Friday, May 18, 2018

Renungan Pagi 19 Mei 2018


“POTRET KASIH ALLAH”
19 Mei 2018

Penyombong
                               
Karena tiga hal bumi gemetar, bahkan, karena empat hal ia tidak dapat tahan” (Amsal 30:21).

Selama abad ke-13 Horatio Alger telah menulis 135 novel. Satu alur cerita yang menjadi hampir identic dengan namanya adalah ketika seorang bocah miskin, karena kejujuran dan etos kerjanya, “berhasil.” Kisah semacam itu membuat pembaca puas dengan keyakinan bahwa seorang “pecundang” yang jujur dapat bangkit dari keterpurukannya.

Jila hal seperti itu terjadi—dan kadang-kadang memang terjadi—ada sebuah sisi lain dari peristiwa “dari gelandang jadi orang kaya” tersebut. Tidak setiap orang bisa membawa diri dalam keberhasilannya, dan kepada merekalah Amsal 30:21-23 ditujukan dalam kata-kata: “Karena tiga hal bum gemetar, bahkan, karena empat hal ia tidak dapat tahan.” Penulis Alkitab mungkin bersalah karena telah menyama-ratakan, atau mungkin ia berbicara sesuatu secara sambil lalu. Namun demikian, kita umumnya barangkali telah menjumpai setidaknya satu dari tiga—bukan empat—contoh di bawah ini.

Contoh pertama adalah “seorang hamba, kalau ia menjadi raja” (ay.22). Seseorang yang terbiasa menyembah-nyembah karena posisinya yang rendah namun tiba-tiba, karena putaran nasib yang ironis, menempati posisi penuh kuasa, nampaknya akan mengalami perubahan kepribadian.

Kasus kedua yang serupa adalah “seorang bebal, kalau ia kekenyangan makan” (ay.22). Ungkapan ini menggambarkan seseorang yang biasanya kekurangan lalu secara tiba-tiba berkecukupan. Salah satu pernyataan untuk menggambarkan orang seperti ini adalah “orang kaya baru.”

Ilustrasi yang ketiga adalah ketika “seorang wanita yang tidak disukai orang, kalau ia mendapat suami” (ay.23). Perawan tua yang terkenal itu akhirnya menikah! Kita tak tahu mengapa ia melajang begitu lama, tetapi wanita yang sebelumnya tidak laku-laku itu akhirnya ada yang menyukai.

Contoh yang keempat berbicara tentang “seorang hamba perempuan, kalau ia mendesak kedudukan nyonyanya” (ay.23). Kisah Alkitab tentang Hagar benar, budak perempuan Sarai, tiba-tiba muncul dalam ingatan kita.

Malangnya, perubahan keadaan yang mendadak tidak selalu berakhir bahagia—paling tidak bagi mereka yang tetap di posisi rendah. Terlalu bayak orang kaya baru yang menjadi sombong. Kadang-kadang kita berasumsi bahwa mereka telah menjadi terlalu tinggi dan hebat di mata mereka sendiri. Namun yang benar adalah bahwa kesombongan mereka yang tak tertahankan itu muncul dari kurangnya rasa percaya diri, yang menjadikan mereka sasaran simpati bukan antipati kita.

Renungan Pagi 18 Mei 2018



“POTRET KASIH ALLAH”
18 Mei 2018

Ucapan yang Menyakitkan
                               
Orang yang menyanyikan nyanyian untuk hati yang sedih adalah seperti orang yang menanggalkan baju di musim dingin, dan seperti cuka pada luka” (Amsal 25:20).

Kebanyakan kita akan bersikap hati-hati bila berbicara dengan orang yang sedang sakit hati—mereka yang sedang bingung atau sedih. Namun terkadang, terlepas dari niat baik kita, komentar yang kita lontarkan sering menyakitkan ketimbang menghibur. Mungkin masalah adalah bahwa kita lupa untuk berpikir masak-masak sebelum membuka mulut dan bicara. Terlepas dari makna yang terkandung di balik kata-kata kita yang salah tempat itu dan dari niat baik kita, apa yang kita katakan dapat lebih banyak kesalahan ketimbang kebaikannya.

Dalam suatu kesempatan saya mengalami kesulitan di tempat kerja, dan mengadu kepada ayah saya. Setelah saya mengakhiri keluh-kesah saya, ayah, yang biasanya peka, memberikan nasihat. Sebenarnya, saya tidak meminta dinasehati; saya hanya hendak mencurahkan isi hati. Tetapi kata-kata ayah membuat saya merasa seperti “orang yang menanggalkan baju di musim dingin” dan terasa “seperti cuka pada luka”—membuat hati saya seolah menggigil kesakitan.

Seorang gembala pada pemakaman bocah berusia 4 tahun menenangkan orang tua almarhum, dan berkata, “Ini adalah kehendak Allah”. Di perjalanan pulang kata-kata itu berpilin di benak saya—“Ini adalah kehendak Allah” bahwa anak tak bersalah itu tenggelam? Sekali lagi, kata-kata yang ditujukan pada hati yang sakit dan jiwa yang resah itu membuat orang yang bersedih menjadi beku, karena gembala itu “seperti orang yang menanggalkan baju di musim dingin, dan seperti cuka pada luka”.

