitnya dan koreng yang terbentuk minta digaruk, serangga bertelur di rekahan kulitnya dan belatung bermunculan, dan tubuhnya membengkak, mulutnya berbau, dan tulang-belulangnya sakit luar biasa sehingga ia tak mampu berdiri.

Istrinya pun tak banyak membantu. Ia menyemburkan cacian, “Kutukilah Allahmu dan matilah!” (Ayub 2:9). Dan Ayub menjawab, “Engkau berbicara seperti perempuan gila!” (ay.10).

Belakangan Elifas, Bildad, dan Zofar tiba untuk “mengucapkan belasungkawa kepadanya dan menghibur dia” (ay.11), mereka bahkan tak mengenalinya lagi dan menangis. Ketika mereka bergabung dengannya di tumpukan sampah, mereka mengoyak jubah dan menaburkan debu di kepala mereka—keduanya adalah kebiasaan orang Timur Dekat kuno untuk menunjukkan kesedihan.

Apa yang dilakukan oleh para sahabatnya kemudian membuat saya kagum, dan menghargai mereka karenanya. Selama satu minggu mereka duduk di sana bersama Ayub—siang dan malam di tumpukan sampah. Dan “seorangpun tidak mengucapkan sepatah kata kepadanya, karena mereka melihat, bahwa sangat berat penderitannya” (ay.13). di saat menderita, kita tidak menginginkan atau membutuhkan nasihat. Ucapan belarasa atau turut bersimpati seringkali terdengar seperti basa-basi…atau lebih buruk lagi.

Ketika ayah saya meninggal karena gagal jantung hanya beberapa minggu sebelum natal, saya menelepon anak lelaki saya di bandara sambil menunggu untuk naik ke pesawat yang menuju California. “Ron, semburku, “ayahku baru saja meninggal”.

Dan Ron tidak mengatakan..sesuatu pun. Selama beberapa menit yang terasa panjang saya tak mendengar apa-apa kecuali keheningan, sebelum ia berkata-kata. Keheningan Ron bermakna lebih bagi saya daripada seluruh kata-kata penghiburan dari orang lain, dan saya merenungkan reaksinya itu seraya pesawat Boeing 747 membawaku terbang ke California.

Kebanyakan kita (termasuk saya) sering bergegas ke tempat yang seperti kata pepatah “bahkan malaikat pun enggan ke sana.” Tanpa memikirkannya masak-masak, kita begitu saja memuntahkan kata-kata yang bila dianalisis sungguh tak berarti. Kita kerap gagal memahami betapa tanpa kata-kata—hanya diam yang bersahaja—dapat menyampaikan pesan lebih kaya ketimbang banjir kata-kata. Itulah penghiburan yang terbaik.

Saturday, April 28, 2018

Renungan Pagi 29 April 2018



“POTRET KASIH ALLAH”
29 April 2018

Allah yang Bersalah?

“TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayub 1:21)

Kata-kata di dalam ayat hari ini sungguh saleh, bukan? Tetapi apakah Ayub benar dalam hal ini? Ayub, orang yang takut akan Allah, berdoa setiap hari untuk keluarga besarnya. Selain memiliki tujuh orang anak lelaki dan tiga anak perempuan, dan harta benda pribadi lainnya, Ayub juga memiliki 7.000 kambing, 3.000 unta, 500 pasang lembu, 500 keledai betina, “dan budak-budak dalam jumlah yang sangat besar” (Ayub 1:3). Ia menikmati kehidupan yang baik.

Meskipun ia adalah orang yang saleh, Ayub tidak kebal terhadap bencana, penyakit, dan kematian, dan menjadi terkenal justru karena nasib buruknya. Dalam waktu sehari ia kehilangan seluruh lembu dan keledainya yang diambil oleh orang Syeba; seluruh kawanan kambing berikut para gembalanya disambar petir; orang Kasdim mengambil kawanan untanya; dan, meskipun ia sudah mendoakan anak-anaknya kepada Allah, angin rebut memorakporandakan rumah di mana anak-anaknya sedang berpesta. Dan seolah-olah hal itu belum cukup, segera Ayub sendiri terpuruk oleh “barah yang busuk dari telapak kakinya sampai ke batu kepalanya” (Ayub 2:7).