Orang bisa saja membela kata-kata semacam itu dengan menafsirkannya sebagai ucapan afektif (pengungkap emosi) dan bukannya ucapan kognitif (pernyataan teologis). Pengertian semacam itu dapat membantu. Namun demikian, komunikasi afektif semacam itu tidak bermanfaat dan dapat digolongkan sebagai “omong kosong,” yang ditentang oleh Yesus. Teologi yang tepat (ucapan kognitif yang benar) seyogianya menghasilkan ucaan belasungkawa yang baik (ucapan afektif yang efektif). Amsal 16:24 tepat pada sasarannya dengan mengatakan bahwa kata-kata yang pada tempatnya (kata Ibrani ini sering diterjemahkan “menyenangkan”) adalah seperti sarang madu.

Ketika kita melihat orang lain terluka emosi dan mentalnya, secara alami kita ingin mengatakan sesuatu untuk menolongnya. Tetapi terlalu sering kita menyemburkan kata-kata dari mulut kita, yang membuat kita seperti “orang yang menanggalkan baju di musim dingin, dan seperti cuka pada luka.” Demikian pula “orang yang berpengetahuan menahan perkataannya” (Ams.17:27).

Wednesday, May 16, 2018

Renungan Pagi 17 Mei 2018



“POTRET KASIH ALLAH”
17 Mei 2018

Hukum Fisik
                               
“Anakmu…tidak akan mati kalau engkau memukulnya dengan rotan. Engkau memukulnya dengan rotan, tetapi engkau menyelamatkan nyawanya dari dunia orang mati” (Amsal 23:13,14).

Singkirkan rotan dan rusaklah anak. Lebih sering ketimbang yang saya sadari, saya telah mencari di konkordansi dan di internet untuk mencocokkan pepatah itu dengan ayat-ayat Alkitab. Dan setiap kali saya gagal menemukannya. Tetapi pencarian di internet tidak gagal total. Pepatah itu ada di sana, tetapi tautannya ke Alkitab masih meragukan. Amsal 13:24 mengatakan: “Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya.” Cukup dekat, saya kira.

Sebagai seorang anak saya mendengar cerita-cerita dari orang dewasa tentang hukuman yang mereka terima dari orang tua. Seorang gembala bercerita tentang ayahnya yang menderanya untuk pelanggarannya di masa kecil. Ada gosip pula tentang seorang inspektur pendidikan konferens yang, ketika mengunjungi sekolah-sekolah gereja, menarik seorang anak nakal ke lorong sekolah dan memberikan pukulan di pantatnya. Hari ini, tentu saja, tindakan-tindakan semacam itu akan mengundang tuntutan hukum seperti cahaya pelita di malam hari mengundang ngegat.

Sebuah mufakat yang berkembang menolak pentingnya hukuman fisik, dan mencapnya sebagai bentuk kekerasan terhadap anak. Ketika orang dewasa memukul anak-anak, tindakan mereka mengajarkan bahwa “kekuatan selalu benar” dan kekerasan menjadi tindakan yang diperbolehkan. Beberapa studi telah menemukan bahwa hukuman fisik pada kenyataannya dapat memunculkan efek yang berlawanan—setidaknya akan menghasilkan sikap agresif (anti-sosial) pada anak-anak.

Di masyarakat Timur Dekat kuno, hukuman fisik dinilai bermanfaat. Banyak anak-anak (terutama anak lelaki) yang dipukulan dengan hebat sehingga meninggalkan bekas luka di tubuh mereka. “Memukul anak lelaki adalah seperti memberi pupuk di taman,” demikian bunyi sebuah amsal Mesir (Aramaic Proverbs of ahiqar [Versi Siria]). “Anda pukul bokongku, ajaranmu masuk ke telingaku” (Papyrus Lansing).

Barangkali akan membantu jika kita membedakan antara (1) konsekuensi, yaitu hasil alami berdasarkan sebab dan akibat (kanker paru akibat merokok); (2) disiplin, yaitu penanaman nilai-nilai dengan cara positif dan kadang negative (pembatasan waktu penggunaan kamar mandi); dan (3) hukuman, yaitu denda untuk kelakuan buruk (dan kurungan untuk pelanggaran hukum).

Guru bijaksana berkata, “Anakmu…tidak akan mati kalau engkau memukulnya dengan rotan” (Ams.23:13). Anak-anak telah mati karena terguncang atau akibat lainnya dari hukuman fisik yang dilakukan oleh orang-orang yang berniat baik. Kekerasan terhadap anak jangan pernah dikemas cantik sebagai disiplin.

Renungan Pagi 16 Mei 2018


“POTRET KASIH ALLAH”
16 Mei 2018

Hal-hal yang Dibenci Allah

Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya” (Amsal 6:16).

Umumnya orang memiliki hal-hal yang dibenci. Terkadang perilaku yang dibenci itu bukan suatu dosa dan bukan pula sesuatu yang mengganggu. Tapi adakalanya, perilaku yang dibenci itu dapat merupakan suatu gangguan yang serius. Namun demikian karena perilaku tersebut umumnya sepele, dalam renungan ini baiklah kita berbicara mengenai perilaku yang melanggar moral dalam pandangan Allah.

Berikut adalah tujuh perilaku yang dipandang melanggar dalam pandangan Allah. Lima yang pertama melibatkan anggota tubuh (dimulai dari kepala lalu ke bawah) yang dipakai untuk bertindak.
1.  “Mata sombong” (Ams.6:17). Secara harfiah, ayat ini berbicara tentang mata yang tinggi (angkuh). Dalam Yesaya 10:12 Allah menggunakan istilah yang sama untuk Sargon II, raja Asyur, yang telah menginvasi tanah Sion.
2.  “Lidah dusta” (ay.17). Di bagian lain Alkitab, ungkapan ini ditujukan untuk menyebut ajaran para nabi palsu (Yer.14:14) dan perilaku orang yang berkhianat (Mzm.109:2). Perilaku mereka berbicara lebih nyata ketimbang kata-kata.
3. “Tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah” (Ams.6:17). Seringkali pembunuhan dilakukan dengan tangan. Mengambil nyawa manusia adalah urusan serius karena masing-masing kita menyandang gambar Allah.
4. “Hati yang membuat rencana-rencana yang jahat” (ay.18). Penulis merujuk pada hati yang merancang kejahatan. Orang Ibrani memandang hati sebagai sumber dari kehendak (karsa), bukan emosi (rasa).
5.  “Kaki yang segera lari menuju kejahatan” (ay.18). Ada orang-orang yang bergegas dalam bertindak untuk mencelakakan orang. Ini bukan tentang kecelakaan yang tak disengaja, karena bagian sebelumnya dari ayat ini berbicara tentang niat untuk melakukan perbuatan yang mencelakakan itu—sebuah kejahatan yang direncanakan.
6.   “Seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan” (ay.19). Sumpah palsu secara khusus dianggap melanggar, dan dilarang dalam Sepuluh Perintah Allah (Kel.20:16).
7.  Seseorang yang “menimbulkan pertengkaran saudara” (Ams.6:19). Orang-orang teretentu memiliki gelar “pembuat masalah” karena selalu memicu perselisihan—bahkan di dalam keluarga sendiri ataupun dalam kelompok social. Tatkala mereka hadir nampaknya ketidakberesan—atau bahkan hal-hal yang lebih buruk—niscaya tak terelakkan.

Benang merah dalam rangkaian tujuh perilaku ini yang dipandang menjijikkan bagi Allah ialah bahwa mereka semua merusak hubungan sosial, dan mengoyakkan tatanan masyarakat.

Monday, May 14, 2018

Renungan Pagi 15 Mei 2018



“POTRET KASIH ALLAH”
15 Mei 2018

Kehancuran Karena Dosa

Padahal mereka menghadang darahnya sendiri dan mengintai nyawanya sendiri” (Amsal 1:18).

Salah satu tema besar di dalam kitab Amsal adalah bahwa orang bijak memilih hidup benar, sedangkan orang bodoh memilih kejahatan. Menurut kebijaksanaan yang telah diterima umum, hidup yang benar memiliki manfaatnya, sedangkan perbuatan jahat akan menghancurkan diri sendiri. Tema ini muncul di dalam pasal pertama Amsal.

Sang “anak” diperingatkan agar tidak bergabung dengan kelompok orang bejat. “Hai anakku, jikalau orang berdosa hendak membujuk engkau, janganlah engkau menurut” (Ams.1:10). Kata benda Ibrani yang diterjemahkan sebagai “orang berdosa” di sini adalah hatta’im, yang diterapkan kepada mereka yang memiliki kebiasaan untuk berbuat jahat. Isitilah tersebut dapat juga diterjemahkan menjadi “penjahat.” Mereka adalah orang-orang bejat yang kegemarannya adalah berbuat jahat.

Bisik-bisik yang disampaikan dan penuh bumbu mengasyikkan dari orang-orang ini bisa jadi akan sangat menarik hati bagi orang muda. Itu dapat menjadi umpatan bagi ego seseorang untuk bergabung dengan kelompok jiwa-jiwa liar tersebut. Dalam contoh Alkitabiah ini mereka berusaha menipu orang muda tersebut untuk masuk ke dalam persekutuan jahat mereka. “Marilah ikut kami…menghadang…orang yang tidak bersalah” (ay.11), bujuk mereka. Bahkan mereka berniat untuk membunuh korban (ay.12). Setelah menyerang orang yang lengah itu, mereka akan mebagi-bagi harta rampasannya. Ajak mereka, “kita akan memenuhi rumah kita dengan barang rampasan” (ay.13). Menjadi cepat kaya, intinya—tapi dicapai dengan cara melanggar hukum dan dengan kekerasan.

Anak-anak muda telah diperingatkan. “Hai anakku, janganlah engkau hidup menurut tingkah laku mereka, tahanlah kakimu dari pada jalan mereka, karena kaki mereka lari menuju kejahatan dan bergegas-gegas untuk menumpahkan darah” (ay.15,16). Ini bukanlah jalan yang seharusnya ditempuh orang muda. Meskipun tidak melibatkan pembunuhan, ajakan mereka akan mengakibatkan pelanggaran hak pribadi korban. Jika Anda pernah mengalami kecurian, maka Anda akan mengetahui bagaimana rasanya hak Anda dilanggar—meskipun secara fisik tidak. Setiap kejahatan pasti melanggar pribadi korban.

Lebih jauh lagi, perangkap yang dirancang oleh para penjahat itu—bahkan jika mereka berhasil menjalankan rencana jahat itu—akan menghancurkan diri sendiri. “Mereka menghadang darahnya sendiri dan mengintai nyawanya sendiri. Demikianlah pengalaman setiap orang yang loba akan keuntungan gelap, yang mengambil nyawa orang yang mempunyainya” (ay.18,19). Efek bumerang dari kejahatan ini mungkin tidak muncul scara langsung seperti dinyatakan oleh ayat ini. Namun demikian “pembuat kejahatan akan hancur sendiri oleh kejahatan yang diciptakannya” (Michael V. Fox, Proverbs 109, Anchor Bible, hlm.89,90).