Penyakit, bencana, dan kematian menjadi momok yang menghantui Planet Bumi ini setiap hari. Beberapa di antaranya kita ketahui; namun kebanyakan terjadi di luar pengetahuan kita. Puluhan ribu orang di seluruh dunia mati setiap hari karena kelaparan. Puluhan juta, termasuk anak-anak, terkena AIDS, dan virus itu membunuh berjuta-juta orang setiap tahunnya. Di Amerika Serika saja ratusan hingga ribuan orang mati setiap tahunnya karena penyakit jantung, dan ratusan hingga ribuan orang lainnya mati karena kanker. Sekitar 100 badai tropis—angin topan dan hujan badai—melanda dunia setiap tahunnya, dan setiap tahun Amerika Serikat disapu oleh 1.200 angin topan. Di seluruh dunia, petir menyambar sekitar 100 kali setiap detiknya. Dan angka-angka ini hanya puncak dari sebuah gunung es.

Salah satu pandangan teori chaos mengatakan bahwa kupu-kupulah yang bertanggungjawab atas terjadinya angin topan—“butterfly effect”. (Teorinya, kepak sayap kupu-kupu di Perancis dapat menimbulkan serangkaian efek yang berpuncak pada terjadinya angina topan di Oklahoma.) Perusahaan asuransi biasanya mengelompokkan bencana alam di bawah kolom “Acts of God”. Namun kita belajar dari pembukaan kitab Ayub bahwa penyebab bencana beruntun yang dialami Ayub bukanlah Allah, melainkan “sang Iblis” (belakangan disebut Iblis saja, tanpa kata sandang). Jadi manakala kita berbicara tentang Allah sebagai penyebab bencana, penyakit, dan kematian, kita sedang mempersetankan Allah.

Friday, April 27, 2018

Renungan Pagi 28 April 2018



“POTRET KASIH ALLAH”
28 April 2018

Pemeliharaan oleh Tangan yang Tidak Kelihatan

“Supaya hari-hari Purim itu dirayakan pada waktu yang ditentukan, seperti yang diwajibkan kepada mereka oleh Mordekhai, orang Yahudi itu, dan oleh Ester, sang ratu” (Ester 9:31).

Pesta Purim orang Yahudi adalah perayaan Alkitabiah yang tidak didukung oleh perintah langsung dari Allah. Sabat mingguan, perayaan bulanan Rosh Chodesh (bulan baru), dan perayaan tahunan (seperti Paskah) dirayakan karena Allah secara langsung memerintahkannya. Tidak demikian halnya dengan pesta Purim, yang diadakan oleh Mordekhai dan Ester.

Ester adalah satu dari dua kitab di dalam Alkitab yang tidak menyinggung nama Allah. (Satunya lagi adalah Kitab Ratapan). Selain itu, kitab ini juga tidak merujuk pada suatu doa atau praktik religius lainnya. Yang paling dekat untuk dapat disebut latihan rohani hanyalah puasa yang dilakukan oleh Ester, yang tidak terlalu menonjol dari segi rohani, karena bahkan para pengikutnya yang menganut agama Zoroaster pun tidak mengeluh atau keberatan untuk melakukannya. (Puasa di kalangan orang Yahudi menunjukkan kedudukan atau sebagai rasa syukur, dan lebih merupakan sebuah perilaku sekular.)