Sunday, May 13, 2018

Renungan Pagi 14 Mei 2018


“POTRET KASIH ALLAH”
14 Mei 2018

Bimbingan Orang Tua

Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu, sebab karangan bunga yang indah itu bagi kepalamu, dan suatu kalung bagi lehermu” (Amsal 1:8,9).

Barangkali setiap budaya memiliki koleksi ungkapan petuahnya sendiri. Acapkali kita menyebutnya “amsal”—ungkapan singkat yang mudah diingat dan mengandung suatu kebenaran. Di Afganistan mereka berujar: “Jangan tunjukkan padaku pohon palma, tunjukkan kurma.” Di Tiongkok ada ujaran bahwa “seorang yang pintar mengubah masalah besar menjadi masalah kecil, dan masalah kecil menjadi tidak ada masalah.” Orang Mesir berujar: “Belajarlah sopan-santun dari orang yang tidak sopan.” Di Vietnam diujarkan bahwa “Makin tinggi engkau mendaki, semakin parah jatuhmu.” Dan di Zimbabwe orang suka berujar: “Seorang pengecut tak berparut.”

Masalahnya dengan pepatah-pepatah itu adalah meskipun mereka meringkaskan suatu kebenaran, namun hanya satu sisi dari kebenaran. Dan memang, amsal, meskipun benar adanya, dapat bertentangan satu sama lain.  Mungkin Anda pernah mendengar ibunda menasihati bahwa “Banyak tangan akan meringankan pekerjaan.” Dan apakah ayahanda berpetuah, “Terlalu banyak juru masak membikin kaldu rusak.”? Kedua ujar-ujar (yang bertentangan) itu benar, dan…kita menjumpai hal yang sama di dalam kumpulan amsal Alkitab. Amsal 26:4 memerintahkan: “Jangan menjawab orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan engkau sendiri menjadi sama dengan dia.” Nasihat bijak, bukan? Tetapi petuah berikutnya tepat kebalikannya: “Jawablah orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan ia menganggap dirinya bijak” (ay.5).

Di sepanjang kitab Amsal kita membaca nasihat yang baik mengenai bimbingan orang tua: “Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu” (Ams. 1:8), bandingkan Amsal 2:1; 3:1; 4;10; 5:1; 6:1,2; 7:1; dst). Sosok pemberi nasihat ini—seorang tua atau sosok yang berkuasa—tidaklah penting. Di sini kita menemukan kebijaksanaan yang disaring dan diwariskan dari generasi ke generasi. Orang bodoh akan menganggapnya hal sepele, tapi orang bijak—berapa pun usianya—akan menghargainya.

Kata Ibrani yang diterjemahkan sebagai “amsal” berasal dari kata benda mashal, yang merujuk pada perbandingan atau persamaan. Kita mungkin dapat menyebutnya tamsil atau kiasan. Sebagai contoh: “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang” (Ams.17:22).

Berhadapan dengan kebijaksanaan tradisionil, kitab Amsal menyodorkan sebuah tema besar: “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan (Ams.1:7); bdk. Ams.9:10). Takut akan Allah itulah yang dilakukan oleh orang bijak dan dihindari orang bodoh. Itulah sikap yang sebenarnya, membuat seseorang menjadi bijak.

Saturday, May 12, 2018

Renungan Pagi 13 Mei 2018



“POTRET KASIH ALLAH”
13 Mei 2018

Kelupaan Allah

Jika Engkau, ya TUHAN, mengingat-ngingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan?” (Mazmur 130:3).

Orang-orang di daerah Timur Dekat kuno memiliki ingatan yang panjang. Karena pribadi-pribadi dyadic yang membentuk masyarakat dan karena kehormatan menjadi sebuah kebutuhan penting bagi mereka (terutama kaum pria), pembalasan utang darah menjadi praktik yang umum untuk mempertahankan kehormatan keluarga. Dendam kesumat itu diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bahkan hari ini di banyak budaya, orang masih menaruh dendam untuk kesalahan yang dilakukan berabad-abad yang lampau. Pengampunan dalam budaya dyalic tidak dapat diperoleh dengan mudah.

Penulis Mazmur 130 menggambarkan TUHAN, bertolakbelakang dengan gambaran masyarakat di atas. Meskipun ada ayat-ayat tertentu yang membuat kita percaya bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, ada hal-hal tertentu pula yang tidak diingat oleh-Nya. Sebagai contoh, Ia tidak mengingat lagi dosa yang telah dilupakan-Nya. Dan di dalam ayat hari ini, kita belajar bahwa “jika…TUHAN, mengingat-ngingat kesalahan…siapakah yang dapat tahan?” Bahasa yang digunakan di sini menunjukkan bahwa Allah tidak menyimpan sampai anak cucu kesalahan seseorang—tentu saja dengan asumsi, bahwa orang itu mengakui dosanya.  Allah mungkin, seperti ditunjukkan dalam ayat-ayat lain di Alkitab, menyimpan catatan dosa-dosa, tetapi catatan itu tidaklah abadi. Menurut kitab Mazmur, meskipun Allah menjagai Israel (Mzm. 121:4), Ia tidak menyimpan catatan kesalahan mereka.