Kitab Ester ini begitu sekularnya sehingga beberapa sarjana Alkitab mempertanyakan tempatnya di dalam Alkitab. Dan memang, konspirasi di istana dengan pelbagai trik dan tipuan membuat kitab Ester ini dibaca seperti sebuah cerpen: Raja Ahasyweros yang mabuk menyuruh ratunya untuk memamerkan kemolekannya di hadapan segerombolan pria yang mabuk; Ester, seorang gadis Yahudi, menghabiskan malamnya bersama sang raja, menyenangkan hati lelaki bejat itu; dua orang pengawal raja berkomplot untuk membunuh raja;  Haman, salah seorang pembantu raja yang paling dipercaya, merencanakan sebuah pembunuhan massal; Ester mempertaruhkan nyawanya dengan mengundang raja ke sebuah perjamuan—sebenarnya dua perjamuan; Haman yang anti-Yahudi itu juga diundang ke perjamuan, di mana Ester menunjuk hidungnya sebagai solusi pamungkas raja yang murka menemukan Haman sedang berlutut di kaki ratunya yang cantik untuk memohon pengampunan; Ahasyweros pun menuduh Haman hendak memperkosa ratu dan menjatuhkan hukuman gantung di tiang setinggi 25 meter yang dibuat oleh Haman untuk menggantung Mordekhai; maklumat pun dikeluarkan yang mengizinkan orang Yahudi membunuh musuh-musuh mereka dan menjarah harta milik mereka; dan Mordekhai serta Ester memulai sebuah perayaan yang berlangsung hingga hari ini sebagai sebuah pesta tahunan.

Hanya dengan mata iman para pembaca dapat melihat pemeliharaan Ilahi yang bekerja diam-diam di belakang akal bulus orang-orang Persia dan juga orang-orang Yahudi, persis seperti yang terjadi hari-hari ini. Tangan Allah yang penuh kebajikan tetap tersembunyi dari pandangan dan hanya dapat nampak oleh mata iman… di balik fakta yang kasat mata. Tangan pemeliharaan itu tersembunyi, namun ada di sana.

Thursday, April 26, 2018

Renungan Pagi 27 April 2018



“POTRET KASIH ALLAH”
27 April 2018

Hadiah yang Ditangguhkan

“Tetapi perkara itu dapat diketahui oleh Mordekhai, lalu diberitahukannyalah kepada Ester, sang ratu, dan Ester mempersembahkannya kepada raja atas nama Mordekhai. Perkara itu diperiksa dan ternyata benar, maka kedua orang itu disulakan pada tiang” (Ester 2:22,23).

Mordekhai menduduki posisi penting dalam pemerintahan Persia, dan ia selalu berada di dekat gerbang kerajaan. Di tempat umum seperti itu, seseorang dapat mendengar banyak kabar burung di samping kabar yang benar. Pada waktu itu, ketika Mordekhai duduk di pintu gerbang istana raja, sakit hatilah Bigtan dan Teresh, dua orang sida-sida raja yang termasuk golongan penjaga pintu, lalu berikhtiarlah mereka untuk membunuh raja Ahasyweros’ (Est.2:21).
Mordekhai melaporkan persekongkolan itu, menyelamatkan hidup raja, tetapi tidak menerima penghargaan resmi. Maka iapun melanjutkan tugas kesehariannya sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Hingga…

Kita tidak tahu berapa lama waktu berlalu, tetapi pada suatu malam raja gelisah di tempat tidurnya, ia tak kunjung terlelap. Akhirnya ia meminta “obat tidur”—dengan membaca dari Kitab Pencatatan Sejarah Pemerintahan.

Salah satu laporan yang dibacakan adalah mengenai kepahlawanan Mordekhai. Maka raja bertanya, “Kehormatan dan kebesaran apakah yang dianugerahkan kepada Mordekhai oleh sebab perkara itu?” (Est.6:3). Dan dijawab, “Kepadanya tidak dianugerahkan suatu apaun.” Tepat pada saat itu datanglah Haman, yang baru saja dinaikkan pangkatnya oleh raja dan dengan menggunakan cincin stempel raja telah menerbitkan perintah kerajaan untuk melakukan pembunuhan massal orang Yahudi. Misi Haman? Ia hendak mendapatkan izin untuk menggantung Mordekhai pada tiang setinggi 25 meter yang telah didirikannya.