Karena sikap Allah maha pengampun dan belas kasihan-Nya yang selalu hadir—Ia tidak mengawasi dosa kita dengan saksama—kita menyembah Dia. “Pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang” (Mzm.130:4). Mazmur 86:5 menggambarkan TUHAN sebagai Allah yang “baik dan suka mengampuni”. (Kata kerja sallach yang berarti “mengampuni, jarang ditemui di dalam Alkitab, dan menarik sekali bahwasanya Perjanjian Lama hanya memakai kata itu untuk Allah. Hanya Allah yang mengampuni, bukan manusia.)

Demikian pula Mazmur 130 berakhir dengan nada tinggi. “Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel! Sebab pada TUHAN ada kasih setia, dan Ia banyak kali mengadakan pembebasan. Dialah yang akan membebaskan Israel dari segala kesalahannya” (ay.7,8).

Untuk orang-orang di dalam budaya yang gembar mengingat-ingat kesalahan dan melanggengkan permusuhan, gambar Allah yang dipotret oleh pemazmur di sini menjadi sebuah pengingat yang menggembirakan. Dan sesuai perintah Yesus berabad-abad kemudian, itu niscaya sangat bermanfaat untuk diteladani.

Friday, May 11, 2018

Renungan Pagi 12 Mei 2018



“POTRET KASIH ALLAH”
12 Mei 2018

Kepantasan Ibadah

Mazmur untuk korban syukur. Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi! Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai!” (Mazmur 100:1, 2).

Mazmur ke seratus ini adalah syair penyembahan singkat di dalam mana sang pemazmur bercerita kepada kita bagaimana umat Allah seharusnya menyebah di bait suci. Seluruh syair ini bertaburan nada dan irama.

Tempat-tempat penyembahan kuno, baik di Mesir, Mesopotamia, Kanaan, atau Israel, bukanlah tempat di mana para penyembah duduk mengikuti kebaktian. Bagi mereka duduk menjadi sesuatu yang sangat pasif. Para penyembah berdiri sepanjang ritus religi mereka. Teks Ibrani memang tidak menyebut jelas tentang posisi berdiri tegak tatkala menyembah Allah, tetapi Eugene Peterson beranggapan, tentu saja dengan tepat, bahwa berdiri adalah sikap yang biasa ditemui di dalam bait Allah.

Secara harfiah, ayat di atas menyentuh kita untuk datang ke hadirat Allah dengan berteriak. Kata Ibrani yang diterjemahkan “bersorak” memiliki arti mengeluarkan suara keras yang merujuk pada suara tanduk domba (shofar) yang ditiup, atau suara manusia yang nyaring, dan sering digunakan sebagai tanda kemenangan dan/atau sukacita.  Di dalam budaya Barat kita mengasumsikan bahwa sikap khidmat itu haruslah hening, tetapi orang Israel di Timur Dekat kuno menghargai suara yang keras sebagai bagian dari sikap penghormatan.

Selain itu, umat Allah mengungkapkan pemujaan mereka dengan sukacita. “Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita” (ay.2). Mereka juga diperintahkan oleh mazmur ini untuk “beribadah” kepada-Nya. Kata kerja ini datang dari kata benda Ibrani ebed, yang berarti “budak” atau “pelayan”. Cara untuk menunjukkan bakti kepada TUHAN adalah melalui kegembiraan—sukaria. “Datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai!” (ay.2). Kebaktian dan penyembahan ditunjukkan dengan sikap yang sama—sorak-sorai.

Allah berhak mendapatkan penyembahan yang penuh sukaria karena “Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembala-Nya” (ay.3). TUHAN bukan hanya Pencipta tetapi juga Pemelihara. Karenanya, rasa syukur mesti ditambahkan kepada kegembiraan yang memuncak di dalam menyembah “TUHAN” yang “baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun” (ay.5).

Meskipun konteks Mazmur 100 secara keseluruhan tentang bangsa Israel—nama Allah adalah YHWH, yang menciptakan satu bangsa, yang membuat perjanjian dan memelihara bangsa yang diciptakan-Nya itu, yakni keturunan Abraham—rasanya bukan sesuatu yang salah jika kita menerapkan kata-kata tersebut untuk diri kita. Para penulis Perjanjian Baru berbicara tentang perjanjian yang baru (atau diperbarui), yang mengikat kita di dalamnya.

Thursday, May 10, 2018

Renungan Pagi 11 Mei 2018



“POTRET KASIH ALLAH”
11 Mei 2018

Janji yang Diingkari?

Terpujilah TUHAN untuk selama-lamanya! Amin, ya amin” (Mazmur 89:53).

Kita banyak mendengar tentang keinginan Allah untuk memenuhi janji-janji-Nya, namun terkadang janji-janji tersebut Nampak kosong belaka—tidak ditindaklanjuti.. oleh Allah. Mazmur 89 mungkin dapat menjadi sebuah contoh untuk menjadi pegangan kita di kala kecewa dan mencerca Allah.

Etan, anak Kusaya, telah ditunjuk oleh Daud menjadi penyanyi, sekelompok dengan Herman dan Asaf. Bukan hanya menyanyi, mereka juga memainkan ceracap tembaga (1 Taw.15:19). Etan dikenal bijak, meskipun tidak menandingi kebijaksanaan Raja Salomo ( 1 Raj.4:30,31). Etanlah yang menulis mazmur ini.