Sebelum Haman menyampaikan permohonannya, raja bertanya kepadanya apa yang harus dilakukan kepada seseorang untuk menunjukkan penghormatan dari raja. Karena mengira kehormatan itu adalah miliknya, Haman memohon kepada raja agar mengenakan kepada orang itu jubah yang biasa dipakai raja, menaruh mahkota yang biasa dipakai raja dikepalanya, dan menaikannya di atas kuda yang biasa ditunggangi oleh raja, dan menyuruh orang untuk mengaraknya seperti pahlawan ke jalan-jalan. Raja menyukai gagasan tersebut dan menyuruh Haman untuk melaksanakan penghormatan itu bagi Mordekhai! Berbicara tentang keadilan!

Karena setiap kita memiliki ego—yang seorang lebih besar daripada yang lain—kita pun menginginkan pengakuan. Namun, janganlah kita memuji diri sendiri, meskipun bila tiba saatnya penghargaan itu tak kunjung datang. Tugas kita adalah memenuhi tanggung jawab kita, bahkan bila harus melakukannya tanpa diketahui orang.

Wednesday, April 25, 2018

Renungan Pagi 26 April 2018



“POTRET KASIH ALLAH”
26 April 2018

Kesimpulan yang Gegabah

“Karena kelakuan sang ratu itu akan merata kepada semua perempuan, sehingga mereka tidak menghiraukan suaminya” (Ester 1:17).

“Pada tahun ketiga dalam pemerintahannya, diadakanlah oleh baginda [Raja Ahasyweros] perjamuan bagi semua pembesar dan pegawainya; tentara Persia dan Media, kaum bangsawan dan pembesar daerah…berhari-hari lamanya, sampai seratus delapan puluh hari” (Est.1:3,4). Seolah-olah belum cukup, seusai pesta itu ia melangsungkan sebuah perjamuan lagi, dengan mengikutsertakan rakyat Susan sebagai tamu. Pesta ini berlangsung hanya satu minggu. Pada saat yang bersamaan, Ratu Wasti mengadakan perjamuan bagi para wanita di kerajaan.

Pada hari terakhir dari segala pertunjukan kemewahan ini, raja Persia berada dalam keadaan mabuk. Ia memerintahkan pembantu terdekatnya untuk “membawa Wasti, sang ratu, dengan memakai mahkota kerajaan, menghadap raja untuk memperlihatkan kecantikannya kepada sekalian rakyat dan pembesar” (ay.11).

Karena alasan yang tidak diketahui, ratu menolak undangan itu. Barang kali ia terlalu sibuk dengan perjamuan yang diadakannya untuk para wanita. Mungkin juga ia sedang sakit kepala. Tradisi rabinik menyebutkan bahwa sang raja menginginkan ratu tampil hanya dengan mengenakan mahkota saja. Tetapi tetap saja, penolakannya merupakan sesuatu yang sangat tidak lazim di dalam budaya patriarkal, di mana wanita tidak terlalu diperhitungkan dan para istri adalah harta milik suami mereka dan diharapkan untuk bersembah sujud kepada suami, yang kerap mereka panggil dengan sebutan “tuan.” Syukurlah kata “taat” sudah dibuang dalam janji perkawinan modern. Dan sangat membahagiakan bahwasanya di dalam masyarakat Barat yang sudah beradab, wanita bukan lagi termasuk “harta benda,” tapi dianggap sebagai rekan bagi pria.