Mazmur ini dibuka dengan pujian kepada Allah atas kasih-Nya. “Aku hendak menyanyikan kasih setia TUHAN selama-lamanya” (Mzm.89:2). Setelah itu pemazmur langsung beralih ke kuasa penciptaan Allah yang baginya menunjukkan kasih Allah. “Punya-Mulah langit, punya-Mulah juga bumi, dunia serta isinya Engkaulah yang mendasarkannya. Utara dan selatan, Engkaulah yang menciptakannya” (ay.12,13). Allah bukan hanya Pencipta yang penuh kasih tetapi juga dapat dipercaya. “Keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Mu, kasih dan kesetiaan berjalan di depan-Mu” (ay.15).

Selanjutnya pemazmur memuji-muji pilihan TUHAN atas Daud sebagai raja. “Pernah Engkau berbicara dalam penglihatan kepada orang-orang yang Kaukasihi, kata-Mu: ‘Telah Kutaruh mahkota di atas kepala seorang pahlawan… Aku telah mengurapinya dengan minyak-Ku yang kudus” (ay.20,21). Dengan kata lain Allah membuat Daud sebagai mesias—seorang yang diurapi. Lebih jauh lagi, Allah bersumpah, “Aku akan memelihara kasih setia-Ku bagi dia untuk selamanya, dan perjanjian-Ku teguh bagi dia. Aku menjamin akan adanya anak cucunya sampai selama-lamanya” (ay.29,30). Tapi janji Ilahi itu telah menguap tanpa bekas. Allah telah “membatalkan perjanjian dengan hamba-Mu, menajiskan mahkotanya laksana debu” (ay.40). “Di manakah kasih setia-Mu yang mula-mula, ya Tuhan, yang telah Kaujanjikan dengan sumpah kepada Daud demi kesetiaan-Mu?” (ay.50).

Dinasti Daud telah hilang. Masa keemasan telah berlalu. Kerajaannya tinggal reruntuhan. Orang-orang pilihan Allah diasingkan—sebagai tawanan perang. Apa yang telah terjadi? Ini sungguh merupakan sebuah krisis iman, dan mazmur 89 tidak menyajikan jawaban, tak sepatah katapun dari Allah yang telah berjanji begitu banyak—takhta selama-lamanya bagi keturunan Daud.

Lalu mazmur itu pun berakhir… dengan diamnya Allah. Namun diakhiri dengan sebuah pujian yang sama seperti pembukaannya. “Terpujilah TUHAN untuk selama-lamanya! Amin, ya amin” (ay.53). Ya, sungguh ini sebuah contoh doa.

Wednesday, May 9, 2018

Renungan Pagi 10 Mei 2018



“POTRET KASIH ALLAH”
10 Mei 2018

Allah yang Melakukannya?

Telah Kautaruh aku dalam liang kubur yang paling bawah, dalam kegelapan, dalam tempat yang dalam” (Mazmur 88:7).

Kita semua mengalami masa-masa baik dan buruk, dan rupanya hari itu adalah hari yang buruk—bahkan mungkin tahun yang buruk—bagi sang pemazmur yang mengutarakan isi hatinya kepada Allah. Kita tidak tahu yang sebenarnya. Yang kita tahu adalah si penyair merasa sebagai orang yang paling malang di saat ia menulis Mazmur 88.

“Ya TUHAN, Allah yang menyelamatkan aku, siang hari aku berseru-seru, pada waktu malam aku menghadap Engkau.” (Mzm.88:2). “Sendengkanlah telinga-Mu kepada teriakku; sebab jiwaku kenyang dengan malapetaka” (ay.3,4). “Aku telah dianggap termasuk orang-orang yang turun ke liang kubur; aku seperti orang yang tidak berkekuatan” (ay.5).

Darimana kesulitan-kesulitan berasal? Ia menjelaskannya dalam ayat kita hari ini. “Telah Kautaruh aku dalam liang kubur yang paling bawah, dalam kegelapan, dalam tempat yang dalam” (ay.7). Ingat, ia sedang bercakap dengan Allah. Ia sedang menyalahkan Allah, dari antara semua orang, untuk segala penderitannya. “Aku tertekan oleh panas murka-Mu, dan segala pecahan ombak-Mu Kautindihkan kepadaku” (ay.8). lebih jauh lagi, karena Allah pula, pemazmur telah ditinggalkan oleh sahabat-sahabatnya. “Telah Kaubuat aku menjadi kekejian bagi mereka” (ay.9).

Apakah teologi yang dianut pemazmur sudah benar? Apakah kesulitannya datang langsung dari Allah? Apakah Allah yang menimpakan nasib itu kepadanya? Apakah Allah marah kepadanya? Apakah Allah sumber penderitaan umat manusia? Memang ada ayat-ayat Alkitab yang menempatkan Allah sebagai penyebab segala akibat, bahkan segala kekejian—bencana, penyakit, dan kematian. Namun berdasarkan ayat-ayat lain mengenai kasih Allah yang sempurna dan kudus, kita boleh mengambil kesimpulan bahwa penulis yang terinspirasi sedang berusaha untuk mempertahankan keutuhan monoteisme dengan cara menghubungkan semua kejadian baik maupun buruk kepada satu-satunya Allah.

Apabila sang pemazmur menggunakan bahasa kognitif dalam menulis syairnya, kita harus menerimanya mentah-mentah sebagai teologi yang menyalahkan Allah. Seperti Anda ketahui, kita menggunakan bahasa kognitif untuk menyampaikan gagasan—filsafat, teologi. Tetapi mazmur adalah syair, dan syair bukanlah bentuk percakapan kognitif. Syair menggunakan bahasa afektif, yang berguna untuk mengungkapkan (dan membangkitkan) emosi. Dan Allah dengan murah hati telah mengizinkan kita—bahkan para penulis suci-Nya—untuk menyalurkan rasa frustasi kita, tanpa menghukum kita, atau membinasakan kita, terlepas dari betap menghujatnya ucapan afektif yang kita gunakan. Akan tetapi kita harus berhati-hati, agar saat menggunakan kata-kata afektif itu, kita tidak mempersalahkan Allah. Itu adalah teologi yang sesat.

Tuesday, May 8, 2018

Renungan Pagi 09 Mei 2018



“POTRET KASIH ALLAH”
09 Mei 2018

Pengendalian Diri Allah

Tetapi Ia bersifat penyayang, Ia mengampuni kesalahan mereka dan tidak memusnahkan mereka; banyak kali Ia menahan murka-Nya dan tidak membangkitkan segenap amarah-Nya” (Mazmur 78:38).

Pemazmur mengingat kembali tiga hal di dalam mazmur 78—apa yang Allah lakukan untuk bangsa Israel, apa yang mereka lakukan sebagai balasannya, dan lalu apa tanggapan Allah. Ini adalah syair yang panjang karena perbuatan Allah bagi umat-Nya dan tanggapan suram mereka pun banyak. Kita tidak memiliki cukup halaman untuk membahas semuanya. Dari semuanya ada, “puji-pujian kepada TUHAN dan kekuatan-Nya dan perbuatan-perbuatan ajaib yang telah dilakukan-Nya” (ay.4) dan bangsa Israel yang adalah “angkatan pendurhaka dan pemberontak, angkatan yang tidak tetap hatinya dan tidak setia jiwanya kepada Allah” (ay.8). Akhirnya, ada murka-Nya yang diiringi oleh pengampunan-Nya yang murah hati.

Perbuatan Allah—Pemeliharaan Allah untuk bangsa Israel, umat-Nya yang patut dikenang. “Dilakukan-Nya keajaiban-keajaiban, di tanah Mesir,…dibelah-Nya laut, diseberangkan-Nya mereka” (ay.12,13). Allah menyuruh “umat-Nya berangkat seperti domba-domba, dipimpin-Nya mereka seperti kawanan hewan di padang gurun” (ay.52). “Ia…menurunkan kepada mereka hujan manna untuk di makan, dan memberikan kepada mereka gandum dari langit” (ay.23-24). “Dipilih-Nya Daud, hamba-Nya… Ia menggembalakan mereka dengan ketulusan hatinya” (ay.70-72).

Tanggapan bangsa Israel—Terlepas dari kebaikan Allah kepada umat-Nya, “mereka mencobai dan memberontak terhadap Allah, Yang Mahatinggi, dan tidak berpegang pada peringatan-peringatan-Nya” (ay.56). “Mereka tidak berpegang pada perjanjian Allah dan enggan hidup menurut Taurat-Nya” (ay.10). “Mereka terus berbuat dosa terhadap Dia” (ay.30). “Mereka masih saja berbuat dosa dan tidak percaya kepada perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib” (ay.32).

Tanggapan Allah—Kadang-kadang Allah menghukum ketidaksetiaan mereka. “Mereka menyakiti hati-Nya dengan bukit-bukit pengorbanan mereka, membuat Dia cemburu dengan patung-patung mereka” (ay.58). Tetapi lagi dan lagi Ia memaafkan mereka (ay.21-27). “Banyak kali Ia menahan murka-Nya dan tidak membangkitkan segenap amarah-Nya” (ay.38).

Sungguh bangsa Israel adalah orang-orang yang tegar tengkuk! Kendatipun Allah telah memberkati dan menegur mereka, terus saja mereka berbuat dosa. Namun demikian, Allah terus saja mengampuni mereka!

Tetapi kita tidak seharusnya juga bersikap terlalu keras terhadap mereka. Karena nampaknya kitapun melakukan hal yang sama… dan mendapatkan perlakuan murah hati yang sama dari Allah. Mengapa? Karena, dijawab oleh pemazmur: “Ia ingat bahwa mereka itu daging, angin yang berlalu, yang tidak kembali” (ay.39).

Renungan Pagi 08 Mei 2018




“POTRET KASIH ALLAH”
08 Mei 2018

Kesejahteraan Orang Fasik

Sebab aku cemburu…melihat kemujuran orang-orang fasik” (Mazmur 73:3).

Kitab Mazmur dibuka dengan gambaran tentang orang benar dan orang fasik. Di satu sisi, orang benar seperti pohon yang ditanam di tepi sungai yang tak berhenti mengalir. Mereka pun tak hentinya berbunga dan menghasilkan buah, musim demi musim. Di lain sisi, orang fasik seperti kulit sekam yang diterbangkan angin dari bebijian dan terbuang saat ditampi.