Raja Ahasyweros memuncak amarahnya akibat penghinaan yang dilakukan di depan umum itu. Jelas sekali ratu telah mempermalukannya—dengan sangat. Untuk mengembalikan rasa hormatnya, ia berembuk dengan para penasihat terdekatnya, dan salah seorang dari mereka menjawab, “Wasti, sang ratu, bukan bersalah kepada raja saja, melainkan juga kepada semua pembesar dan segala bangsa yang di dalam segala daerah Raja Ahasyweros” (ay.16). lalu Memukan melanjutkan kesimpulannya yang gegabah itu dengan sebuah permohonan agar “Wasti dilarang menghadap Raja Ahasyweros, dan bahwa raja akan mengaruniakan kedudukannya sebagai ratu kepada orang lain yang lebih baik dari padanya” (ay.19). dan begitulah diputuskan oleh raja, yang untungnya masih mengampuni jiwa Ratu Wasti.

Meskipun hal semacam itu umum dijumpai pada masa kini, akan lebih baik jika kita dengan bijak berpikir dua kali sebelum mengambil kesimpulan yang gegabah, karena hal terebut cenderung membesar-besarkan akibat, yang sebenarnya tidak perlu membuat kita khawatir.

Tuesday, April 24, 2018

Renungan Pagi 25 April 2018



“POTRET KASIH ALLAH”
25 April 2018

Keadilan Sosial

“Maka terdengarlah keluhan yang keras dari rakyat dan juga dari pihak para isteri terhadap sesama orang Yahudi…’Ladang dan kebun anggur dan rumah kami gadaikan untuk mendapatkan gandum pada waktu kelaparan’…’walau kami ini sedarah sedaging dengan saudara-saudara sebangsa kami…namun kami terpaksa membiarkan anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan kami menjadi budak dan sudah beberapa anak perempuan kami harus membiarkan diri dimiliki orang.’” (Nehemia 5:1-5).

Situasi di Yehuda telah sampai pada titik didih. Kebutuhan finansial mendorong orang ke bibir jurang keputusasaan. Dan bisa jadi beberapa dari mereka telah terjatuh ke dalamnya!

Telah terjadi musibah kelaparan, dan untuk dapat bertahan hidup saja mereka harus menggadaikan rumah—tanah yang diberikan Allah untuk mereka—supaya mereka bisa membeli makanan. Dan yang menambah parah luka mereka, masih ada pajak yang harus mereka bayar kepada bangsa Persia atas tanah yang sudah mereka gadaikan itu. “Kami harus meminjam uang untuk membayar pajak yang dikenakan raja atas ladang dan kebun anggur kami” (Neh.5:4). Dan untuk mendapatkan makanan mereka harus menjual beberapa anak mereka menjadi budak. “Kami tidak dapat berbuat apa-apa,” begitu mereka mengadu kepada Nehemia.

Dan seolah semua itu belum cukup, para pemberi pinjaman uang dan pemegang gadai itu adalah orang sebangsa mereka—Yahudi, bukan “penduduk asli” dan bukan juga orang Persia. “Walaupun kami ini sedarah sedaging dengan saudara-saudara sebangsa kami dan anak-anak kami sama dengan anak-anak mereka,” protes mereka, “Namun kami terpaksa membiarkan anak-anak lekaki dan anak-anak perempuan kami menjadi budak” (ay.5). Bagi kebanyakan orang di Timur Dekat kuno, harta ekonomis mereka terdiri hanya atas dua hal tersebut.

Kondisi mengerikan yang dialami orang-orang di bawah pemerintahannya ini mengejutkan Nehemia. Ia memanggil para pemuka dan para penguasa, dan memarahi mereka, “Masing-masing kamu telah makan riba dari saudara-saudaramu!” (ay.7).

Apa jawaban mereka? Diam. Tidak ada jawaban. Mereka juga tidak mengaku bersalah. “Mereka berdiam diri karena tidak dapat membantah” (ay.8).

Nehemia melanjutkan, “Biarlah kamu kembalikan kepada mereka hari ini juga ladang mereka, kebun anggur, kebun zaitun dan rumah mereka, pula hapuskanlah hutang mereka” (ay.11).