Teologi yang disajikan dalam Mazmur 1 adalah apa yang boleh disebut “teologi ulangan,” karena filosofi yang sama disajikan dalam gambaran yang rinci di sepanjang kitab Ulangan. Orang baik berkembang di bawah anugerah Allah, sementara orang fasik lisut dan layu di bawah kutuk-Nya. Cara pandang ini memang sangat masuk akal…bahkan hingga saat ini… sampai…

Bukan rahasia lagi bahwa terkadang (barangkali lebih sering daripada tidak!) ada pemutar-balikan peran yang mengejutkan. (Rabi Harold Kushner menulis sebuah buku laris berjudul When Bad Things Happen to Good People = Ketika Hal-hal Jelek Menimpa Orang-orang Baik.) Inilah tema utama yang didiskusikan di kitab Ayub. Ayub tidak dapat mengerti mengapa orang tak berdosa seperti dirinya dapat mengalami begitu banyak kemalangan. (Bahkan kitab ini dibuka dengan pernyataan bahwa ia adalah orang baik. Allah sendiri yang membanggabanggakannya: “Sebab tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan” (Ayub 1:8). Tetapi sahabat-sahabat Ayub menyampaikan tuduhan keras dan panjang lebar bahwa pasti ada suatu alasan di balik penderitaan Ayub. Ia pasti telah melakukan sesuatu yang menjijikkan dan harus bertobat. Kemudian barulah Allah akan mengampuninya dan mengubah kemalangannya menjadi sebuah berkat.

Dalam ayat hari ini penyair yang terinspirasi itu bergumul dengan disonansi kognitif, yakni suatu keruwetan mental, emosional, dan spiritual yang dialami seseorang tatkala dalil teologisnya tidak sesuai dengan pengalaman hidupnya. Teori menyatakan satu hal, tapi pengalaman hidup meruntuhkan teori itu. Kita dapat memilih satu dari beberapa sikap dalam menghadpai disonansi kognitif. Kita dapat mengulang-ulang teori itu dengan suara nyaring. Tanpa mempedulikan ketidaksesuaian dalil dan kenyataannya. Kita dapat juga melepaskan teori itu, dan kehilangan kepercayaan kita padanya. Atau kita dapat meninjau ulang itu bukti-bukti dan menyesuaikan teori, sambil tetap memelihara iman kita.

Pemazmur pada akhirnya memilih yang terakhir. Ia tetap memelihara kepercayaannya kepada Allah sambil juga mengakui bahwa ada teori yang tidak sesuai—setidaknya dalam jangka pendek. Bagaimana pendapat Anda?

Sunday, May 6, 2018

Renungan Pagi 07 Mei 2018



“POTRET KASIH ALLAH”
07 Mei 2018

Lagi, Mazmur yang Mengutuk

Orang-orang yang membenci aku tanpa alasan lebih banyak dari pada rambut di kepalaku…Biarlah mereka dihapuskan dari kitab kehidupan, janganlah mereka tercatat bersama-sama dengan orang-orang benar!” (Mazmur 69:5-29).

Apakah arti kata terakhir dalam judul renungan kita hari ini—“Mengutuk”? Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kita menemukan kata kerja “mengutuk” artinya mengatakan (mengenakan) kutuk, memohon kesusahan atau bencana menimpa seseorang. Dan terdapat cukup banyak syair semacam itu di dalam Mazmur. Dalam gejolak emosi mereka, para pemazmur menyalurkan perasaan mereka, berharap bukan yang terbaik tapi yang terburuk menimpa lawan-lawan mereka. Sebenarnya kita semua juga barangkali pernah mengalami perasaan-perasaan seperti itu.

Mengucap berkat atau kutuk di dalam masyarakat Timur Dekat kuno adalah hal yang serius, karena ada anggapan bahwa akibat yang diharapkan itu akan benar-benar terjadi. Ini berarti bahwa berkat atau kutuk adalah contoh-contoh Bahasa performatif. Asumsinya adalah bahwa ada kuasa di dalam kata-kata—ucapkan dan tunggulah sementara berkat atau kutuk menjadi kenyataan. Mengutuk di zaman Alkitab juga hal yang serius—lebih serius ketimbang sumpah serapah seorang tukang kayu kepada martil yang melesat dan mengenai jempol tangannya. Tukang kayu itu tahu di dalam hatinya bahwa kutukannnya tidak akan berakibat apa-apa.

Penulis Mazmur 69 sedang frustasi. Segala sesuatunya tidak berjalan sesuai keinginannya. Nampaknya lawan-lawannya berada di atas angin. “Dengan kecapi peminum-peminum menyanyi tentang aku” (ay.13). di manakah Allah? “janganlah sembunyikan wajah-Mu…, sebab aku tersesak; segeralah menjawab aku!” (ay.18). “Biarlah mereka dihapuskan dari kitab kehidupan, janganlah mereka tercatat bersama-sama dengan orang-orang benar!” (ay.29).

Akan tetapi…bagaimana bila harapan pemazmur itu disandingkan dengan ucapan Yesus di kayu salib: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk.23:34).

Kontras ini terutama membentur kita karena banyak orang yang menganggap Mazmur 69 sebagai mazmur mesianik karena ayat 21 yang berbunyi: “Pada waktu aku haus, mereka memberi aku minum angur asam,” yang terjadi di Golgota. Tapi dari keseluruhan konteks Mazmur 69, kata-katanya tidaklah seirama dengan ucapan Yesus. Bahkan natarator mengakui bahwa, “Kesalahan-kesalahanku tidak tersembunyi bagi-Mu” (ay.6).

Pelampiasan emosi dari pemazmur ini dapat dimengerti, tapi sungguh berlawanan dengan ajaran dan teladan Yesus—yang memang lebih mudah untuk diucapkan ketimbang dilakukan, namun itulah yang harus dicapai oleh seorang Kristen.