Kebanyakan kita telah mendengar tentang kalangan pebisnis (beberapa di antara mereka orang Advent) yang memperoleh kekayaan mereka dengna memeras para pekerja mereka. Tetapi manusia bukanlah untuk dipakai atau dimanfaatkan. Kita tidak akan melakukannya kepada Allah, bukan? Kalau begitu, kita juga tidak akan melakukannya kepada mereka yang menyandang gambar Allah, benar?

Monday, April 23, 2018

Renungan Pagi 24 April 2018


“POTRET KASIH ALLAH”
24 April 2018

Berdoa untuk Apa?

“Balikkanlah cercaan mereka menimpa kepala mereka sendiri dan serahkanlah mereka menjadi jarahan di tanah tempat tawanan. Jangan Kaututupi kesalahan mereka, dan dosa mereka jangan Kauhapus dari hadapan-Mu” (Nehemia 4:4,5).

Kiprah pembangunan kembali Yerusalem dan bait suci-Nya bukanlah tanpa hambatan. Terjadi beberapa kemajuan dan kemunduran di dalamnya. Kadang-kadang hambatan muncul dari tingkah “orang-orang setempat”, dan terkadang rintangan datang dari perilaku orang-orang Israel sendiri. Apa pun sumber kemacetan itu, selain membuat kecewa para pemimpin, mereka juga menjadi frustasi.

Tetapi doa pembalasan Nehemia cukup mengagetkan kita. Ia berdoa agar hal-hal buruk terjadi pada lawan-lawannya. Ia bahkan memerintahkan Allah untuk tidak mengampuni mereka. Tidak terdengar seperti “cintailah musuhmu,” bukan? Bagaimanaka sebuah doa yang berisi kutukan seperti itu dapat dibenarkan? Dan memang, di bawah terang ajaran dan hidup Yesus, hal tersebut tidak dapat dibenarkan. Namun demikian, ada sesuatu yang harus kita mengerti di sini.

Kita menggunakan komunikasi—baik lisan maupun tertulis—dalam lima cara yang berbeda. Dan setiap jenis “ucapan” memiliki tujuannya yang khusus. Komunikasi informatif berisi nama-nama dan informasi. Ensiklopedia dan buku tahunan adalah contoh dari bahasa informatif. Komunkasi kognitif bertujuan untuk membagikan gagasan. Buku-buku teologi dan editorial menggunakan Bahasa kognitif. Komunikasi afektif membagikan dan membangkitkan emosi. Kartu ucapan, umpatan, dan rayuan adalah bentuk-bentuk Bahasa afektif. Komunikasi performatif menghasilkan tindakan. Peraturan dan perintah adalah jenis Bahasa performatif. Dan komunikasi Phatic adalah obrolan yang dapat menurunkan ke tegangan dan membangun kesetia-kawanan. Salam, ucapan selamat jalan, dan icebreaker adalah contoh-contoh Bahasa phatic. Tidak satupun dari jenis-jenis ucapan ini buruk, masing-masing cocok untuk saat yang tepat dan dalam situasi yang cocok. Kita perlu mengenali jenis bahasa yang digunakan agar dapat mengerti komunikasi yang terjadi.

Seperti dalam puisi dan lagu pujian, begitu pula dalam doa kita sering menggunakan Bahasa afektif. Sekarang kita dapat kembali ke Nehemia dan doa pembalasannya. Ia merasa frustasi dan melampiaskan kemarahannya kepada Allah. Dan Nampak bagi saya sendiri bahwa Allah menganggap serius Bahasa afektif kita (seperti saat kita marah dan mengoceh kepada Dia). Namun Ia tidak mengartikan bahasa kita secara harfiah. Ia mengetahui bahwa kita menggunakan Bahasa afektif untuk mengekspresikan sukacita saat kita bergembira dan kemarahan saat kita sedih dan kecewa. Dan para pelajar Alkitab yang cermat tidak akan membangun teologi dari apa yang terucap dalam sebuah komunikasi afektif.